Arab Saudi Kaya, Rakyatnya Miskin

Arab Saudi dikenal sebagai negara kaya. Maklum, kaya minyak. Cukup dengan menjual ’emas hitam’ tersebut, Negeri padang gurun itu bisa meraup banyak keuntungan. Cadangan minyaknya pun masih banyak hingga beberapa turunan. Jadi negerinya makmur?

Pemimpinnya tentu saja kaya raya. Namun menurut berbagai pemberitaan, seperti yang diberitakan oleh Republika, 60 persen rakyatnya dalam keadaan yang menyedihkan. Tidak kaya. Namun justru miskin karena selain miny ak, tidak banyak usaha atau bisnis yang bisa dilakukan di sana. Sedangkan mereka yang bisa mendapat untung dari minyak hanyalah raja, keluarganya, dan jaringan bisnis mereka. Segelintir orang-orang super kaya inilah yang bisa berpesta-pora dan hidup foya-foya.

Sayang sekali, bukan? Coba saja bila minyak bumi dianggap sebagai sumber daya strategis yang dikelola negara. Keuntungan yang diperolehnya bisa dipakai untuk membiayai operasional pembangunan infrastruktur. Termasuk membantu warganya yang tidak mampu dengan menyediakan pendidikan yang lebih terjangkau, subsidi kesehatan, dan penyediaan modal usaha dan kerja.

Pasti mampu. Daripada uangnya dipakai untuk membangun gedung pencakar langit yang sangat terkenal. Namun dibalik itu, rakyatnya hidup dalam kondisi melarat di rumah-rumah yang tak layak huni. Ada kontras di sana yang terasa pahit. Pemimpinnya bergelimang harta sedangkan rakyatnya kelaparan tak berdaya.

Bank Nasional Dikuasai Asing

Sedih juga mendengar tentang investor asing yang membeli saham kepemilikan bank-bank nasional di tanah air. Klise beritanya karena tak ada upaya yang nyata dari pemerintah untuk melakukan pembatasan atas bisnis strategis seperti bank. Coba bayangkan bila pihak asing yang justru menyedot keuntungan dari perkembangan ekonomi di Indonesia melalui penguasaan bank-bank yang notabene beroperasi di seluruh Nusantara. Jadi ya bagaimana ya… Sedih mendengarnya.

Rentenir

Sebuah artikel mengenai rentenir dari Tempo membuat saya terhenyak. Sudah lama tak mendengar kata ‘rentenir’. Yang tak lain adalah lintah darat atau tukang riba. Pinjamkan uang dengan bunga yang terlalu tinggi. Dengan begitu, keuntungan yang didapat sangat tinggi. Sedangkan yang meminjam tentu saja rugi. Bahkan hingga menjadi lebih miskin daripada kondisi sebelumnya.

Dan hebatnya, begitu terjerat satu rentenir, seseorang bisa terjerat oleh kawanan rentenir. Dalam kasus yang diberitakan oleh Tempo tersebut, korban bahkan berhutang kepada 70 rentenir sekaligus. Coba bayangkan, berapa banyak uang yang harus dia bayarkan kepada mereka semua.

Sayang memang bahwa sang korban melakukan pinjaman dengan diam-diam. Dengan begitu, makin lama makin terjerat tanpa ada yang bisa menolong. Lebih disayangkan lagi karena belum adanya penerapan hukum kepada para pemberi pinjaman ilegal yang beroperasi secara gerilya dan memangsa orang-orang berpenghasilan rendah, tingkat edukasi yang rendah, dan sedang mengalami kesulitan.

Nyatanya rentenir dibutuhkan. Entah dengan pembenaran seperti apa. Hutang di bank sulit. Keluarga tak bisa dipinjami. Ekonomi susah. Cari duit pun tambah sulit. Rentenir tak akan pernah hilang.

Hal yang paling penting adalah menghindarinya. Tak perlu meminjam para rentenir tersebut. Jadi ya waspadalah. Bila ada orang yang menawari pinjaman uang dengan begitu mudahnya, pasti ada maksudnya yaitu mencari keuntungan dari yang meminjam uang.

Lakukan Sebelum Terlambat

Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa dengan seorang jurnalis freelance dari Kota Amsterdam yang sudah berkelana di banyak tempat sekira lima tahun. Yang membuat saya salut kepadanya karena dia sosok yang rendah hati dan simpatik; tak sombong meski sudah memiliki banyak pengalaman.

Dia juga tak segan berbagi cerita. Tentang kota-kota yang dia sukai, makanan khas, menyoal orang-orang yang dia jumpai. Jelas bahwa dia menyukai apa yang dia temui dalam perjalanannya. Sembari menulis artikel reportase mengenai berbagai topik yang dia kirimkan ke berbagai media.

Satu hal yang membuat saya ingat kepadanya adalah frasa “please go, before it’s too late“. Dia mengatakan itu untuk menekankan bahwa kota-kota yang dia kunjungi suatu hari nanti akan berubah. Entah karena pembangunan atau makin banyak turis yang datang. Jadi ya kunjungi sekarang juga sebelum tempat tersebut kehilangan karakternya.

Frasa itu cukup menohok. Benar juga. Before it’s too late. Mumpung masih sempat. Masih muda. Masih ada waktu dan tenaga. Menunda hanya akan menambah daftar hal yang boleh jadi disesali suatu hari nanti.

Dan ketika saya menengok ke belakang, saya ingat dengan sebuah percakapan dengan seorang teman menyoal “haruskah saya pergi ke Jepang atau menundanya” satu tahun yang lalu. Argumennya singkat “Jepang tidak akan kemana-mana, lebih baik menabung saja”. Ada benarnya. Namun, di satu sisi, saya tak akan tahu berapa lama saya akan hidup. Akhirnya, saya memutuskan untuk menikmati musim semi di Jepang. Tak hanya itu, saya pun cukup beruntung untuk melakukan Hanami. Aktivitas untuk menikmati indahnya bunga Sakura yang mekar di Sapporo.

Coba bila saat itu saya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu, saya tidak akan pernah memiliki memori yang indah saat Sakura mekar. Terutama saat ini, di mana saya melihat foto-foto di Facebook yang memperlihatkan mekarnya Sakura di Jepang di musim semi.

Just do what you need to do. Before it’s too late!

p.s. terima kasih untuk Andre, pengelana dari Amsterdam untuk frasa before it’s too late.

Kota-kota Indah di Dunia

Saya suka mendengar cerita orang-orang tentang kota-kota yang mereka tinggali. Oleh karena akhir-akhir ini saya bertemu dengan orang dari Eropa maka saya pun jadi tertarik untuk mengulik lebih banyak foto-foto di mana mereka tinggal. Begitu juga kota-kota di sekitarnya.

Saya pun iseng melihat-lihat fotonya di mesin pencari. Dublin, Madrid, Lisbon, dan tentu masih banyak kota-kota lainnya. Impian saya pun masih sama, ingin bertandang ke Barcelona. Suatu hari nanti. Maklum, tidak murah untuk terbang ke sana.

Mendengar cerita. Juga melihat foto. Jelas bangkitkan keinginan untuk bertandang ke sana. Menambah keinginan dalam hidup ini jelas membuat hidup lebih menarik. Menambahkan bumbu what’s next dalam pertanyaan kehidupan. Bikin hidup lebih hidup. Ada yang didamba, ada yang dinanti.

Bagaimana dengan Anda, apakah ada kota di dunia ini yang menurut Anda indah dan sangat Anda dambakan? Saya juga ingin tahu mengapa Anda ingin ke sana? Apakah karena makanannya? Keindahan pemandangannya? Suvenir atau malah budaya setempatnya?

Apa pun kotanya, saya harap Anda pun juga dapat bertandang ke sana suatu hari nanti.

Bersyukur

Untuk hal yang satu ini, saya amini bahwa saya kurang bersyukur. Lebih sering mengumpat dan protes mengapa kondisi sementara ini tak juga menunjukkan perubahan. Statis. Padahal bila ditarik ke belakang, ada banyak hal yang seyogyanya saya syukuri. Banyak warna yang diberikan oleh kehidupan ini. Tentu atas kebaikan Sang Empunya Kehidupan di atas sana.

Apa sih yang bisa saya syukuri? Pertama, kesehatan. Meski badan tak atletis dan sering didera oleh flu berkepanjangan, toh sejauh ini baik-baik saja. Bisa menjalani hidup dengan normal. Tak terlalu fit ya memang karena salah sendiri karena jarang berolahraga dan tak begitu baik menjaga asupan makanan. Baru saja saya sembuh dari flu setelah mengonsumsi pengobatan tradisional Cina. Mahal memang. Tapi bersyukur bahwa saya masih bisa menyembuhkan diri saya sendiri.

Kedua, finansial. Meski tak kaya. Bahkan cenderung harus memperketat ikat pinggang keuangan pribadi. Namun masih bisa memberikan kehidupan yang layak untuk bertahan hidup. Masih bisa terbang ke sana dan kemari. Lumayan bisa makan dan minum secukupnya. Rajin menabung memang selalu menyelamatkan kondisi keuangan.

Ketiga, saya masih punya potensi untuk bekerja. Entah bagaimana, toh bila memiliki kemampuan pasti bisa menjadi uang atau menghasilkan sesuatu. Masih mencoba dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan pekerjaan yang baik.

Sedangkan lain-lainnya juga cukup bisa disyukuri. Hubungan dengan sesama manusia juga masih berjalan dengan baik. Masih bisa bernafas setiap harinya. Bisa menikmati makan minum. Dan melakukan banyak hal yang saya inginkan. Jadi, meski kondisinya tak benar-benar memuaskan seperti yang saya inginkan, rupanya juga tak jelek-jelek amat. Bersyukur memang perlu. Berharap dan benar-benar berjuang juga sangat dibutuhkan.

Semoga besok hari lebih baik lagi.

Shirakawa dan Hakodate

Entah mengapa, dua tempat di Jepang ini cukup menghantui saya. Ingin sekali pergi ke sana namun belum kesampaian. Hanya nyaris. Sayang tak cukup waktu untuk benar-benar mengunjungi tempat itu. Dua tempat itu adalah Shirakawa dan Hakodate.

Shirakawa, yang lebih terkenal sebagai sebuah dusun di Prefektur Gifu, menawarkan dusun bersejarah Shirakawa-go dengan rumah tradisional yang dikenal dengan nama gassho-zukuri. Bentuknya mirip orang yang mengatupkan kedua tangannya untuk berdua. Ingin tahu lebih banyak? Coba ulik situs resminya di Shirakawa village office. Tempat itu tak jauh sebenarnya dari kota Osaka. Hanya saja, bila hendak ke sana rasanya kurang mantab bila tak menginap di rumah tradisionalnya. Oleh karena itu, saya urung pergi ke sana. Sengaja dilewati.

Berbeda dengan Hakodate, saya sempat duduk di Stasiun Hakodate. Sekejap saja. Cukup untuk transit ke kereta berikutnya yang membawa saya ke Sapporo di mana saya pas tepat pada waktunya untuk melakukan Hanami, melihat bunga Sakura. Juga menyempatkan diri untuk membungkus beberapa kotak Jaga Pokkuru untuk oleh-oleh. Mengapa tidak tinggal di Hakodate barang sehari atau dua? Sepertinya saya sudah cukup kelelahan setelah sekira 10 hari di Jepang, berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Pun saya tak menemukan tempat tinggal yang akomodatif di Hakodate. Padahal rencana saya, saya ingin sekali melihat salah satu pemandangan terindah di malam hari, yaitu Hakodate di malam hari.

Meskipun begitu, tak mengapa bila memang saya melewatkan dua tempat itu. Toh, justru menjadi sebuah alasan yang menarik bila suatu waktu bisa mendapatkan kesempatan mengunjungi Jepang. Suatu hari nanti di masa depan. Ada sesuatu yang dinanti dan masih diharapkan. Untuk saat ini, biarlah dua tempat itu menghantui saya. Selalu muncul dan mengatakan ‘datanglah ke sini’.

Shirakawa dan Hakodate, aku akan berkunjung ke sana suatu hari nanti… Tunggu saja tanggal mainnya.