Keberanian untuk Menulis

Ah, masak sih menulis saja harus punya keberanian. Bukannya menulis itu mudah. Benarkah semudah itu? Bila menulis itu mudah nyatanya tak semua orang menulis. Padahal kegiatan menulis itu sama perlunya dengan berbicara. Lalu, apa sih yang menyebabkan orang takut untuk menulis?

Pertama, orang kurang berani menulis karena khawatir tulisannya tidak menarik untuk dibaca dirinya sendiri atau orang lain. Ada begitu banyak ide dan pemikiran tapi urung untuk dibagikan secara tertulis. Padahal sesuatu yang tidak menarik bagi satu orang bukan berarti tak menarik bagi orang lainnya.

Kedua, orang takut menulis karena menganggap kegiatan tulis-menulis itu memerlukan teknik merangkai kata-kata tingkat tinggi. Jadi mereka menyerahkan kegiatan penulisan kepada para sastrawan dan penulis kawakan. Mereka tidak sadar bahwa para penulis, sehebat apapun, dulunya juga mulai menulis yang sederhana, sering melakukan kesalahan, dan tidak tahu menulis dengan baik dan benar. Bedanya mereka berani menulis, dengan segala kesalahan dan ketidaksempurnaan mereka, yang dilandasi dengan semangat berbagi pikiran dan minat berkreasi yang tinggi melalui medium tulisan.

Ketiga, ternyata banyak orang yang tak berani menggoreskan pena di kertas atau mengetikkan huruf-huruf di papan kunci komputer karena meremehkan keinginan mereka untuk menulis. Alasannya, menulis itu bukan hal yang penting. Menulis itu tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Menulis itu buang-buang waktu. Ada memang keinginan untuk berkarya dalam bentuk tulisan namun mereka menegasikan bahwa menulis itu hal yang kurang esensial dalam hidup ini.

Yang terakhir, lucunya banyak juga yang berpikir bahwa mereka takut menulis karena cemas suatu waktu nanti kehabisan inspirasi menulis, writer’s block, atau pun tak ada ide baru di benak. Kenyataannya tak seperti itu. Bila memang punya niat yang menyala-nyala, siapapun juga dapat terus-menerus menulis. Lagipula, apa yang terjadi di masa depan tak harus dikhawatirkan saat ini. Menulislah untuk hari ini. Saat ini juga. Besok, ya urusan besok.
Empat alasan di atas sering menjadi batasan untuk menulis. Wajar jika banyak orang berpikir bahwa orang yang bisa menulis itu sangatlah hebat. Padahal siapapun juga bisa menulis. Menulis tak harus bagus dan sempurna. Menulis saja secara rutin. Pikirkan kuantitas dan menulis sebanyak-banyaknya. Dan pada waktunya nanti, tulisan yang berkualitas akan muncul dengan sendirinya. Paulo Coelho, J.K. Rowling, dan banyak penulis lainnya mulai dari merangkai kata tanpa makna yang berlepotan. Toh, mereka tetap menulis. Hingga pada suatu waktu, mereka berhasil memunculkan tulisan yang berkualitas untuk dinikmati oleh diri mereka sendiri maupun bagi para pembaca di seluruh dunia.

Omong-omong, apakah ada di antara Anda yang takut menulis? Bila ya, alasannya apa?

Iklan

2 Replies to “Keberanian untuk Menulis”

  1. tulisan yang –jujur– sangat menginspirasi. dibutuhkan keberanian untuk menulis, bener banget itu.

    kalau ditanya, apa alasan takut menulis? kalau menulis untuk diri sendiri merasa lebih enjoy. tapi, kalau untuk dikirim ke media, takutnya itu ditolak… hehehe

    Suka

    1. Memoar Biru, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Kirim saja ke media. Kalau ditolak tak mengapa. Toh belum tahu bakal ditolak atau diterima. Sama seperti cinta. Yang penting mencintai. Perkara ditolak atau diterima itu di tangan orang lain. Yang penting sudah mencoba.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s