Kota Pariwisata dan Kualitas Taksi

Sore ini saya merasa jengkel dengan yang namanya layanan taksi di kota asal saya, Yogyakarta. Sudah menelepon dan jelas mendapat konfirmasi adanya taksi yang meluncur ke rumah saya. Ditunggu ternyata tak kunjung datang. Rupanya taksinya tersesat. Namun yang bikin geregetan karena pool taksi atau operatornya tak memberikan konfirmasi balik. Setelah ditelepon berulang-ulang malah terkesan menyalahkan calon penumpang. Acara bepergian pun ditunda dulu daripada emosi membuncah dan tensi darah naik. Patah arang ceritanya.

Pun beberapa saat sesudahnya, semua perusahaan taksi ditelepon. Hasilnya nihil. tak ada yang memiliki armada. Saya pun berinisiatif untuk ‘mengambil’ taksi di terminal bis dekat rumah. Saat saya dapati dua armada taksi. Yang pertama, sopirnya tertidur pulas. Istirahat, pasti tak mau jalan. Sedangkan satunya lagi, mau asalkan saya mau membayar ongkos taksi dengan tarif lebih mahal dan tanpa argo. Tak beruntung saya. Akhirnya saya putuskan kembali ke rumah dengan tanpa hampa. Sudah kadung jengkel untuk kedua kalinya.

Pun begitu, tak menyerah. Satu demi satu perusahaan taksi ditelepon. Hebatnya, tak ada yang mampu melayani permintaan. Armada sudah habis. Tak ada lagi yang tersedia. Jengkel karena untuk ketiga kalinya tak juga mendapatkan taksi. Dalam batin saya, masak sih sebegitu tragisnya. Taksi satu kota, yang dilayani oleh belasan perusahaan taksi, tak ada yang bisa dipanggil sama sekali. Yogyakarta kehabisan taksi? Hebat, bukan? Itu pun baru wilayah Kotamadya. Singkatnya, downtown Kota Gudeg ini. Ditambah dengan Kabupaten Sleman. Lalu bagaimana dengan mereka yang berdomisili di Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunung Kidul? Tak perlu tanya. Taksi merupakan layanan transportasi yang jarang dilihat. Apalagi digunakan di tiga kabupaten di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sewaktu berbincang dengan para sopir taksi, secara acak selama naik taksi berkali-kali, sebagian besar mengeluhkan kondisi perusahaan taksi yang ’sangat berkuasa dan menekan’, naiknya harga bahan bakar yang menurunkan fulus mereka, dan keluh kesah naik turunnya penumpang. Sepertinya secara sistemik, pengusaha atau pengelola taksi ingin menangguk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menekan sopir yang bergelut dengan jalanan sehari-hari. Boleh jadi, kondisi sopir yang diperlakukan seperti ’sapi perah’ membuat mereka bekerja tak lagi dengan hati riang, lebih suka tanpa argometer, dan jauh dari kesan profesional. Padahal sebetulnya banyak sopir yang ramah, enak diajak mengobrol, dan pekerja keras untuk menjaga asap dapur tetap mengepul.

Yang disayangkan sebenarnya bukan kualitas sopirnya semata. Namun keseluruhan layanan dari mulai memanggil taksi hingga diantar ke tempat tujuan oleh sopir taksi. Makin lama makin sembarangan. Terbukti dengan permintaan layanan antar namun tak mau menggunakan argometer. Susahnya minta ampun untuk mendapatkan taksi dengan cara menelepon. Juga masalah kecil seperti memberi uang kembalian. Padahal Yogyakarta bukan kota kecil. Bahkan kota pariwisata nomer dua di Indonesia setelah Bali. Masak sih tak bisa memberikan layanan taksi, layanan transportasi publik untuk individual, yang bertaraf internasional. Mengecewakan bagi penduduk maupun turis manca dan turis lokal. Ada rasa frustasi dan kecewa saat hendak menggunakan layanan taksi. Harus ada solusi untuk perbaikan layanan taksi. Malu, kan, bila Yogyakarta dianggap kota yang tak mampu memberikan layanan transportasi yang layak kepada masyarakat dan tamunya.

Iklan

2 Replies to “Kota Pariwisata dan Kualitas Taksi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s