Aerotropolis

Pernah dengar istilah tersebut? Mungkin karena terminologi ini masih baru, tak banyak yang memahaminya. Aerotropolis, menurut Wikipedia, merupakan tata kota urban yang desain, infrastruktur, dan ekonominya berpusat pada sebuah bandar udara. Penggagas konsep kota yang dibangun di sekitar bandara tersebut adalah John Kasarda.

Bila dulunya sangat jamak bagi sebuah kota untuk memiliki airport sebagai salah satu moda transportasi yang handal untuk mendukung komersial dan mobilitas penduduknya. Sekarang mulai dirintis untuk membuat kota baru yang dikembangkan di sekitar sebuah bandara. Umumnya bandara tersebut memang baru dan tata kotanya pun juga baru. Mencipta kota baru; bukan merombak sebuah kota yang sudah berdiri berpuluh-puluh tahun. Wajar karena kebutuhan akan tempat tinggal dan usaha semakin mendesak seirama dengan jumlah populasi yang makin membesar. Salah satu contoh Aerotropolis adalah kota Ekurhuleni di Afrika Selatan.

Yang saya masih belum yakin adalah apakah ada perbedaan antara Aerotropolis dengan Airport City. Persamaannya jelas yaitu sama-sama dibangun di sekitar bandara. Yogya sebagai salah satu kota tujuan wisata favorit memiliki rencana untuk membangun sebuah Airport City. Rencananya akan dibangun mulai tahun 2013 di Kulonprogo. Semoga saja rencana tersebut bisa berhasil dengan baik.

Keuntungan dari sebuah aerotropolis adalah akses ekonomi yang tinggi dengan kota-kota lain yang memiliki bandara. Berdasar trend sekarang, perpindahan barang dan manusia lebih mengandalkan transportasi udara, dibanding transportasi darat dan air. Kecepatan merupakan kuncinya. Barang dan manusia bisa mencapai tujuannya dengan lebih cepat. Boleh jadi karena kota aerotropolis merupakan kota yang dirancang dari awal, tata kotanya jauh lebih teratur dengan insfrastruktur yang sudah dipersiapkan dengan matang.

Kerugiannya adalah terciptanya kota yang berbasis pada ekonomi; bukan kota yang berdasar pada edukasi, seni, atau keindahan alam yang natural. Begitu juga dengan kebisingan yang datang dari ratusan pesawat yang take off dan mendarat. Sebuah kota yang baru juga biasanya tidak memiliki tradisi yang sudah berkembang lama sehingga terkesan sebagai kota yang bersih dan steril tapi kurang homy.

Bagaimana dengan pendapat Anda, apakah Anda suka dengan gagasan Aerotropolis? Bila ya, apakah Anda ingin pindah dan menempati kota tersebut?

Iklan

3 Replies to “Aerotropolis”

  1. Hmm, mungkin enggak ya sebenarnya konsep Aerotropolis itu sebenarnya mirip dengan Port City kayak Batavia dan Singapura? Mungkin ya (mungkin, semoga..), kota-kota berdasarkan konsep Aerotropolis ini pun bisa terinspirasi dapat melahirkan kesenian lokal sesuai dengan kedekatannya dengan bandara. Siapa tahu jadi seperti kostum tari Betawi yang juga banyak terinspirasi dari budaya lain :)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s