Seandainya Saja Saya Punya Waktu

Ah, lirik lagu If I Only Had Time yang dilantunkan oleh John Rowles membuat saya selalu teringat untuk tak membuang waktu. Menggunakan kesempatan sebaik-baiknya. Juga untuk menikmati setiap momen dalam kekinian. Detik demi detik. Menit. Jam. Hingga ke Bulan dan Tahun.

Dan sering kali membuat saya teringat saja. Tak lebih dan tak kurang. Ya, kadang-kadang saja membuat saya jadi ‘geregetan’ dengan langkah hidup yang rasanya melambat saat ini dan kemudian mengeluarkan ‘tenaga dalam’. Beranjak dan berbuat sesuatu.

Menyoal refren dari liriknya, benar adanya bahwa kebanyakan orang selalu membilang ‘kalau saja punya waktu, saya akan melakukan ini dan itu’. Nyatanya ya waktu berlalu. Hanya penyesalan yang dituai. Time is Up! Nah, kalau seperti itu ya sudah, mau apa lagi…?

So much to do

If I only had time, if I only had time

Dreams to pursue

If I only had time they’d be mine

Drone

Drone. Pesawat tanpa awak. Rupanya ada kegairahan dan minat yang tinggi akan pesawat yang bisa terbang sendiri tanpa atau hanya membutuhkan sedikit bantuan dari manusia. Bisa terbang dengan manuver tinggi karena tak harus mempertimbangkan resiko bila dikendarai oleh manusia yang rentan akan daya gravitasi, tingkat konsentrasi, dan kelelahan yang jelas akan mempengaruhi kemampuan menerbangkan pesawat.

Banyak yang berpikir bahwa drone bisa membantu manusia dalam kehidupan ini. Sebagai perlindungan udara dengan kapabilitas tinggi sekaligus dapat dikorbankan karena tak ada nyawa manusia yang dipertaruhkan. Sebagai alat pengintai tempat yang dilanda bencana yang sangat parah dan berbahaya bagi manusia. Transporter otomatis yang bekerja secara reguler. Dan tentunya ada banyak fungsi yang belum ditemukan faedahnya namun akan sangat membantu manusia.

Sayangnya, bila drone bisa bertindak atas dirinya sendiri bagaimana bila malah membahayakan manusia. Terutama drone yang memang dipersiapkan untuk perang atau serangan secara agresif. Semisal bila ada virus yang menjangkiti sistem berpikirnya. Mungkin juga bila sistem operasinya tak bekerja secara seperti seharusnya. Seperti yang terlihat di berbagai film tentang masa depan di mana drone malah membunuhi manusia.

Namun tak masalah apakah drone akan membantu atau malah membahayakan, manusia akan terus mencoba untuk menciptakan lebih banyak drone yang tentunya akan makin pintar dan canggih. Sebentar lagi angkasa tak hanya diisi oleh penerbangan komersial atau pesawat militer saja. Langit biru akan dipenuhi oleh drone yang bekerja dengan otonomi seperti yang sudah diprogramkan dan ditugaskan. Baik yang ukurannya besar, menengah, atau pun yang kecil.

Keperawanan?

Nilai tukar Rupiah terimbas negatif dibanding Dollar Amerika, pun Dollar Singapura. Pengungsi berbagai bencana alam yang masih belum jelas nasibnya. Pembunuhan terhadap aparat keamanan negara di berbagai kota di tanah air. Namun yang sedang heboh diberitakan karena dipersoalkan oleh pemangku negara adalah… keperawanan?

Sungguh mengherankan. Selaput yang tipis tersebut nyatanya selalu membuat penasaran banyak orang. Penting atau tidaknya itu sebaiknya menjadi perihal pribadi masing-masing individu. Bukan urusan pemerintah, pemangku keagamaan, atau pun orang-orang yang mengada-ada.

Mari membahas hal-hal yang lebih signifikan dan memerlukan perhatian kita.

Banyak Ultah di Bulan Agustus

Suatu kali saya pernah berbincang dengan rekan mengapa banyak orang yang berulangtahun pada bulan Agustus. Sesuatu yang saya dapati ketika melihat daftar ulang tahun teman-teman di Facebook yang secara mencolok banyak berjibun di bulan Agustus.

Pemikiran kami rupanya sama. Banyak orang dilahirkan pada bulan kedelapan karena begitu banyaknya para orangtua yang melakukan kegiatan reproduksi, baca berbuat intim layaknya (dan memang sebenarnya) suami istri, di bulan Desember. Pas di mana cuacanya dingin disertai hujan yang membuatnya sangat mendukung untuk terjadinya perbuatan yang menghasilkan insan-insan manusia yang terlahir di bulan Agustus.

Pun ditambah dengan fenomena yang umum terjadi bahwa bulan Desember merupakan saat favorit untuk hari pernikahan. Ada liburan panjang di pergantian tahun yang cocok untuk digunakan sebagai bulan madu. Disertai dengan gaji ke-13 atau bonus akhir tahun yang mendukung penyelenggaraan pesta pernikahan yang cukup menguras uang.

Ada tambahan teori bahwa orang-orang yang berulangtahun di bulan Agustus cenderung anak pertama. Ya, terkait dengan prokreasi yang terjadi saat bulan madu di bulan Desember tadi. Namun tak menutup kemungkinan bahwa mereka yang berulangtahun di bulan Agustus bisa jadi anak kedua atau berikutnya.

Lalu mengapa tak semua orang tak berulangtahun pada bulan Agustus saja? Ya, karena proses prokreasi tak hanya berlangsung di bulan Desember. Setiap pasangan boleh melakukannya kapan saja. Itu yang menyebabkan adanya orang-orang yang berulangtahun di bulan selain bulan Agustus. Omong-omong, bagaimana dengan Anda, ulang tahun di bulan apa?

Sehari Tanpa Ponsel, Bisakah?

Bernafas. Makan. Minum. Tidur. Kegiatan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Untuk di jaman sekarang, sepertinya ada satu lagi kegiatan yang ‘wajib’ untuk dilakukan. Yaitu memegang, mengulik, mengoperasikan ponsel. Di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun. Memang tak semua orang merasa ponsel itu maha penting. Tapi nyatanya banyak yang merasa ‘hidup jadi tak hidup’ tanpa kehadiran ponsel. Yang anehnya, sering menjadi lebih penting daripada kehadiran insan manusia yang lain.

Pertanyaan untuk kita semua. Apakah kita bisa hidup tanpa ponsel untuk sehari saja? 

Pertanyaan selanjutnya. Bila sehari bisa. Bagaimana kalau satu minggu. Atau satu bulan? Lebih menantang lagi, satu tahun? 

Mungkin pertanyaan di atas tak perlu dijawab. Merupakan masing-masing individu untuk memutuskan apakah ketidakhadiran ponsel akan membuat pemakainya tersiksa dan susah hidup.

Keberanian Untuk Menulis

Ah, masak sih menulis saja harus punya keberanian. Bukannya menulis itu mudah. Benarkah semudah itu? Bila menulis itu mudah nyatanya tak semua orang menulis. Padahal kegiatan menulis itu sama perlunya dengan berbicara. Lalu, apa sih yang menyebabkan orang takut untuk menulis?

Pertama, orang kurang berani menulis karena khawatir tulisannya tidak menarik untuk dibaca dirinya sendiri atau orang lain. Ada begitu banyak ide dan pemikiran tapi urung untuk dibagikan secara tertulis. Padahal sesuatu yang tidak menarik bagi satu orang bukan berarti tak menarik bagi orang lainnya.

Kedua, orang takut menulis karena menganggap kegiatan tulis-menulis itu memerlukan teknik merangkai kata-kata tingkat tinggi. Jadi mereka menyerahkan kegiatan penulisan kepada para sastrawan dan penulis kawakan. Mereka tidak sadar bahwa para penulis, sehebat apapun, dulunya juga mulai menulis yang sederhana, sering melakukan kesalahan, dan tidak tahu menulis dengan baik dan benar. Bedanya mereka berani menulis, dengan segala kesalahan dan ketidaksempurnaan mereka, yang dilandasi dengan semangat berbagi pikiran dan minat berkreasi yang tinggi melalui medium tulisan.

Ketiga, ternyata banyak orang yang tak berani menggoreskan pena di kertas atau mengetikkan huruf-huruf di papan kunci komputer karena meremehkan keinginan mereka untuk menulis. Alasannya, menulis itu bukan hal yang penting. Menulis itu tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Menulis itu buang-buang waktu. Ada memang keinginan untuk berkarya dalam bentuk tulisan namun mereka menegasikan bahwa menulis itu hal yang kurang esensial dalam hidup ini.

Yang terakhir, lucunya banyak juga yang berpikir bahwa mereka takut menulis karena cemas suatu waktu nanti kehabisan inspirasi menulis, writer’s block, atau pun tak ada ide baru di benak. Kenyataannya tak seperti itu. Bila memang punya niat yang menyala-nyala, siapapun juga dapat terus-menerus menulis. Lagipula, apa yang terjadi di masa depan tak harus dikhawatirkan saat ini. Menulislah untuk hari ini. Saat ini juga. Besok, ya urusan besok.

Empat alasan di atas sering menjadi batasan untuk menulis. Wajar jika banyak orang berpikir bahwa orang yang bisa menulis itu sangatlah hebat. Padahal siapapun juga bisa menulis. Menulis tak harus bagus dan sempurna. Menulis saja secara rutin. Pikirkan kuantitas dan menulis sebanyak-banyaknya. Dan pada waktunya nanti, tulisan yang berkualitas akan muncul dengan sendirinya. Paulo Coelho, J.K. Rowling, dan banyak penulis lainnya mulai dari merangkai kata tanpa makna yang berlepotan. Toh, mereka tetap menulis. Hingga pada suatu waktu, mereka berhasil memunculkan tulisan yang berkualitas untuk dinikmati oleh diri mereka sendiri maupun bagi para pembaca di seluruh dunia.

Omong-omong, apakah ada di antara Anda yang takut menulis? Bila ya, alasannya apa?

Keberanian untuk Menulis

Ah, masak sih menulis saja harus punya keberanian. Bukannya menulis itu mudah. Benarkah semudah itu? Bila menulis itu mudah nyatanya tak semua orang menulis. Padahal kegiatan menulis itu sama perlunya dengan berbicara. Lalu, apa sih yang menyebabkan orang takut untuk menulis?

Pertama, orang kurang berani menulis karena khawatir tulisannya tidak menarik untuk dibaca dirinya sendiri atau orang lain. Ada begitu banyak ide dan pemikiran tapi urung untuk dibagikan secara tertulis. Padahal sesuatu yang tidak menarik bagi satu orang bukan berarti tak menarik bagi orang lainnya.

Kedua, orang takut menulis karena menganggap kegiatan tulis-menulis itu memerlukan teknik merangkai kata-kata tingkat tinggi. Jadi mereka menyerahkan kegiatan penulisan kepada para sastrawan dan penulis kawakan. Mereka tidak sadar bahwa para penulis, sehebat apapun, dulunya juga mulai menulis yang sederhana, sering melakukan kesalahan, dan tidak tahu menulis dengan baik dan benar. Bedanya mereka berani menulis, dengan segala kesalahan dan ketidaksempurnaan mereka, yang dilandasi dengan semangat berbagi pikiran dan minat berkreasi yang tinggi melalui medium tulisan.

Ketiga, ternyata banyak orang yang tak berani menggoreskan pena di kertas atau mengetikkan huruf-huruf di papan kunci komputer karena meremehkan keinginan mereka untuk menulis. Alasannya, menulis itu bukan hal yang penting. Menulis itu tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Menulis itu buang-buang waktu. Ada memang keinginan untuk berkarya dalam bentuk tulisan namun mereka menegasikan bahwa menulis itu hal yang kurang esensial dalam hidup ini.

Yang terakhir, lucunya banyak juga yang berpikir bahwa mereka takut menulis karena cemas suatu waktu nanti kehabisan inspirasi menulis, writer’s block, atau pun tak ada ide baru di benak. Kenyataannya tak seperti itu. Bila memang punya niat yang menyala-nyala, siapapun juga dapat terus-menerus menulis. Lagipula, apa yang terjadi di masa depan tak harus dikhawatirkan saat ini. Menulislah untuk hari ini. Saat ini juga. Besok, ya urusan besok.
Empat alasan di atas sering menjadi batasan untuk menulis. Wajar jika banyak orang berpikir bahwa orang yang bisa menulis itu sangatlah hebat. Padahal siapapun juga bisa menulis. Menulis tak harus bagus dan sempurna. Menulis saja secara rutin. Pikirkan kuantitas dan menulis sebanyak-banyaknya. Dan pada waktunya nanti, tulisan yang berkualitas akan muncul dengan sendirinya. Paulo Coelho, J.K. Rowling, dan banyak penulis lainnya mulai dari merangkai kata tanpa makna yang berlepotan. Toh, mereka tetap menulis. Hingga pada suatu waktu, mereka berhasil memunculkan tulisan yang berkualitas untuk dinikmati oleh diri mereka sendiri maupun bagi para pembaca di seluruh dunia.

Omong-omong, apakah ada di antara Anda yang takut menulis? Bila ya, alasannya apa?