Kecanduan Pinterest

Ngapain sih banyak orang menghabiskan waktu dengan membuka Pinterest? Heran saya. Bukannya hanya melihat-lihat gambar? Bedanya apa dengan melakukan pencarian gambar dari mesin pencari? Lebih praktis melihat ratusan gambar yang menarik dari mesin pencari ketimbang harus membuka Pinterest. Ditambah dengan ‘kerepotan’ ketika ingin ‘Pin’ atau ‘menyimpan’ gambar ke dalam koleksi gambar di akun Pinterest pribadi.

Saya sudah pernah mencoba Pinterest. Dulu sekali. Dan saat itu tidak tertarik. Sekarang?

Nah itu dia. Saya mencobanya sekali lagi. Sekaligus mengunduh aplikasi Pinterest di iPhone. Ternyata menarik. Ada banyak gambar yang menarik. Dan justru ‘Pin’ yang merepotkan itu malah sesuatu yang memudahkan untuk mengulik koleksi gambar yang disukai. Ditambah bisa mengikuti para pengguna Pinterest yang lain, sesuai dengan koleksi gambar yang mereka sukai. Jika Anda menyukai gambar-gambar Paris, bisa mengikuti pengguna yang mengoleksi gambar yang terkait Paris; maka akan ada pembaruan konten gambar-gambar Paris yang Anda memang sukai.

Dan karena Pinterest menampilkan gambar-gambar yang memang di-Pin oleh penggunanya maka kualitas gambarnya relatif lebih bagus ketimbang gambar-gambar yang digali dan dikumpulkan oleh robot-robot mesin pencari yang tentunya tak memiliki cita rasa visual seperti manusia. Lagipula gambar-gambar di mesin pencari tak bisa dengan mudah disimpan secara online. Bahkan bila diklik, belum tentu gambar tersebut muncul dengan sempurna karena bisa jadi hanya berkas arsip di mana gambar aslinya sudah terhapus dari server.

Intinya, Pinterest menarik karena gambar-gambarnya yang kualitasnya bagus. Gambarnya pun dapat dikoleksi. Dapat dilihat di situsnya melalui mesin perambah. Pun dapat diakses melalui ponsel pintar dan tablet. Dan yang jelas, sesuatu yang visual memang memiliki efek adiktif. Nagih! Baik gambar yang berupa foodorgasm, figur model yang sensual, atau pun pemandangan kota yang aduhai. Sungguh bikin nagih!

Disclaimer: saya bukan hendak promosi Pinterest dan hanya pengguna yang rupanya senang mengulik gambar tanpa henti.

Menjelajah Negeri Sendiri

Akhir-akhir ini saya memiliki keinginan untuk menjelajahi negeri sendiri. Banyak cerita dari berbagai orang mengenai kota dan tempat di tanah air membuat saya penasaran. Padahal dahulu saya tak tertarik sama sekali untuk mengetahuinya apalagi mengunjunginya. Dulu inginnya kalau jalan-jalan ya harus kota-kota di negara lain. Melihat dunia yang sama sekali lain dibanding kota dan negara sendiri.

Lambat laun, saya mulai menyimak dengan sungguh-sungguh tentang beberapa tempat di tanah air. Seperti kota Banjarmasin yang kebetulan sedang diulas di acara kuliner. Cerita pengalaman seru tentang Papua. Teman yang berasal dari Malang yang terkenal akan buah apelnya. Pun Surabaya yang katanya makanannya lezat. Pun ada gunung, lembah, dan pantai yang sepertinya menawan. Semisal Gunung Bromo. Sungguh saya belum pernah pergi ke tempat-tempat tersebut. Kecuali Bali tentunya meskipun saat itu saya masih terlalu kecil sehingga tak terlalu ingat akan keindahan Pulau Dewata tersebut.

Sepertinya saya alpa untuk menikmati apa yang ditawarkan oleh negeri sendiri. Terlalu ‘sibuk’ untuk melihat dunia. Toh, di lain sisi, banyak turis asing yang sangat ingin untuk berkunjung ke Indonesia. Bahkan banyak yang ingin tinggal lebih lama sehingga bisa menjelajah lebih banyak obyek wisata, belajar budaya, dan mengenal penduduk lokal.

Ada kesan bahwa ‘yang di luar negeri itu bagus-bagus’ dan ‘lebih bagus dari yang di dalam negeri’. Karena itu saya selalu tertarik untuk melihat ke luar. Bukan ke dalam. Oleh karena itu, saya jadi ingin jalan-jalan di dalam negeri. Masak turis asing lebih familiar dengan bangsa sendiri. Aneh, kan? Saya juga ingin menghimbau agar kita sebagai warna negara hendaknya rajin mempromosikan daerah masing-masing ke teman, keluarga, dan banyak orang. Dengan begitu, turisme domestik semakin meningkat. Sekaligus meningkatkan rasa nasionalisme dan bisa memahami orang dari daerah lainnya.

Mari menjelajah negeri sendiri! Omong-omong, kota atau daerah apa yang ingin Anda kunjungi dalam waktu dekat ini?

Kota Malang

Sungguh malang bahwasannya saya tak tahu apapun tentang Kota Malang. Kota di mana salah satu teman saya kuliah berdomisili saat ini. Saya hanya sering mendengar kota tersebut terkait dengan korupsi para pejabat. Lho? Bukan, bukan pejabat kota tersebut yang suka korupsi. Tapi para oknum pejabat yang diberi imbalan dengan dua pilihan, ‘Apel Malang’ yang berarti Rupiah atau ‘Apel Washington’ yang tak lain adalah Dollar Amerika. Selain itu tentunya popularitas kota tersebut sebagai produsen buah Apel yang berwarna hijau dan ukurannya relatif mungil.

Saya juga belum pernah mengunjungi kota tersebut. Padahal jarak Kota Yogya dengan Kota Malang tak terlalu jauh. Bisa dijangkau dengan kereta api yang dilayani oleh Malioboro Express. Pun ada bis antar kota dan mobil travel. Konon dikatakan bahwa Kota Apel tersebut juga mirip dengan Kota Gudeg; yaitu sama-sama kota pendidikan. Benarkah? Sungguh saya tak yakin benar.

Baiklah, sepertinya hanya satu cara untuk mengetahui kota tersebut seperti apa. Yaitu dengan berkunjung dan jalan-jalan di kota tersebut. Melihat dengan mata sendiri, merasakan makanannya, dan menapaki jalanannya. Hmm, kapan ya…?

Untuk sementara ini, bila Anda merasa familiar dengan Kota Malang, silakan membagi apa yang Anda ketahui tentang kota tersebut di kolom komentar. Sungguh, saya penasaran dengan kota ini.

Belajar Coding

Menguasai bahasa pemprograman komputer menjadi salah satu obsesi kecil saya. Penasaran. Dulunya memang pernah sedikit mengulik bahasa HTML dengan level introduksi. Namun itu bertahun-tahun yang lalu. Pernah juga mendapat kesempatan untuk belajar privat tentang pengenalan programming. Pun ditambah membaca sumber referensi tentang bagaimana menulis kode-kode komputer. Hasilnya masih belum signifikan. Masih belum bisa coding.

Bila dirunut memang saya mengabaikan satu hal. Sama halnya seperti mempelajari bahasa manusia seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Jepang, bahasa pemrograman harus dilakukan secara rutin. Bila terhenti, apalagi cukup lama rentang waktunya, tentunya bahasa tersebut akan hilang seraya waktu. Harus mengulang lagi dari awal.

Jadi sepertinya memang harus meluangkan waktu untuk belajar coding dengan mempraktekkannya dengan rutin. Baik melalui buku panduan, mencari referensi di Internet, atau pun mencoba-coba sendiri. Harus memulai. Harus melatih dan menambah pengalaman coding setiap harinya. Semoga saya bisa coding meskipun harus sedikit demi sedikit.