Negara Galau Karena Mata Uang

Ingatkah dengan suatu masa di mana Rupiah turun drastis nilainya berbanding Dolar Amerika beberapa tahun yang lalu? Satu Dolar Amerika yang semula bisa ditukar dengan dua ribu Rupiah tiba-tiba berubah drastis. Satu lembar Dolar Amerika bisa sama nilainya dengan satu lembar uang sepuluh ribu Rupiah. Yang menyimpan Dolar Amerika bisa mendadak kaya. Sebaliknya, yang memegang uang rupiah menjadi lebih miskin. Maklum, daya beli pun menjadi berkurang banyak.

Namun tak semua orang di tanah air menjadi sedih. Para eksportir senang karena harga ekspor menjadi lebih kompetitif sehingga ekspor meningkat tajam. Ekonomi pun mendapat angin segar karena perputaran barang menjadi lebih lancar. Tentu saja, di balik itu, para importir di tanah air jadi pusing tujuh keliling karena membeli barang impor menjadi berkali-kali lebih mahal daripada sebelumnya. Ingat bahwa Indonesia mengimpor banyak beras, bahan bakar, dan bahan mentah dari luar negeri. Bahkan hingga kedelai.

Lalu bagaimana dengan negara-negara maju yang memiliki kurs tinggi? Daya beli negara tersebut memang kuat. Bisa melakukan investasi di luar negeri. Rakyatnya bisa berjalan-jalan di luar negeri (yang memiliki kurs rendah) lebih lama daripada biasanya. Tapi tak semuanya mengenakkan. Ekspor pun tertatih-tatih. Roda ekonomi terancam tidak bisa berjalan dengan lancar.

Contohnya Jepang, salah satu negara di dunia dengan tingkat ekonomi yang paling kuat. Yen menguat belakangan ini sehingga ekspor mereka tersendat. Bahkan sempat terjadi deflasi. Solusi pun harus diambil. Perdana Menteri mereka pun mengambil kebijakan ekstrim, yang lebih dikenal dengan Abenomics, dengan salah satunya menurunkan nilai tukar Yen sehingga tak terlalu kuat. Dan menaikkan laju inflasi untuk meningkatkan harga barang sekaligus gaji kebanyakan orang. Sepertinya itu tindakan aneh. Tapi harus diambil.

Negara Eropa pun tak lepas dari ‘kegalauan’ mata uang Euro mereka. Ekspor tak juga selancar sebelumnya. Terlebih lagi ada fakta bahwa negara-negara di bagian dunia yang lain pun ekonominya melemah sehingga tak bisa membeli banyak barang lagi dari Eropa. Ekspor tak lancar lagi-lagi bikin banyak perusahaan gulung tikar. Banyak karyawan pun dirumahkan. Ekonomi menjadi stagnan.

Mata uang memang bisa membuat suatu negara maju. Di lain waktu, bisa mendorong suatu negara ke dalam jurang kehancuran. Hebatnya lagi, mata uang selalu berubah setiap saat. Baik secara natural atau pun karena direkayasa, baik oleh pemerintah suatu negara atau disetir oleh lembaga-lembaga keuangan global. Setiap perubahan nilai tukarnya membuat banyak negara ‘galau’ khawatir jika perubahan tersebut memberi efek yang tidak diinginkan.

Sepintas terpikir. Apakah mungkin dunia sepakat untuk memakai mata uang yang sama sehingga gejolak ekonomi karena perubahan mata uang bisa dicegah? Sepertinya tak mudah. Coba lihat mata uang Euro. Meskipun sudah dipakai bersama-sama di antara negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa, toh tak semuanya diuntungkan. Malah ada yang buntung dan tergolong negara yang default hutangnya. Jadi, ya, untuk sementara ini, kita akan tetap mendengar tentang berita mengenai perubahan nilai tukar mata uang dan efeknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s