Bekerja di Bawah Tekanan

Sampai sekarang saya selalu merasa aneh dengan frasa ‘bekerja di bawah tekanan’. Seperti yang umumnya terdapat di iklan lowongan pekerjaan. Bahasa Inggrisnya be able to work under pressure‘. Ada ilustrasi bahwa posisi yang ditawarkan memang mensyaratkan orang tersebut mampu (dan mau?) untuk bekerja dalam kondisi yang kurang menyenangkan.

Bayangan yang muncul adalah bos yang selalu tak henti-hentinya memberi tenggat waktu yang susah dipenuhi, diburu oleh para klien, disuruh-suruh melakukan banyak tugas yang mau tak mau harus diselesaikan. Intinya, ditekan. Tertekan? Itu urusan pribadi. Dengan alasan, bila tak sanggup ‘bekerja di bawah tekanan’ maka tak seharusnya menerima pekerjaan ini. Hanya yang kuat dan tabah yang seyogyanya menerima ‘amanah’ pekerjaan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan banyak orang yang stres karena terlalu jenuh dengan pekerjaannya? Ya, itu kembali lagi ke masing-masing orang yang dengan siap sedia melamar dan mendapatkan posisi pekerjaan yang penuh tekanan tersebut.

Memperbudak diri sendiri? Mungkin tidak sedramatis seperti itu. Para bos selalu mencoba memotivasi anak buahnya bahwa yang bisa bertahan dalam tekanan pekerjaan boleh jadi suatu hari mendapat promosi di posisi yang lebih tinggi. Hirarki naik, tekanan tambah menjadi-jadi? Ya, pasti! Oleh karena itu, semakin tinggi posisi orang, makin stres karena harus mampu bertahan dari ‘tekanan’ pekerjaan yang jauh lebih menekan secara mental, fisik, dan emosional. Hasilnya? Orang-orang di posisi yang lebih tinggi lebih pendek sumbu kesabarannya. Alhasil, ledakan emosi diluapkan ke orang-orang dengan posisi lebih rendah.

Tekanan semakin menguat dari hari ke hari. Toh, tak ada yang harus disalahkan. Semua orang sudah dengan sukarela (sebenarnya mungkin juga tidak) mengambil posisi di mana syaratnya ‘mampu bekerja di bawah tekanan’.

Bagaimana dengan Anda sendiri, apakah Anda termasuk orang yang mampu bekerja di bawah tekanan? Kalau memang iya, resiko mendapatkan perasaan tertekan dan stres merupakan konsekuensi yang Anda ambil sendiri.

Iklan

One Reply to “Bekerja di Bawah Tekanan”

  1. Sejatinya setiap orang punya kemampuan untuk bertahan dalam persoalan yang dihadapi. Secara alami, ada 2 mode: fight or fly, hadapi atau lari.
    Orang bijak berkata: orang dicobai nggak lebih dari kemampuannya.
    Lah kalau gak sanggup lagi? Ya resign aja, gitu aja kok repot…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s