Obsesi Manusia dengan Waktu

Manusia bisa mengukur berapa lama suatu hal berlangsung. Apapun itu. Memasak makan malam 30 menit. Menonton film berdurasi satu jam setengah. Bekerja selama 5 hari dan punya waktu berlibur selama 2 hari dalam satu pekan. Perlu waktu sekira 9 bulan dari embrio hingga terlahir menjadi bayi. Rentang waktu manusia dari lahir hingga menjelang ajal sekitar 60 tahun atau 100 tahun (bagi yang cukup beruntung). Ukuran waktu bukan ditemukan. Tapi dibuat oleh manusia. Coba bayangkan apa yang dipikirkan oleh insan manusia (pada jaman pra-sejarah) sebelum satuan waktu dibuat dan disepakati bersama.

Dengan kemampuan mengukur waktu maka manusia menjadi terobsesi untuk merencanakan hidupnya dan mengambil tindakan sesuai patokan waktu yang dibuatnya. Kapan harus belajar, bekerja, menikah, punya anak, dan persiapan sebelum game over karena waktunya sudah habis di dunia ini. Bukti bahwa waktu menjadi sangat penting bagi umat manusia bisa ditemukan dengan banyaknya buku yang membahas tentang Waktu.

Ada buku tentang time management. Intinya lebih kurang bagaimana menggunakan 24 jam secara efektif. Tentu ada buku yang menentangnya dengan berbagai teori ‘menikmati waktu’ dibanding mengejar Sang Waktu. Bahkan ada pula buku yang membahas tentang paradoks waktu, time machine, dan anomali waktu. Sebagai contohnya, silakan ulik 7 Must-Read Books on Time.

Istilah yang berkaitan dengan waktu pun bermunculan. Ada yang melegakan. Ada pula yang bikin resah gelisah. Seize the Day! Make the Day when the Sun shines. Time is Money. Time flies like an arrow. Coba ulik Quotations about Time. Masing-masing individu punya perspektif yang berbeda-beda pula tentang Waktu. Kemarin saat mengunjungi toko buku Kinokuniya, saya mendapati kata-kata terkait waktu di sebuah sampul buku. Saya lupa judul bukunya tapi kata-katanya menggelitik.

Man alone measures time. Man alone chimes the hour. And, because of this, man alone suffers a paralysing fear that no other creature endures. A fear of time running out.

Ya, kalimat terakhir itu yang bikin merinding. A fear of time running out. Ketakutan yang terpicu karena terobsesi dengan Waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s