Sekarang atau Besok?

Bertahun-tahun saya terbiasa dengan kebiasaan menunda banyak hal. Bila bisa besok, ya besok saja. Toh, gunung tak akan lari kemana. Memang benar bahwa gunung tersebut tak akan ke mana-mana karena tak punya kaki untuk berpindah tempat. Hanya saja, sebagai makhluk tak abadi, manusia tak selalu beruntung masih memiliki kesempatan hidup di hari esoknya. Jadi ya sekaranglah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu.

Kemudian banyak peristiwa yang membuat saya sadar bahwa sewaktu masih ada kesempatan hidup ya sekarang waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu. Bukan besok atau suatu waktu di masa depan. Kita hidup di waktu ini yaitu hari ini. Demikian kata para filosof, tokoh terkenal, atau orang-orang di sekitar saya. Sekarang adalah waktunya. Meski demikian masih saja ada pertanyaan yang tersisa. Bila waktu hidup saya berakhir, bukannya sama saja bila saya 1) sudah bisa melakukan sesuatu atau 2) belum melakukannya. Toh, tak lagi relevan bagi saya bila sesuatu sudah terjadi atau tidak terjadi saat jiwa saya menghadap yang kuasa dan tubuh tak lagi hangat ditinggalkan sang nyawa.

Pertanyaan mendasar, sekarang atau besok, selalu saja bergelut dalam pikiran saya. Sebenarnya tak lagi penting, sekarang atau besok, karena pengertian akan waktu dan lini masa merupakan ciptaan manusia yang rasanya lebih membebani daripada memberi pencerahan. Alih-alih membantu manusia, istilah ‘waktu’ malah membuat suatu permasalahan tersendiri. Salah satu contohnya adalah konsep “keterlambatan” yang relatif tragis bagi manusia beradab. Terlambat berbicara ketika kecil bisa jadi membuat seseorang mendapat label ‘bodoh’. Terlambat menikah akan memberi stigma ‘perawan atau perjaka tua’. Terlambat punya anak jelas bisa dicap ‘mandul’. Padahal masing-masing insan memiliki waktu berkembang yang berbeda-beda. Sama seperti lamanya ‘kontrak kehidupan’ yang berlainan; ada yang kurang dari sepuluh tahun tapi ada juga yang hingga melebihi seratus tahun.

Bila tak dilakukan sekarang, dampaknya ya terlambat. Jika dikerjakan sekarang maka akan selesai tepat waktu. Dengan efek yang nyata seperti tersebut tak jarang banyak orang yang merasa tergesa-gesa. Belum siap namun tetap saja melakukannya. Menikah terlalu dini. Sekolah terlalu cepat hingga selalu merasa stres. Bekerja terlalu keras agar semuanya selesai dengan cepat untuk menghindari kata terlambat namun sebabkan depresi. Memiliki anak terlalu awal padahal belum siap lahir dan batin. Semuanya karena berpatokan bahwa bila tak cepat-cepat maka terlambat. Habis waktu dan kemudian lenyaplah kesempatan. Padahal gunung juga tak akan lari kemana. Semuanya akan indah pada waktunya.

Pertanyaan tentang waktu dan bagaimana menghadapinya sepertinya tak akan pernah hilang dari benak manusia selama hidupnya. Ada benarnya bila seseorang akan terbebas dari konsepsi waktu dan konsekuensinya bila sudah habis waktunya di dunia. Meskipun begitu, masih ada orang-orang yang mengaku sudah membebaskan diri dari belenggu waktu dalam kehidupannya di dunia ini. Hmm…

Iklan

7 Replies to “Sekarang atau Besok?”

  1. Tulisan pas dengan artikel akhir di dunia di mana-mana :) Setuju bahwa segala sesuatu indah pada waktunya, tapi mungkin salah satu cara untuk mengecek apakah ada sesuatu yang harus dilakukan sekarang adalah, apakah saya menundanya hanya karena saya kurang bermurah hati? (susah nih tapi dijalaninya :P)

    Suka

      1. Misalnya dalam hal membantu orang lain atau menjawab panggilan hidup :) Dalam kasus ini, penundaan bisa juga disebabkan karena kurangnya kemurahan hati. Kayak ada perasaan udah ngebet banget, pengen banget, tapi takut perubahan dan masih mau menikmati enaknya tanpa perubahan ini.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s