Beast atau Vegetable?

Katanya otak manusia itu seperti binatang buas. Bila tak terkontrol, bisa jadi membuat empunya otak menjadi binatang buas yang bisa melakukan banyak tindakan di luar akal manusia. Bagi mereka yang bisa mengendalikannya, otak bisa menjadi mesin berpikir yang menjadikan orangnya super jenius dan menghasilkan banyak hal yang berguna. Otak yang optimal. Fungsinya bisa melebihi ukuran fisik otak.

Sebaliknya, otak manusia bisa menjadi tak berguna sama sekali bila pemiliknya tak mampu menggunakannya dengan baik. Terhipnotis dengan hiburan yang membuat terlena. Fungsinya menurun drastis karena tak pernah terlatih dan jarang digunakan. Malahan, ada juga otak yang menjadi ‘tanaman’ karena dikendalikan oleh orang lain atau kondisi. Tak bisa hasilkan sesuatu yang berguna.

Tergantung yang memilikinya, otak bisa menjadi berguna atau sama sekali tak berguna.

Sekarang atau Besok?

Bertahun-tahun saya terbiasa dengan kebiasaan menunda banyak hal. Bila bisa besok, ya besok saja. Toh, gunung tak akan lari kemana. Memang benar bahwa gunung tersebut tak akan ke mana-mana karena tak punya kaki untuk berpindah tempat. Hanya saja, sebagai makhluk tak abadi, manusia tak selalu beruntung masih memiliki kesempatan hidup di hari esoknya. Jadi ya sekaranglah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu.

Kemudian banyak peristiwa yang membuat saya sadar bahwa sewaktu masih ada kesempatan hidup ya sekarang waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu. Bukan besok atau suatu waktu di masa depan. Kita hidup di waktu ini yaitu hari ini. Demikian kata para filosof, tokoh terkenal, atau orang-orang di sekitar saya. Sekarang adalah waktunya. Meski demikian masih saja ada pertanyaan yang tersisa. Bila waktu hidup saya berakhir, bukannya sama saja bila saya 1) sudah bisa melakukan sesuatu atau 2) belum melakukannya. Toh, tak lagi relevan bagi saya bila sesuatu sudah terjadi atau tidak terjadi saat jiwa saya menghadap yang kuasa dan tubuh tak lagi hangat ditinggalkan sang nyawa.

Pertanyaan mendasar, sekarang atau besok, selalu saja bergelut dalam pikiran saya. Sebenarnya tak lagi penting, sekarang atau besok, karena pengertian akan waktu dan lini masa merupakan ciptaan manusia yang rasanya lebih membebani daripada memberi pencerahan. Alih-alih membantu manusia, istilah ‘waktu’ malah membuat suatu permasalahan tersendiri. Salah satu contohnya adalah konsep “keterlambatan” yang relatif tragis bagi manusia beradab. Terlambat berbicara ketika kecil bisa jadi membuat seseorang mendapat label ‘bodoh’. Terlambat menikah akan memberi stigma ‘perawan atau perjaka tua’. Terlambat punya anak jelas bisa dicap ‘mandul’. Padahal masing-masing insan memiliki waktu berkembang yang berbeda-beda. Sama seperti lamanya ‘kontrak kehidupan’ yang berlainan; ada yang kurang dari sepuluh tahun tapi ada juga yang hingga melebihi seratus tahun.

Bila tak dilakukan sekarang, dampaknya ya terlambat. Jika dikerjakan sekarang maka akan selesai tepat waktu. Dengan efek yang nyata seperti tersebut tak jarang banyak orang yang merasa tergesa-gesa. Belum siap namun tetap saja melakukannya. Menikah terlalu dini. Sekolah terlalu cepat hingga selalu merasa stres. Bekerja terlalu keras agar semuanya selesai dengan cepat untuk menghindari kata terlambat namun sebabkan depresi. Memiliki anak terlalu awal padahal belum siap lahir dan batin. Semuanya karena berpatokan bahwa bila tak cepat-cepat maka terlambat. Habis waktu dan kemudian lenyaplah kesempatan. Padahal gunung juga tak akan lari kemana. Semuanya akan indah pada waktunya.

Pertanyaan tentang waktu dan bagaimana menghadapinya sepertinya tak akan pernah hilang dari benak manusia selama hidupnya. Ada benarnya bila seseorang akan terbebas dari konsepsi waktu dan konsekuensinya bila sudah habis waktunya di dunia. Meskipun begitu, masih ada orang-orang yang mengaku sudah membebaskan diri dari belenggu waktu dalam kehidupannya di dunia ini. Hmm…

Paha Di Mana-mana

Alasan persisnya tak jelas mengapa makin banyak Kaum Hawa memakai celana pendek yang terlalu pendek dari ukuran celana pendek yang standar. Begitu juga span atau rok yang kependekan. Bahkan tak jarang, banyak pula yang tak lagi risih bila menggunakan celana pendek yang keterlaluan pendeknya hingga nyaris ke pangkal paha dan hanya berbatasan tipis dengan garis pantat. Ada yang menyangka kenaikan suhu bumi membuat para perempuan gampang kepanasan sehingga lebih nyaman memakai celana super pendek tersebut. Menyebarnya trend Hallyu yang hampir semua cewek idolanya memakai hot pants. Mungkin juga menurunnya rasa pede wanita sehingga harus tampil lebih atraktif dengan menampilkan lebih banyak penampang kaki. Meski banyak juga yang begitu karena merasa lebih percaya diri punya kaki yang aduhai indahnya.

Efeknya jelas terasa. Paha makin jelas terlihat di mana-mana. Ada yang mulus dan membuat mata yang melihat bisa menikmatinya. Maklum, dengan makin minimnya (baca: pendeknya) pakaian sebelah bawah membuat kaki pemakainya terlihat lebih jenjang. Ada ilusi yang tercipta bahwa kaki perempuan memanjang. Terutama bila ditambah dengan sepatu berhak tinggi.

Ada juga yang jelas tak bagus dilihat dan justru menjadi sejenis ‘polusi pemandangan’. Kaki penuh selulit, paha gemuk dari pemiliknya yang obesitas, penuh ‘dekorasi’ (bekas gatal, tato yang buruk, bekas tergores), kaki yang jelas-jelas sudah pendek. Lebih pas bila pemakainya memakai pakaian sebelah bawah yang tertutup sehingga terlihat lebih menarik. Toh, tetap saja banyak yang nekat memakai hot pants bahkan dengan warna-warna yang norak seperti merah, hijau, kuning atau pun merah muda terang.

Tak peduli baik mereka yang bisa menggunakan hot pants dengan atraktif atau pun yang tidak; dapat dipastikan bahwa banyak mata, terutama mata lelaki, akan otomatis melirik ke arah paha yang memang sengaja ‘dipertontonkan’ dengan pemakaian celana pendek yang kependekan tersebut. Anehnya, perempuan, yang kebanyakan gadis muda, yang dengan sengaja mengumbar keindahan pahanya justru merasa terganggu bila ada sekian banyak lelaki yang dengan sengaja menikmati paha yang terekspos tersebut. Ironis, kan? Terbukti dari kebiasaan pemakainya yang terus-menerus berusaha ‘menurunkan’ celananya yang kelihatannya seperti selalu mengkerut naik ke atas. Bila sedemikian repotnya mengapa tidak memakai celana panjang sekalian?

Coba pikirkan, paha yang ada di mana-mana tersebut sungguh membangkitkan syahwat Kaum Adam. Boleh jadi timbulkan bahaya bila lelaki yang memandangnya tak lagi bisa membendung derasnya gairah. Celana super pendek juga rawan terhadap serangan nyamuk. Tak hanya menghisap darah dan sebabkan bentol-bentol. Gigitan nyamuk bisa sebarkan Malaria atau Demam Berdarah seperti yang terjadi di Thailand. Celana yang minim juga tak maksimal melindungi kulit kaki dari kotoran kala duduk atau berjalan di tempat umum. Jelas merugikan pemakainya ketimbang tujuan semula yang ingin tampil lebih hot.

Aerotropolis

Pernah dengar istilah tersebut? Mungkin karena terminologi ini masih baru, tak banyak yang memahaminya. Aerotropolis, menurut Wikipedia, merupakan tata kota urban yang desain, infrastruktur, dan ekonominya berpusat pada sebuah bandar udara. Penggagas konsep kota yang dibangun di sekitar bandara tersebut adalah John Kasarda.

Bila dulunya sangat jamak bagi sebuah kota untuk memiliki airport sebagai salah satu moda transportasi yang handal untuk mendukung komersial dan mobilitas penduduknya. Sekarang mulai dirintis untuk membuat kota baru yang dikembangkan di sekitar sebuah bandara. Umumnya bandara tersebut memang baru dan tata kotanya pun juga baru. Mencipta kota baru; bukan merombak sebuah kota yang sudah berdiri berpuluh-puluh tahun. Wajar karena kebutuhan akan tempat tinggal dan usaha semakin mendesak seirama dengan jumlah populasi yang makin membesar. Salah satu contoh Aerotropolis adalah kota Ekurhuleni di Afrika Selatan.

Yang saya masih belum yakin adalah apakah ada perbedaan antara Aerotropolis dengan Airport City. Persamaannya jelas yaitu sama-sama dibangun di sekitar bandara. Yogya sebagai salah satu kota tujuan wisata favorit memiliki rencana untuk membangun sebuah Airport City. Rencananya akan dibangun mulai tahun 2013 di Kulonprogo. Semoga saja rencana tersebut bisa berhasil dengan baik.

Keuntungan dari sebuah aerotropolis adalah akses ekonomi yang tinggi dengan kota-kota lain yang memiliki bandara. Berdasar trend sekarang, perpindahan barang dan manusia lebih mengandalkan transportasi udara, dibanding transportasi darat dan air. Kecepatan merupakan kuncinya. Barang dan manusia bisa mencapai tujuannya dengan lebih cepat. Boleh jadi karena kota aerotropolis merupakan kota yang dirancang dari awal, tata kotanya jauh lebih teratur dengan insfrastruktur yang sudah dipersiapkan dengan matang.

Kerugiannya adalah terciptanya kota yang berbasis pada ekonomi; bukan kota yang berdasar pada edukasi, seni, atau keindahan alam yang natural. Begitu juga dengan kebisingan yang datang dari ratusan pesawat yang take off dan mendarat. Sebuah kota yang baru juga biasanya tidak memiliki tradisi yang sudah berkembang lama sehingga terkesan sebagai kota yang bersih dan steril tapi kurang homy.

Bagaimana dengan pendapat Anda, apakah Anda suka dengan gagasan Aerotropolis? Bila ya, apakah Anda ingin pindah dan menempati kota tersebut?

Blog dan Mengarang Indah

Sudah bertahun-tahun saya ngeblog di blog Munggur ini. Masih menikmatinya. Suka mengisi halaman demi halaman yang kosong dengan postingan yang bermacam-macam. Kadang potretan kejadian yang terjadi dalam kehidupan saya. Mungkin lelucon yang tiba-tiba terbersit di benak. Opini terhadap banyak hal dalam hidup ini.

Pada mulanya, saya menulis untuk diri sendiri. Sebagai pengingat masa, baik yang indah maupun yang mellow. Mungkin karena bawaan saya sejak bayi untuk tidak terlalu ekspresif, jadi tidak ada cerita yang terlalu dahsyat dan hebat. Tidak juga ada yang menye-menye. Masih dalam takaran normal. Namun kemudian saya juga senang kalau ada yang membaca blog ini. Lebih senang kalau ada yang luangkan waktu untuk berkomentar.

Lucunya, selalu saja ada yang membilang bahwa ‘kok kayaknya dibuat-buat’, ‘karangan, ya?’, ‘sepertinya ga masuk akal, pasti cuma dibikin-bikin saja’. Kesannya fiktif. Untuk komentar yang seperti itu saya hanya bisa membilang seperti ini. Silakan membaca, percaya atau tidak percaya itu tentu merupakan keputusan masing-masing pembaca. Toh, saya bukan selebritas yang jejak hidupnya terekam di ranah publik melalui media masa sehingga orang banyak bisa mengetahui kehidupan nyata mereka. Saya hanya suka membagi cerita. Terutama tentang hidup saya. Bukan hidup orang lain karena ya ini blog tentang saya pribadi.

Coba ulik postingan tentang perjalanan saya. Itu benar-benar terjadi. Bagian dari impian saya untuk menjelajahi kota-kota di dunia. Kebanyakan memberi komentar suka karena memberi inspirasi. Ada juga yang tak percaya bahwa perjalanan itu cuma khayalan belaka.

Memang beda bila Anda membaca postingan Arisan Tante. Jelas itu guyonan yang terbersit dari kegelian saya saat menangkap suatu topik hidup yang aneh bin ajaib dalam kehidupan sosial manusia. Jelas itu mengarang indah karena tante-tante itu tak pernah ada di kehidupan nyata. Hanya saja mereka suka ‘bercanda, mengobrol, dan kumpul-kumpul’ di kepala saya. Jadi harus dibedakan mana yang catatan kehidupan saya dan mana tulisan imajinatif saya. Umumnya, ya orang membaca. Bila suka, saya juga senang. Bila tidak, ya masih banyak blog dan artikel lain di Internet yang jauh lebih menarik, informatif, dan inspiratif.

Silakan membaca bila suka. Percaya atau tidak, itu saya kembalikan ke masing-masing dari Anda yang sudah membaca secuil atau lebih postingan di sini. Jadi tiba-tiba ingat slogan serial TV berjudul X-File, “The Truth is Out There”.

Membeli Ruko

Saya masih memiliki impian untuk memiliki rumah. Untuk saya tinggali. Juga siapa tahu, bisa untuk dijual di masa depan. Sayangnya, saya kurang pandai dalam membuat rencana dan eksekusi. Oleh karena itu, rumah pun belum saya punyai. Masih dalam bayangan dan impian semata.

Uniknya, tadi siang saya mengobrol dengan seorang bapak berusia 53 tahun. Yang dia lakukan adalah jalan-jalan menikmati masa pensiunnya. Namanya Collin. Berasal dari Malaysia namun sudah lama bekerja dan tinggal di Hong Kong. Dia dengan senang membagi tips bagaimana dia bisa pensiun dengan nyaman.

Dia bercerita bahwa pada suatu saat dalam hidupnya, dia harus memutuskan untuk membeli rumah atau ruko (shop house). Meski bekerja di perusahaan besar dari Amerika, toh tetap saja harus memilih satu saja. Setelah berdiskusi dengan istrinya, mereka memutuskan untuk membeli ruko. Oleh karena tak bisa membeli rumah, mereka menyewa rumah untuk beberapa lama.

Rupanya pandai juga bapak ini. Ruko yang dibelinya tidak besar. Hanya saja, lokasinya strategis. Dekat dengan stasiun bawah tanah di daerah Kowloon, suatu wilayah yang ramai dikunjungi turis dan penduduk setempat. Setelah beberapa tahun berlalu, uang sewa dari rukonya bisa membiayai cicilan rumahnya. Bahkan, akhirnya dia menjual rumah tersebut dan membeli rumah di New York. Hebat, bukan? Hingga hari ini, ruko tersebut tetap menghasilkan uang.

Coba bila dia memutuskan untuk membeli rumah. Mungkin saja sebagian bisa disewakan tapi mengurangi kenyamanan. Lagipula, di Hong Kong ukuran rumah tak begitu besar. Hasilnya tak akan sebesar uang sewa yang dihasilkan dari rukonya tersebut. Sungguh sebuah ilmu yang sangat berguna. Salut saya untuk pak tua yang suka berbagi ilmu.