Zero Inbox

Obsesi saya adalah membuat Zero Inbox di beberapa akun email saya. Caranya ya sebenarnya mudah tinggal memindah semua pesan email di Kotak Surat ke kandar (folder) yang lainnya.

Tapi nyatanya… Belum berhasil. Masih banyak pesan email yang masih bertengger di Kotak Surat. Seharusnya saya pindahkan saja. Tapi nantinya malah lupa terbaca.

Paling tidak saya sudah menginstal email client yang baru dan stand alone dari Opera. Semoga bisa memudahkan menghapus email lama yang tak lagi terpakai. Dengan begitu bisa Zero Inbox.

Browser Opera yang Baru

Browser Opera yang baru sepertinya membuat banyak orang kecewa karena tidak menggunakan ‘mesin’ yang sama seperti versi-versi terdahulu. Bahkan banyak fiturnya yang menghilang. Termasuk Opera Mail yang terintegrasi di dalam browser Opera.

Baiklah, itu orang lain. Tapi bagi saya, Opera dari dulu menjadi browser alternatif yang nyaman digunakan. Meskipun seringkali saya menggunakan versi terbaru lalu kemudian tak menggunakannya lagi, tapi saya selalu suka memberi kesempatan pada browser dari negeri Skandinavia ini. Jadi ya saya coba lagi.

Ternyata… Lumayan juga. Terasa ringan daripada versi sebelumnya karena browser dengan email client terpisah. Saya unduh dan instal dua-duanya. Sampai saat ini baik browser maupun email client tidak bermasalah. Justru malah lancar karena terpisah satu sama lain.

Browser Opera pun memiliki fitur Discovery yang bisa diatur untuk tampilkan berita-berita dari tanah air sesuatu topik yang diinginkan. Selain itu fitur lainnya normal seperti browser-browser lainnya.

Bila tertarik untuk mencobanya, bisa mengunduhnya di www.opera.com/developer/next. Ada catatan bahwa versi ini masih berupa versi eksperimental di mana ada kemungkinan crash atau hang. Namun bagi mereka yang suka mencoba rilis produk baru, silakan langsung menuju TKP!

Konsentrasi dan Kesuksesan

Benar kata orang bijak. Orang yang memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi bisa mencapai tingkat kesuksesan yang lebih baik. Sedangkan mereka yang mudah terdistraksi, tak akan bisa menyelesaikan apapun yang dimulainya.

Menyoal konsentrasi, akhir-akhir rasanya tak mudah untuk bisa berkonsentrasi…

Bekerja di Bawah Tekanan

Sampai sekarang saya selalu merasa aneh dengan frasa ‘bekerja di bawah tekanan’. Seperti yang umumnya terdapat di iklan lowongan pekerjaan. Bahasa Inggrisnya be able to work under pressure‘. Ada ilustrasi bahwa posisi yang ditawarkan memang mensyaratkan orang tersebut mampu (dan mau?) untuk bekerja dalam kondisi yang kurang menyenangkan.

Bayangan yang muncul adalah bos yang selalu tak henti-hentinya memberi tenggat waktu yang susah dipenuhi, diburu oleh para klien, disuruh-suruh melakukan banyak tugas yang mau tak mau harus diselesaikan. Intinya, ditekan. Tertekan? Itu urusan pribadi. Dengan alasan, bila tak sanggup ‘bekerja di bawah tekanan’ maka tak seharusnya menerima pekerjaan ini. Hanya yang kuat dan tabah yang seyogyanya menerima ‘amanah’ pekerjaan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan banyak orang yang stres karena terlalu jenuh dengan pekerjaannya? Ya, itu kembali lagi ke masing-masing orang yang dengan siap sedia melamar dan mendapatkan posisi pekerjaan yang penuh tekanan tersebut.

Memperbudak diri sendiri? Mungkin tidak sedramatis seperti itu. Para bos selalu mencoba memotivasi anak buahnya bahwa yang bisa bertahan dalam tekanan pekerjaan boleh jadi suatu hari mendapat promosi di posisi yang lebih tinggi. Hirarki naik, tekanan tambah menjadi-jadi? Ya, pasti! Oleh karena itu, semakin tinggi posisi orang, makin stres karena harus mampu bertahan dari ‘tekanan’ pekerjaan yang jauh lebih menekan secara mental, fisik, dan emosional. Hasilnya? Orang-orang di posisi yang lebih tinggi lebih pendek sumbu kesabarannya. Alhasil, ledakan emosi diluapkan ke orang-orang dengan posisi lebih rendah.

Tekanan semakin menguat dari hari ke hari. Toh, tak ada yang harus disalahkan. Semua orang sudah dengan sukarela (sebenarnya mungkin juga tidak) mengambil posisi di mana syaratnya ‘mampu bekerja di bawah tekanan’.

Bagaimana dengan Anda sendiri, apakah Anda termasuk orang yang mampu bekerja di bawah tekanan? Kalau memang iya, resiko mendapatkan perasaan tertekan dan stres merupakan konsekuensi yang Anda ambil sendiri.

Lupa Kata Sandi

Memiliki banyak akun layanan Internet, yang kebanyakan gratis, membuat kewalahan dalam mengakses berbagai akun tersebut. Menggunakan kata sandi yang berbeda-beda karena alasan keamanan tapi merepotkan karena jadi lupa kata sandi mana yang dipakai di akun yang mana pula.

Sering salah memasukkan kata sandinya.

Jadinya tak jarang harus menggunakan fitur ‘lupa kata sandi Anda’ pada beberapa akun tersebut. Lagi. Sekali lagi. Bila lupa, ya reset lagi kata sandinya. Berulang. Sampai bosan.

Harus ada cara agar kejadian lupa dengan kata sandi tak terulang lagi.

Harus. Karena saya bukan gajah. Gajah? Ya, seperti novel detektif Agatha Christie. Gajah tak pernah lupa.

Manusia? Ya, itulah saya. Manusia yang sering, atau tepatnya keseringan, lupa dengan kata sandi.

Tidur Nyenyak

Sudah lama ingin bisa tidur nyenyak. Sepertinya hal yang mudah untuk dilakukan. Ternyata tidak. Mengantuk itu jelas. Bahkan tak terlalu masalah tidur di mana pun juga. Dengan situasi yang seperti apapun itu.

Tapi pikiran tak mau berhenti berputar-putar. Itu yang bikin susah tidur. Padahal ingin sekali bisa tidur nyenyak.

Sudah lama ingin bisa tidur nyenyak…

Interkoneksi Konten Jejaring Sosial

Canggih ketika seseorang cukup memperbarui status Facebook dan secara otomatis apa yang dia tuliskan juga ditampilkan di Twitter. Memposting blog di WordPress atau Tumblr dan seketika itu juga kontennya muncul di Facebook dan Twitter. Ada interkoneksi antara jejaring sosial. Kemudian tanpa disadari, pembaharuan konten tersebut muncul di RSS yang dilanggani oleh pengikut. Mungkin pula tampil melalui newsletter melalui email. Memang canggih.

Namun juga ada resikonya. Saat tak sadar bahwa ada interkoneksi seperti itu, konten yang tak seharusnya muncul di suatu jejaring sosial malah muncul. Tak sengaja. Lupa kalau terkoneksi sehingga otomatis menampilkan konten terbaru dari stream konten jejaring yang lainnya. Selain itu bisa terasa seperti spammy. Yang membuat orang lain dalam jejaring menjadi jengah. Padahal tak sengaja.

Cara menghindarinya bagaimana? Lihat bagian pengaturan apakah ada interkoneksi seperti itu. Atur dengan seksama. Dengan begitu tak tumpang tindih. Baru saja saya kaget karena tiba-tiba ingat bahwa posting ke Tumblr lewat email ternyata langsung tampil di Twitter.

Bagaimana dengan Anda, apakah mengaktifkan interkoneksi konten jejaring sosial yang bervariasi? Atau sebaliknya, membuat jejaring sosial berdiri sendiri-sendiri tanpa ada interkoneksi?