Menulis Itu Sejenis Terapi

Benarkah kegiatan menulis itu seperti halnya terapi yang melegakan jiwa?

Saya percaya bahwa menulis memang terapi yang manjur. Oleh karena saya kurang suka menulis buku diari (coba sambil bayangkan menorehkan “Dear Diary…” di selembar kertas pada buku), saya pun menuangkannya melalui blog.

Mengapa menulis itu seperti terapi? Sederhana penjelasannya. Seperti halnya berbincang kepada orang lain secara lisan, tulisan menyampaikan apa yang dirasakan dan dipikir. Begitu tercurah, umumnya ada perasaan, sedikit atau banyak, lega.

Tentu hal yang sifatnya sangat pribadi tak perlu dituliskan untuk dibaca oleh khalayak umum. Begitu juga nada-nada yang terlalu sumbang, vulgar dan memalukan; tak perlu diumbar. Tulis saja yang sifatnya netral. Lebih bagus bila yang pada akhirnya membuat hal positif menular.

Menulis itu melegakan karena bukankah manusia perlu membagi apa yang ada dalam pikirannya. Entah kepada orang lain atau kepada suatu medium. Contohnya ya seperti diari Anne Frank. Yang awalnya hanya untuk ditulis bagi dirinya sendiri namun kemudian dinikmati oleh banyak orang dari penjuru dunia. Diari yang memberi inspirasi bahwa betapa sulitnya hidup, sosok gadis kecil itu tetap kokoh berdiri untuk meneruskan hidupnya.

Dan terus terang, setiap kali saya berhasil mengunggah sebuah postingan, ada rasa plong yang melegakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s