Toastmasters

Dulu saya kira Toastmasters itu semacam orang yang pandai bikin toasted bread. Lebih kurang berkaitan dengan tata boga. Ternyata bukan. Alih-alih makanan, ternyata suatu klub yang menjadi tempat orang-orang berlatih berbicara dengan lebih baik. Dari dulu penasaran. Hmm… Jadi ingin tahu seperti apa Toastmasters karena memang dari dulu terobsesi supaya bisa berbicara dengan lebih baik lagi.

Dangerous Liaisons, Ketika Cinta Menjadi Mainan

Film Dangerous Liaisons versi terbaru yang tayang di tahun 2012 ini membawa pesan yang jelas. Jangan main-main dengan cinta. Playboy tersohor pun jatuh dalam penyesalan karena tak becus mengetahui mana cinta yang sejati dan yang bukan. Wanita cantik yang sukses mempermainkan orang lain kehilangan segalanya. Sedangkan seorang wanita lugu yang terjebak permainan cinta justru menemukan arti cinta yang sesungguhnya.

Jang Dong-gun memainkan lelaki pencinta banyak wanita, Cecilia Cheung perankan wanita pengusaha yang licik, dan Zhang Ziyi menjadi janda yang akhirnya menemukan cintanya. Yang membuat film ini tambah menarik adalah gambar latar belakang kota pelabuhan Shanghai yang memukau. Lengkap dengan cantiknya bangunan arsitektur kuno yang mendapat pengaruh Barat, kereta trem yang melintasi kota, mobil antik yang menelusuri jalanan yang selalu dipenuhi orang yang berjalan. Selain itu ada juga penampilan sekilas wanita-wanita telanjang yang menjadi ‘korban’ gairah sang playboy.

Saat menonton film ini, sebagian besar penonton mungkin sudah bisa menduga arah ceritanya ke mana. Pasti ada tragedi saat cinta dijadikan mainan. Coba bila para tokohnya tidak sedemikian jahat, pasti semuanya mendapat apa yang mereka sangat inginkan dalam hidup mereka. Yaitu, cinta sejati. Sayangnya, hukum Karma cepat atau lambat akan berlaku bagi tiap orang; baik itu karma baik atau sebaliknya.

Akhir dari kisah permainan cinta ini pun berakhir dengan semestinya. Yang menyadari arti cinta akan mendapatkan sesuatu yang berharga. Sebaliknya, yang tidak menghargainya akan kehilangan semuanya. Silakan tonton sendiri. Dan sekali lagi, jangan main-main dengan cinta. Hargai cinta dengan saling membagi dan menerimanya. Bahagia pun kan datang dengan sendirinya.

Four Wheel Luggage

Baiklah, ini dia jawaban dari tantangan menulis blog dengan Bahasa Inggris. Isinya menyoal traveling. Semoga bisa terus berjalan seperti blog Munggur ini. Judul blog ini adalah Four Wheel Luggage. Terima kasih untuk beberapa orang yang sudah memberi asupan semangat agar saya berani menulis blog dengan Bahasa Inggris.

Menengok Kembali Definisi Bahagia

Kita sepakat bahwa masing-masing individu memiliki definisi bahagia yang berbeda-beda. Bahkan pada individu yang sama, definisi bahagia pun bisa berubah. Perjalanan hidup yang berliku, pemahaman baru dan pengalaman yang mencerahkan membuat arti mengenai bahagia berkembang lebih lanjut. Bahkan bisa bertolak-belakang 180 derajat dari definisi sebelumnya.

Dengan terus mencari arti bahagia, semoga harapannya bisa lebih mudah memahami bagaimana cara mendapatkannya dan kemudian menikmatinya saat berhasil mewujudkannya. Untuk Anda yang ingin menambahkan Definisi Bahagia menurut versi Anda, silakan menuliskannya di laman Definisi Bahagia. Tak perlu sungkan. Tuliskan apa adanya.

Perangkat itu Bernama Jam

Alat untuk mengetahui detik, menit dan jam itu bernama Jam. Bentuknya bermacam-macam sesuai keberadaannya. Jam tangan, jam meja atau jam dinding. Sekarang ini juga sudah jamak memakai ponsel pintar untuk melihat jam.

Saya punya rasa ketertarikan dengan jam saku. Jam yang biasanya memiliki rantai untuk ditautkan di baju. Biasanya jas. Seperti di film-film tempo doeloe. Dipikir lebih jauh, rasanya tak berguna karena jam tersebut tak praktis. Toh, ada jam tangan. Dan jam tangan pun sekarang bisa digantikan dengan jam di ponsel.

Sampai sekarang saya masih setia memakai jam tangan Alba sederhana pemberian dari kantor tempat saya bekerja. Meski kadang tertarik untuk membeli jam tangan baru yang mencuri hati saya karena desainnya yang apik dan mengesankan. Di samping itu, saya masih memiliki jam tangan baru yang tak pernah saya gunakan. Begitu pula jam tangan lawas kepunyaan bapak saya yang termasuk jam kinetik yang harus disinkronkan tiap saat; yang tak dipakai karena pengikatnya sudah rusak berat.

Omong-omong tentang desain jam tangan, saya menyukai jam tangan yang desainnya sederhana. Memperlihatkan angka, baik dengan angka Latin atau Romawi, dengan jelas. Dengan form factor yang tipis dan ringan. Dengan pengikat tangan terbuat dari metal, bukan dari bahan kulit yang bikin keringat dan bisa berjamur. Merek tak jadi soal. Yang penting sederhana. Bukan jam tangan yang sensasional atau menonjol karena glamor.

Bila ditanya alat apa yang paling sering saya pakai untuk melihat waktu, saya bisa memastikan bahwa saya paling sering menggunakan iPhone tua saya. Fitur gratis yang bisa digunakan kapan pun saya perlu. Lama-lama saya makin jarang melihat jam dari jam dinding atau jam tangan.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda masih memakai jam tangan? Sering melihat waktu dari jam meja atau jam dinding?

Peek dan San Francisco

Sebuah situs perjalanan bernama Peek baru saja dirilis. Menampilkan berbagai daftar aktivitas dari suatu lokasi wisata dengan gambar yang memukau dan uraiannya yang singkat dan informatif. Salut untuk para pembuatnya.

Saat mengulik halaman demi halamannya secara acak, saya temukan beberapa ulasannya yang membuat saya teringat dengan memori indah saat berkunjung ke San Francisco. Melihat kota yang indah tersebut dari langit, menyusuri penjara pulau yang penuh sejarah, dan melintasi jalanan naik turun dengan Segway. Unforgettable moment! Sesuatu banget.

Bersyukur bisa menikmati secuil pengalaman tersebut. Juga bersyukur masih bisa mengingatnya dengan jelas. Masih berharap untuk bisa merasakannya lagi suatu saat nanti. Bila tidak, semoga bisa menikmati pengalaman lain yang seindah atau lebih indah dari itu di masa depan.

Saat ditanya ‘apa yang bisa didapat dari sebuah perjalanan’? Jawabnya sederhana. Sepotong pengalaman yang menyenangkan. Sensasi. Bukan sesuatu yang bisa ditakar dengan nominal. Tapi sesuatu yang hanya bisa dicecap dengan segenap panca indra bagi jiwa yang selalu penasaran dengan apa yang ditawarkan oleh hidup.

Cinta Seribu Tahun

365 hari setara dengan satu tahun. 100 tahun sama dengan 1 abad. Kalau 1000 tahun berarti ya 10 abad. Tak terkira berapa lama itu 1000 tahun. Karena sungguh susah bagi manusia untuk membayangkan seribu tahun, tak aneh bila banyak ungkapan atau lagu yang memakai kurun waktu tersebut untuk membuatnya dramatis.

Termasuk lagu yang semestinya sedang populer karena sering diputar di berbagai stasiun radio saat ini. Judulnya A Thousand Years. Dinyanyikan oleh Christina Perri. Mungkin populer karena catchy. Mungkin pula karena menjadi soundtrack Twilight. Sesuai karena vampire hidup ratusan tahun.

Berikut potongan refrennya. “I have loved you for a Thousand years, I’ll love you for a Thousand more”. Romantis kedengarannya bagi banyak orang terutama para gadis remaja. Sayangnya bagi saya itu terlihat bombastis. Mencintai seseorang dalam kurun waktu yang lama itu sesuatu yang berharga. Patut diacungi jempol. Tapi ribuan tahun? Rasanya mustahil karena ya manusia hidup tak lebih dari seratus tahun. Kurang dari sepuluh persen dari A Thousand Years. Anyway, saya suka ritme lagunya yang enak didengar.

Daripada susah-susah memikirkan tentang perasaan cinta yang tahan lama berabad-abad, lebih mudah bagi saya untuk membayangkan Telur Seribu Tahun. Century egg atau Pidan. Rasanya enak terutama bila disajikan langsung dari lemari pendingin. Jadi kangen untuk mengudapnya. Tapi ngomong-ngomong tentang Seribu Tahun, apakah Anda termasuk orang yang percaya dengan Cinta Abadi seperti itu?