Life of Pi

Ceritanya sederhana. Setelah kapal yang ditumpangi tenggelam karena terhempas badai, Pi bertahan hidup bersama seekor macan dari Bengal di sebuah perahu penyelamat. Berbagai tantangan datang dan mereka sanggup menghadapinya bersama-sama. Hingga akhirnya mereka mendarat di pantai Meksiko.

Namun film yang dibesut oleh sutradara kenamaan Ang Lee tersebut ingin menyampaikan sebuah pencarian manusia akan Tuhannya. Pi, yang terlahir di India dan begitu lahir langsung otomatis beragama Hindu, mendapatkan pengalaman beragam dalam keingintahuannya akan Sang Pencipta. Mempelajari Yesus Kristus yang menebus dosa manusia dari gereja Katholik. Merasakan damai ketika melakukan shalat dan mendengarkan suara Adzan. Hingga mendapatkan pengalaman nyaris mati dan menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Sang Khalik tanpa harus menyematkan suatu nama atau organisasi keagamaan saat terkatung-katung di tengah samudera.

Penggambaran filmnya unik. Penuh humor yang segar. Diwarnai dengan pemandangan yang memukau dari teknologi Computer Generated Image. Dan mampu memberikan sebuah contoh bagaimana seorang insan manusia menemukan Tuhannya tanpa kesan menggurui. Pantas ditonton karena bisa menggelitik keinginan mencari kebenaran yang sesungguhnya.

Bahasa Inggris dan Sains

Sebuah artikel bertajuk Hapus Bahasa Inggris dan Sains agar siswa SD punya soft skill membuat saya mengelus dada. Bagaimana bisa dua mata pelajaran tersebut dihilangkan dari kurikulum pendidikan? Banyak orang bahkan segera berkomentar bahwa apa yang dikatakan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut sangat ngawur. Soft skill jelas penting bagi pendidikan siswa. Namun apakah harus meniadakan Bahasa Inggris dan Sains?

Coba lihat di banyak negara lain di mana soft skill diajarkan oleh orang tua masing-masing, lembaga keagamaan yang dianut masing-masing siswa, dan tentunya lingkungan sekitarnya. Jadi bukan melulu tanggungjawab sekolah.

Justru dengan menghilangkan pelajaran bahasa asing yang jamak digunakan oleh kalangan internasional dan bisa dipakai untuk menyerap ilmu dalam bahasa asing; justru menghambat kemampuan siswa berinteraksi dengan dunia global dan mendapat berbagai ilmu yang berguna.

Sedangkan pelajaran sains justru merangsang siswa untuk mengulik lebih banyak tentang fenomena di alam semesta. Lagipula banyak cabang ilmu yang memerlukan pondasi yang kuat di pengetahuan sains.

Alih-alih membuat siswa mendapatkan lebih banyak soft skill, sekolah-sekolah malah bisa membuat anak muridnya menjadi gagap ketika berbicara dengan orang asing dan terlambat untuk mengembangkan minat terhadap sains. Mau dibawa ke mana generasi anak muda? Sekedar menjadi tenaga kerja bagi pabrik-pabrik Penanaman Modal Asing? Pembantu yang dikirim ke negara-negara lain? Sungguh mengherankan bagaimana ada pejabat negara bisa membuat proposal kebijakan yang kurang nalar. Mungkin karena lemah di pelajaran sains.

Matematika

Masih saja saya tak suka dengan matematika. Perlu dipelajari karena memang berguna dalam kehidupan sehari-hari sekaligus melatih mental dan kedisiplinan. Tetap saja saya ‘trauma’ dengan matematika. Tak hanya saya seorang. Banyak orang yang sudah keder bila harus menghadapi persoalan yang membutuhkan kemampuan matematika.

Katanya, Salman Khan melalui Khan Academy mampu menyampaikan pengajaran matematika dengan cara yang menyenangkan dan mudah diikuti. Saya jadi tertarik. Baiklah, sepertinya harus dicoba. Banyak testimoni yang membilang mereka tak lagi takut dengan matematika setelah mengikuti video pengajaran melalu website tersebut.

Hmm, matematika…

Khan Academy

Belajar gratis? Silakan ulik Khan Academy. Pelajaran disampaikan dengan cara yang menyenangkan, bisa dipelajari dengan kecepatan belajar masing-masing dan bisa diulang-ulang bila perlu. Asalkan ada koneksi Internet, ilmu bisa dicerna kapanpun, di manapun dan oleh siapapun.

Salut untuk Salman Khan yang sudah menghadirkan alat pembelajaran yang boleh dimanfaatkan oleh semua orang.

Tidak Maksimal

Masih ingat dengan perkataan “tidak maksimal” dalam iklan sebuah produk sikat gigi?

Itu yang langsung terbersit sewaktu saya browsing siang ini. Banyak sekali orang-orang muda yang sudah melakukan banyak hal dan mengesankan. Berguna bagi karir dan pengembangan diri mereka sekaligus untuk orang lain. Tentu semuanya harus dibayar dengan harga yang tak murah. Kerja keras. Tak ada yang instan, kan? Dan ketika memandang ke diri sendiri, kok rasanya saya belum ngapa-ngapain.

Memang tak seyogyanya bandingkan diri kita dengan orang lain. Toh, jalan hidup masing-masing insan manusia kan berbeda. Ambisinya tak sama. Tingkat pemikiran juga lain. Mungkin pula nilai gizinya berbeda. Tapi penting untuk menjadi sebuah referensi dan inspirasi. Pemacu juga.

Menjadi maksimal. Dengan apa yang saya bisa lakukan. Itu keinginan saya. Sesuatu yang cukup susah karena saya suka melakukan sesuatu secara minimalis. Yah, begitulah…

University of the People

Baru saja menemukan University of the People. Dengan slogannya Tuition-Free Online University. Semua orang, tentu dengan persyaratan tertentu dan biaya pendaftaran yang relatif murah, bisa mendaftar dan belajar di universitas yang kegiatannya dilakukan secara online. Ada Business Administration dan Computer Science; selain itu juga ada Arts dan Science. Belum terakreditasi untuk saat ini. Yang jelas, ilmu yang didapatkan di sini bisa berguna untuk pembelajaran pribadi.

Mengapa gratis? Maklum saja karena universitas ini disponsori oleh United Nations, Hewlett Packard dan beberapa organisasi lainnya.