Ritme Lagu yang Menghentak

Dulu saya selalu protes dalam hati pada berbagai radio yang menyiarkan lagu dengan beat cepat dan keras di pagi hari. Entah itu lagu rock atau semacamnya. Mengapa lagu-lagu tersebut harus membuat orang segera bangun. Mengapa bukan lagu yang santai dan menyejukkan.

Alasannya sederhana. Agar para pendengar mendapat semangat lalu cepat-cepat melakukan aktivitas mereka. Bukannya malah mendapat lullaby yang membuat mereka tertidur lebih lama di pembaringan. Lalu, kehilangan pagi hari yang penuh enerji. Bijaksana, bukan?

Dan saya pun sekarang mulai menyukai ritme lagu yang menghentak. Apapun itu. Baik saya mengerti liriknya atau tidak. Yang penting, beat yang kuat dan cepat membuat detak jantung saya terpacu dengan lebih cepat. Aliran darah lebih lancar. Mungkin adrenalin pun ikut beredar. Membuat hidup lebih bergairah.

Selain itu, mood yang loyo pun bisa berubah menjadi good mood. Lebih senang. Lebih bergairah. Lebih ingin melakukan lebih banyak aktivitas. Dan akhirnya, jadi lebih happy. Lagu yang pas memang jadi bikin hidup lebih semangat. Nah, siapa yang menjadi DJ-nya? Tentu kita sendiri. Bisa memilih lagu mana yang pas untuk setiap saat dalam kehidupan kita.

Jadi lagu seperti apa yang ingin Anda pilih? Yang menye-menye dan bikin termehek-mehek? Romantis dan manis sehingga perasaan melambung dan berbunga-bunga? Atau malahan yang ritmenya menghentak dan bikin semangat? Pilihan ada di tangan masing-masing. Tentu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Transaksi di Pagi Hari

Pagi hari ke pasar. Saya melihat gairah para ibu-ibu yang berusaha menawar harga sayuran atau ikan. Tak kalah semangat, para penjual pun berusaha mendapatkan harga yang lebih pantas. Yang satu ingin barang bagus dengan pengorbanan uang sesedikit mungkin. Satunya lagi, harapkan menjual barang dengan keuntungan sebesar mungkin. Seru!

Kejadian tersebut tentu berulangkali terjadi. Sesuatu yang normal. Ya, itulah kehidupan. Transaksi menjadi sebuah bagian dari kehidupan di pasar tersebut di pagi hari. Setelah siang, semuanya menghilang. Tak lagi ada aktivitas kecuali pembersih pasar yang sibuk membuat pasar tak menjadi kotor.

Oleh karena waktu mereka terbatas di pagi hari, baik pembeli dan penjual semua ingin menuntaskan aktivitas dengan cepat. Dengan demikian, komunikasi dan transaksi berjalan cukup cepat. Penjual ingin sesegera mungkin menghabiskan stok jualan mereka. Para pembeli, yang kebanyakan para ibu-ibu, juga ingin mendapat kebutuhan mereka dan segera pulang ke rumah.

Saya dengar bahwa banyak dari ibu-ibu itu yang ‘menikmati’ kegiatan tawar-menawar. Yang juga diselingi dengan bercanda, menggosip atau sekedar omong-omong ringan dengan tetangga mereka begitu juga dengan penjual langganan mereka. Toh, para penjual tak hanya sekedar berbisnis. Mereka juga senang dengan berinteraksi dengan para pembelinya. Bahkan banyak dari mereka yang saling kenal setelah bertahun-tahun lamanya bertemu dengan pembeli langganan mereka.

Transaksi di pagi hari itu merupakan hal yang biasa. Namun terlihat ada gairah kehidupan di sana. Untuk bekerja mendapatkan uang. Untuk berusaha mendapatkan kebutuhan hidup. Ada transaksi berarti ada gairah kehidupan. Bikin hidup lebih hidup.

Suasana Pasar di Pagi Hari

Sebenarnya saya termasuk orang yang menyukai aktivitas pagi hari. Suka dengan segarnya udara di awal hari. Banyak enerji positif yang terpancar dari sinar mentari pagi. Sayangnya, akhir-akhir ini jarang bangun pagi. Kesiangan karena tidur cukup larut malam. Namun, pagi ini saya sukses bangun pagi. Bila saya turuti badan untuk berbaring lebih lama di ranjang, pasti kesiangan lagi. Jadi saya putuskan untuk langsung bangun dan berjalan-jalan di luar.

Saya pergi ke Redhill Market. Pasar yang terletak dekat dari tempat saya tinggal. Jarang saya ke pasar pada pagi hari. Hari ini berbeda. Saya melihat banyaknya aktivitas di pasar. Wet market. Ada yang jual ikan, sayuran, dan berbagai kebutuhan dapur. Tak hanya itu, ada juga orang yang berjualan di flea market dan menjual barang bekas berbagai macam. Tentu banyak pembeli yang asyik bertransaksi dengan para pedagang.

Di bagian belakang pasar, ternyata ada pengamen tua yang mainkan gitar modifikasi yang cukup bisa hadirkan melodi yang menghibur. Lalu, ada toko yang menjual keperluan untuk Hungry Ghost Month. Bulan di mana banyak orang, umumnya keturunan Tionghoa, ‘mengirim uang dan barang-barang’ leluhur mereka di alam fana; dengan cara membakarnya disertai serangkaian doa. Barang yang dijual berbentuk seperti uang (mirip dengan uang Monopoly), mobil kertas hingga tas ‘Louis Vitton’ yang juga terbuat dari kertas.

Nah, pergi ke pasar kurang lengkap bila tak menyantap sajian di sana. Satu set breakfast pun saya pesan. Roti bakar kaya, dua buah telur rebus dan teh tarik. Sembari menikmati apa yang terjadi di sekeliling pasar tersebut. Dus saya pun mendengar banyak percakapan sambil lalu. Tak paham dengan yang mereka ucapkan karena kebanyakan dalam Cantonese. Yang jelas kelihatannya mereka bercakap-cakap dengan semangat. Apapun itu.

Saya pun lalu berusaha merangkum apa yang terlihat di pasar pagi itu. Semangat hidup. Itu yang saya tangkap. Mereka sudah melakukan berbagai aktivitas di awal hari. Berusaha secepat mungkin agar semuanya selesai sebelum siang yang terik menggantikan kesejukan pagi hari. Dan rupanya saya tertular dengan semangat hidup mereka. Menyusuri daerah sekitar pasar untuk berjalan-jalan ringan.

Kerja Keras

Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa banyak orang bekerja sangat keras. Lebih keras dari yang bisa saya bayangkan dan lakukan.

Mulai dari orang-orang yang bekerja di food center yang selalu sibuk memasak di kios mereka yang panas karena memang kecil dan dekat dengan kompor tanpa ventilasi yang memadai. Para sales person yang berdiri seharian di dekat gedung perkantoran dan stasiun kereta bawah tanah meski kerap ditolak banyak orang. Pengangkut barang yang dengan sigapnya mengantar barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka semua memang bekerja keras dan masih saja memiliki kehidupan yang keras.

Tak jauh beda, para artis yang sering tampil di acara televisi memang kelihatannya berduit dan terkenal namun harus melakukan berbagai aktivitas seharian penuh tanpa istirahat yang cukup. Mulai dari sesi pemotretan, menghadiri talk show, latihan vokal atau tari yang dilanjut dengan shooting berjam-jam. Demikian juga para atlet tersohor peraih medali yang harus berlatih seharian penuh, mengatur makan dengan diet yang tak ramah lidah dan tinggal di dormitory yang peraturannya ketat.

Semua orang bekerja dengan gigihnya. Tak semuanya sukses. Namun mereka terus mencoba tanpa menyerah. Lelah? Tentu saja. Yang mereka punyai adalah visi ke depan. Lagipula, meski kelihatannya hidup mereka ‘sangat melelahkan’, toh, mereka juga menikmatinya. Memahami bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari kehidupan mereka. Mereka sudah memilih jalan mereka.

Lalu terbersit sebuah pemikiran. Kalau saja mereka sanggup menjalani tapak hidup yang penuh perjuangan, mengapa saya tak berjuang segigih mereka dan lebih suka mimpi di siang bolong? Apakah saya memang tak minat hidup seperti mereka? Malas?

Hari Sabtu di Perpustakaan

Tadinya saya duga di hari Sabtu tak akan banyak orang yang bertandang ke perpustakaan pusat di dekat Bugis. Bakal sepi dan enak untuk melewatkan hari di sana.

Kebalikan dari perkiraan, ternyata terlalu banyak orang yang hadir di sana. Hingga tempat duduk pun hampir tak tersisa. Saking banyaknya yang datang, beberapa nampak pasrah duduk di lantai. Yang penting bagi mereka adalah bisa beraktivitas di perpustakaan.

Jadi entah apapun harinya, sepertinya perpustakaan menjadi tempat favorit untuk belajar dan mengerjakan hal lain-lainnya. Banyak juga yang membawa laptop atau pun tablet untuk mengakses kerjaan mereka.

Melihat kejadian seperti ini rasanya jadi pengin memiliki tempat belajar bersama. Terbayang sebuah Rumah Belajar. Di mana para pembelajar atau siapa pun itu bisa nikmati fasilitas pembelajaran yang memadai. Ada akses internet, kondisi yang kondusif, tempat yang tenang, meja yang bersih dan banyak orang dengan semangat yang sama untuk maju.

Rumah Belajar. Itu salah satu impian saya. Hmm… Semoga terlaksana suatu hari nanti.

Rencana dan Pukulan

Sebuah kutipan yang dikatakan oleh Mike Tyson benar-benar menohok. Sederhana namun pas di sasaran.

“Everybody’s got plans… until they get hit”

Hmm. Benar juga. Sebagus apapun rancangan yang sudah diatur sedemikian rupa pun bisa menguap dengan cepat ketika halangan yang tak dikira datang. Panik. Kalang-kabut.

Namanya juga aral melintang. Bila kejadian seperti itu datang, ya, berusahalah yang terbaik supaya ‘pukulan’ itu tak sampai membuat kita KO. Bagaimana bila sampai jatuh? Ya, bangkit lagi. Lalu berjuang sebaik mungkin. Berusaha berdiri sekuat tenaga.

Apakah sebaiknya tak usah memiliki rencana sama sekali? Jelas tidak. Tanpa rencana apapun bakalan Anda KO tanpa harus dipukul oleh siapapun. Tetap miliki rencana namun cepat beradaptasi dengan aksi yang cepat dan tepat.

Mari tetap membuat rencana, tetap semangat dan siap menyambut tantangan di depan.