Membeli Ruko

Saya masih memiliki impian untuk memiliki rumah. Untuk saya tinggali. Juga siapa tahu, bisa untuk dijual di masa depan. Sayangnya, saya kurang pandai dalam membuat rencana dan eksekusi. Oleh karena itu, rumah pun belum saya punyai. Masih dalam bayangan dan impian semata.

Uniknya, tadi siang saya mengobrol dengan seorang bapak berusia 53 tahun. Yang dia lakukan adalah jalan-jalan menikmati masa pensiunnya. Namanya Collin. Berasal dari Malaysia namun sudah lama bekerja dan tinggal di Hong Kong. Dia dengan senang membagi tips bagaimana dia bisa pensiun dengan nyaman.

Dia bercerita bahwa pada suatu saat dalam hidupnya, dia harus memutuskan untuk membeli rumah atau ruko (shop house). Meski bekerja di perusahaan besar dari Amerika, toh tetap saja harus memilih satu saja. Setelah berdiskusi dengan istrinya, mereka memutuskan untuk membeli ruko. Oleh karena tak bisa membeli rumah, mereka menyewa rumah untuk beberapa lama.

Rupanya pandai juga bapak ini. Ruko yang dibelinya tidak besar. Hanya saja, lokasinya strategis. Dekat dengan stasiun bawah tanah di daerah Kowloon, suatu wilayah yang ramai dikunjungi turis dan penduduk setempat. Setelah beberapa tahun berlalu, uang sewa dari rukonya bisa membiayai cicilan rumahnya. Bahkan, akhirnya dia menjual rumah tersebut dan membeli rumah di New York. Hebat, bukan? Hingga hari ini, ruko tersebut tetap menghasilkan uang.

Coba bila dia memutuskan untuk membeli rumah. Mungkin saja sebagian bisa disewakan tapi mengurangi kenyamanan. Lagipula, di Hong Kong ukuran rumah tak begitu besar. Hasilnya tak akan sebesar uang sewa yang dihasilkan dari rukonya tersebut. Sungguh sebuah ilmu yang sangat berguna. Salut saya untuk pak tua yang suka berbagi ilmu.

Iklan

2 Replies to “Membeli Ruko”

  1. ceritanya sepertinya terlalu dikarang-karang, katanya tidak dapat membeli rumah dan ruko kok nyicil rumah, lalu dijual dan beli di NY apaan tuh???

    Suka

  2. dikarang atau tidak, saya hanya dengar cerita dari bapak itu. tapi ingat bahwa itu rentang waktu 30 tahunan, bukan setahun atau dua tahun. dia mulainya saat umur 20an tahun.

    kadang kita ga perlu mempertanyakan, benar atau tidaknya. lha wong cuma diceritain. percaya boleh, ngga juga boleh. cukup membuka telinga dan mendengarkan.

    yang penting pembelajarannya. toh, klo kita lihat para pengusaha yang sukses2, semuanya dijalani dengan kerja keras, determinasi, pantang menyerah selama berpuluh2 tahun.

    btw, sebagai catatan, harga rumah di HK (meski pakai kurs HKD) jauh lebih mahal ketimbang rumah di NY (yang boleh jadi di pinggiran, bukan di Manhattan-nya).

    anyway, thanks sudah komentar. mungkin saya ceritanya kurang runtut dan agak membingungkan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s