Gedung Setinggi Langit

Rasanya luar biasa saat melihat gedung yang sangat tinggi. Tidak hanya biasa-biasa saja tingginya. Tapi lebih tinggi daripada gedung-gedung di sebelahnya. Karena ketinggiannya hingga punya sebutan gedung pencakar langit. Meski banyak orang tak suka berada di ketinggian, nyatanya banyak orang yang sangat ingin bisa menikmati pemandangan dari lantai atas gedung-gedung yang jangkung tersebut.

Oleh karena itu maklum kalau banyak orang ingin bisa mengunjungi Menara Petronas di Kuala Lumpur atau Menara Taipei 101 di Taiwan. Soalnya memang tak banyak menara yang setinggi itu. Namun ternyata dua menara itu masih belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Burj Khalifa yang untuk saat ini masih tercatat sebagai yang tertinggi. Bukan hanya untuk di Dubai tapi juga di dunia.

Lalu apakah akan ada menara lain yang akan dibangun lebih tinggi dari Burj Khalifa? Nyatanya ada. Namanya Kingdom Tower. Bakal dibangun di Jeddah, kota terbesar nomer dua di Saudi Arabia. Tingginya tak tanggung-tanggung. Paling tidak, satu kilometer dari permukaan tanah. Ambisi yang sangat tinggi. Tentunya didukung dengan cadangan minyak bumi yang masih banyak di negara itu.

Ada reaksi, baik positif atau pun negatif. Sebuah kebanggaan dan pencapaian teknologi, kata sebagian orang. Terutama pihak pendiri dan orang-orang yang mendukung gedung tersebut. Hanya saja, banyak yang berkomentar bahwa pembangunan gedung setinggi langit tersebut terkesan hanya sebagai proyek menara gading. Tak terlalu banyak memberi kontribusi pada kemanusiaan dan masyarakat.

Dana, teknologi dan sumber daya untuk membangun menara penuh ambisi tersebut rasanya akan lebih baik bila dipakai untuk investasi bisnis di negara tersebut pada berbagai industri. Bisa juga dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur negara seperti transportasi, edukasi, atau pertanian. Untuk sesuatu yang lebih praktis dan berguna bagi banyak orang. Bukan dipakai untuk sekedar memperlihatkan kesombongan manusia yaitu membangun sesuatu hanya karena semata bisa membangunnya.

Meskipun saya salah satu penikmat gedung-gedung pencakar langit, saya tak setuju akan sebuah keputusan membangun gedung setinggi langit menjadi lebih penting daripada membangun banyak aspek lainnya yang lebih mulia dan bermanfaat bagi orang banyak.

Sebuah pertanyaan muncul, ‘seberapa tinggi sebuah menara bisa dibangun?’. Jawabnya sederhana. Setinggi impian manusia untuk sampai ke langit. Pertanyaan lainnya mengekor, ‘lalu untuk apa?’. Untuk jawabannya, bisa dijawab oleh masing-masing individu.

Inbox Zero

Tiap waktu saya mengecek kotak surat elektronik, ada rasa tak nyaman saat melihat begitu banyaknya timbunan email di Inbox saya. Alasannya sederhana. Saya menginginkan Inbox Zero. Rasanya plong. Tak ada rasa harus menyortir sedemikian banyak email di kandar email tersebut.

Sayangnya saya menggunakan alamat email tersebut untuk melanggani berbagai milis, berita, dan berbagai urusan. Dengan demikian akan selalu ada email yang berdatangan. Hapus satu, datang seribu. Tak kunjung habis.

Lalu tiba-tiba timbul sedikit mengambil jalan pintas. Semua email yang ada di Inbox saya pindahkan ke kandar All Mail dengan memilih semua email dan kemudian menekan tombol Archive.

Apa yang terjadi? Seketika Inbox saya menjadi kosong. Tak ada email sama sekali. Hore! Meski sebenarnya semu karena semua email hanya berpindah ke bagian lain dalam email. Tapi tak apalah. Lebih mudah sekarang untuk memilah dan membaca email yang baru saja masuk. Sekaligus untuk menghapus yang di rasa tak lagi diperlukan.

Kebiasaan menghapus email rasanya menjadi lebih jarang di jaman sekarang dibanding beberapa tahun sebelumnya. Dulu sekali, karena email gratisan kapasitasnya terbatas, jamak untuk menghapus email yang tak lagi perlu. Bila tidak, email baru tak dapat diterima. Namun bagaimana pun juga, bila tak terpakai ya ada baiknya email tersebut dipakai. Dengan begitu, email yang penting bisa dicari dengan lebih mudah.

Akhirnya, Inbox Zero tercapai. Tentu dengan catatan tersendiri.

Get Things Done

Sebenarnya banyak hal bisa diselesaikan dengan mudah. Kuncinya adalah mengerjakannya. Tidak menundanya. Tidak banyak alasan. Tidak hanya sekedar menggambarkannya dalam angan belaka.

Get Things Done dengan mengerjakannya. Titik.

Architecture 101

Baru saja saya menonton film berjudul Architecture 101. Ciamik jalinan ceritanya. Berpindah dari satu masa ke masa yang lain. Ada cinta yang terlambat tersampaikan meski sama-sama dirasakan. Aktris cantik Han Ga-In dan Bae Suzy pun membuat film ini lebih enak ditonton. Lalu, ceritanya tentang apa?

Film dari Negeri Ginseng ini, menurut saya pribadi, bila dirangkum ceritanya menjadi satu frasa akan menjadi seperti ini, ‘gagal merajut asmara karena tak pandai bicara’. Coba jika sang arsitek muda cukup fasih membilang kata dan sanggup mengatakan kata cinta pada si gadis muda dari kelas musik, pastilah jalinan cerita berdua berjalan dengan mulus. Benar, kan?

Sayangnya tidak. Gagu dan kaku, sang arsitek muda tak mampu secara eksplisit berbalas kata dengan si gadis yang meski eksentrik tapi cantik. Salah paham terjadi. Tragedi pun tak terhindarkan kala cinta laiknya bunga yang layu sebelum berkembang. Mereka berdua pun berpisah.

Hingga kemudian si gadis yang telah menjadi wanita pun menemukan sang arsitek yang juga telah berumur. Si wanita ingin sang arsitek untuk membangunkan rumah baginya. Rupanya ada impian dan janji dari masa lalu yang ingin tetap diwujudkan. Rumah pun akhirnya selesai. Kata-kata yang terbalut nostalgi pun akhirnya menguak dengan sendirinya. Berdua sama-sama menyadari cinta mereka yang sekian lama terpendam. Meski akhirnya mereka memilih tak berjalan bersama, toh mereka sudah puas mendengar kata yang terlambat untuk didengarkan.

Menonton film ini membuat saya teringat dengan suatu kepingan masa lalu saya ketika di bangku kuliah. Ya, tak pandai bicara dan rajutan asmara pun tak berhasil. Maklum, lelaki seumuran itu memang banyak yang masih belum dewasa. Ya, sebuah kepingan masa lalu yang kadang bikin senyum-senyum sendiri. Kok, ya sebegitunya. Sudah tahu ada gadis manis yang menyukai mengapa tak sigap membalasnya dengan penuh semangat 45. Tapi ya begitulah. Tak semua kisah cinta berjalan dengan sempurna.

Catatan: terima kasih untuk sesosok gadis manis di bangku kuliah yang sudah pernah membuat saya breathless dan cukup mewarnai buku kehidupan saya.

Semangat di tahun 2013 dan tahun Ular

Sudah berganti tahun dua kali rupanya. Dari tahun 2012 ke tahun 2013. Dari tahun Naga ke tahun Ular. Jadi sudah sepantasnya ada semangat baru. Untuk masa sekarang dan masa depan yang lebih baik.

Ada impian-impian baru yang seyogyanya sudah di kepala. Ada asa baru yang memenuhi batin. Tentunya cara dan strategi untuk mewujudkan rencana-rencana tersebut.

So… Mari semangat! Singsingkan lengan baju dan mulai bergerak dengan mantab!