Inspirasi Kehidupan di Linimasa Facebook

Seperti kata banyak orang, jangan terlalu sering mengakses Facebook. Adiktif mengulik jejaring sosial bisa bikin bosan hidup, iri hati melihat foto-foto orang lain, dan membuang-buang waktu. Secukupnya saja terutama bila perlu mengontak teman atau kerabat. Begitu juga untuk membagi informasi atau kebahagiaan.

Yang kurang nyaman dari melihat linimasa sobat, keluarga, dan teman temannya teman adalah perasaan iri hati. Maklum karena yang dipajang di status Facebook biasanya yang bagus-bagus. Liburan ke luar negeri, makan di restoran, merayakan sesuatu, pernikahan, kelahiran, dan senang-senang. Meskipun biasanya orang hanya sesekali posting yang termasuk ‘happy moment’, toh, orang lain yang melihatnya bisa jadi merasa merana. Pertanyaan pun muncul. Kok hidup saya ga sebagus yang lain-lain, ya? Padahal itu hanya kesan semata.

Ternyata itu hanya sudut pandang saja. Boleh jadi, melihat orang lain menikmati kehidupan mereka justru menyemangati orang untuk merealisasikan impian mereka. Untuk bisa liburan, makan-makan dengan teman, dan having fun. Bahkan untuk memimpikan sesuatu yang lebih besar dan bermakna. Menikah, punya anak, dan membangun karir.

Linimasa Facebook banyak menampilkan hal menarik dari orang-orang di sekitar kita. Ada banyak inspirasi di sana. Bila ada teman atau kerabat yang sukses dalam hidup mereka, harusnya kita ikut senang. Juga tertantang untuk mewujudkan kebahagiaan kita sendiri.

Kembali lagi ke masing-masing orang. Membaca-baca linimasa Facebook bisa jadi bikin iri. Namun bila perspektifnya sudah benar, bersyukurlah kita bahwa teman dan kerabat kita cukup bahagia dan semoga saja kita juga ikut berbahagia. It would be a beautiful life with beautiful people around us!

Banjir Notifikasi

Saat jaman kakek nenek, telepon berdering merupakan sesuatu yang cukup istimewa. Telepon yang tersambung kabel tersebut hanya berdering bila ada hal yang sangat penting. Semisal berita kelahiran, undangan suatu acara, kematian kerabat. Bila tak penting maka tak berdering. Pun orang yang diseberang gagang telepon harus memperhatikan jam telepon. Tak asal ingin berbicara melalui telepon pada sembarang waktu.

Kemajuan jaman menjadikan telepon bisa dibawa-bawa ke mana saja. Telepon selular. Memang masih terbatas teknologinya. Bisa menelepon dan saling kirim sms. Mobilitas tak tinggi-tinggi amat karena terbentur ketersediaan operator dan biaya ponsel yang amat mahal. Tak semua orang punya. Hanya orang penting dan punya duit saja yang memilikinya. Gangguan mulai terasa bila sms datang saat sedang yang punya ponsel sedang makan atau sedang di jalan. Namun masih terbilang jarang.

Berbeda dengan generasi berikutnya yang memiliki ponsel pintar. Tak hanya telepon dan sms. Teknologinya makin canggih. Pemiliknya, yang mana kian banyak dan siapa saja bisa memilikinya, mampu membaca email secara langsung sekaligus membalasnya. Bisa terima pesan teks dari beragam aplikasi pesan Internet entah itu WhatsApp, BBM, Line, KakaoTalk, Skype. Pun mengulik sosial media mulai dari Facebook, Twitter, LinkedIn. Saling melihat gambar-gambar menarik dari Pinterest dan Instagram. Banyak hal bisa dilakukan dari sebuah ponsel pintar. Baik yang kualitasnya bagus maupun yang murahan.

Sayangnya, setiap aplikasi di ponsel pintar memiliki notifikasi masing-masing. Bila ada pesan yang masuk, ada pembaharuan gambar, ada ‘colekan’ dari teman di jejaring sosial. Bisa dinon-aktifkan. Hanya saja bila non-aktif, banyak orang ‘takut’ nanti ketinggalan berita atau momen. Jadilah notifikasi tetap aktif mengirim pemberitahuan bila ada pemutakhiran yang terbaru.

Alhasil sang empunya ponsel pintar pun kewalahan dengan berbagai notifikasi. Pada mulanya benci dengan notifikasi. Anehnya, lama-lama ‘mencandu’. Ada ketergantungan tersendiri dengan adanya notifikasi. Bila tak ada notifikasi yang berbunyi sebentar saja, malah sang empunya ponsel yang sering-sering cek layar hape mereka. Mungkin ada perasaan yang ‘hampa’ bila tak ada notifikasi. Boleh jadi notifikasi merupakan ‘denyut’ kehidupan yang lebih penting ketimbang denyut nadi.

Bagaimana dengan Anda, apakah sudah melakukan sesuatu dengan banjir notifikasi di ponsel pintar Anda? Atau, malah notifikasi sudah Anda matikan agar tak mengganggu kehidupan sehari-hari yang tak seharusnya digerogoti oleh notifikasi yang terlalu sering dan terlalu tidak penting…

Bogor, Kota Seribu Angkot

Tertawa saya saat membaca uraian di Wikipedia tentang reputasi Kota Bogor ini sebagai kota seribu angkot. Memang seberapa banyak sih sehingga bisa mendapat julukan seperti itu. Bukannya umum bila suatu kota memiliki banyak moda transportasi umum seperti bis atau mikrolet. Pasti cuma sejenis marketing gimmick saja. Julukan yang dipakai untuk menarik wisatawan.

Hanya saja saat saya berjalan-jalan di kota yang curah hujannya paling tinggi di nusantara ini, saya mengamini julukan tersebut. Saya pikir akan perlu waktu 5 atau 10 menit menunggu angkot yang membawa saya dari penginapan ke tengah kota. Salah. Dalam tempo kurang dari 10 menit, ada lebih dari 5 angkot yang lewat di depan saya. Padahal lokasi saya menginap cukup jauh dari tengah kota.

Sewaktu saya duduk menikmati perjalanan di dalam angkot yang sepertinya semuanya berwarna hijau dengan model dan merek mobil yang sama, sudah ada belasan angkot yang berpapasan atau saling menyalip. Banyak juga, batin saya dalam hati.

Nah, saat mencapai tengah kota di dekat Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor barulah saya melihat dengan mata kepala saya sendiri puluhan angkot yang berseliweran di jalanan tengah kota. Semuanya berwarna hijau. Bedanya hanya terletak pada nomer jalur dan nomer pembagian trayek. Terutama saat di lampu bangjo, berderet-deret angkot yang menyatu dengan mobil dan sepeda motor milik pribadi. Jalanan didominasi oleh angkot warna hijau tersebut.

Ongkosnya ternyata cukup bersahabat. 2500 ribu sekali jalan, terserah mau turun mana. Lajunya cukup sopan. Tidak ugal-ugalan. Bahkan terkesan sopir-sopirnya kenal baik dengan penumpang langganan mereka. Ada asumsi yang bisa ditarik bahwa banyak warga yang betul-betul bergantung pada keberadaan angkot ini untuk mengantarkan mereka beraktivitas sehari-hari.

Rupanya masyarakat Bogor lebih memilih menggunakan angkot ketimbang kendaraan pribadi. Wajar karena dengan banyaknya armada angkot dengan ongkos terjangkau, banyak lapisan masyarakat yang berpikir naik angkot lebih praktis dan ekonomis daripada menggunakan kendaraan pribadi. Sesuatu yang jarang terlihat di kota-kota di tanah air terutama di Pulau Jawa yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi sebagai transportasi utama.

Sayangnya, seperti yang saya dapatkan dari tuturan salah satu sopir asli Bogor yang sudah mengemudikan angkot belasan tahun, pemerintah daerah malah ingin mengurangi jumlah armada angkot. Padahal para sopir angkot berharap operasional angkot bisa mendapat subsidi dari pemerintah atau bantuan untuk peremajaan angkot. Bukannya subsidi BBM dan subsidi mobil ramah lingkungan yang lebih cenderung sebagai dalih mobil murah meriah dari produsen-produsen mobil asing.

Entah seperti apa kondisi transportasi umum di Bogor di tahun-tahun mendatang, saya masih berharap angkot-angkot di Bogor bisa beroperasi seperti saat ini. Ada begitu banyak angkot yang bisa mengantarkan orang ke banyak tempat di kota ini. Saya tak tahu pasti berapa banyak jumlahnya. Yang jelas memang begitu banyaknya sehingga jalanan didominasi warna hijau yang menjadi warna angkot-angkot tersebut. Tak tahu juga mengapa warna hijau dan bukannya warna lain. Meski tak berteknologi hijau, keberadaan angkot merupakan pilihan yang lebih ‘hijau’ dibanding merebaknya kendaraan pribadi seperti kota-kota lainnya.

Bogor memang kota yang memiliki jumlah angkot yang tak lumrah. Harus saya akui bahwa kota ini pantas mendapat julukan kota seribu angkot. Bogor memang identik dengan angkotnya. Aneh rasanya bila angkot menghilang dari jalanan di kota itu.

Menulis Tiap Hari

Untuk orang yang profesinya tidak mengharuskan memproduksi artikel atau tulisan tiap harinya, menulis itu sesuatu yang tak mudah. Banyak yang mengaku tak bisa menulis. Berpikir bahwa menulis itu suatu aktivitas yang menguras banyak pikiran dan tenaga. Pun banyak yang meragukan hasil tulisan mereka sendiri.

Berbeda dengan orang yang bekerja di media massa, agensi publik relasi, dunia pendidikan; mereka harus menulis setiap saat sebagai bagian dari pekerjaan. Suka atau tidak. Keharusan tersebut lambat-laun menjadi kebiasaan. Biasa menulis karena awalnya memang harus menulis atau memang sudah gemar menulis. Begitu dihadapkan pada kertas kosong, mesin ketik, atau komputer; mereka mampu menghasilkan tulisan.

Di lain sisi, menulis itu seharusnya menjadi suatu kebiasaan. Bukan lagi pada tataran keharusan. Menulis buku diari, mengisi jurnal sehari-hari, memproduksi catatan, atau pun refleksi kehidupan untuk pembelajaran diri sendiri. Toh, bila seseorang memiliki kebiasaan membaca boleh jadi juga memiliki kebiasaan menulis.

Banyak didapati buku atau artikel yang dibuat bukan oleh penulis. Justru oleh orang yang profesinya tidak melulu tentang menulis. Mereka menulis karena mereka biasa menulis sebagai bagian dari aktualisasi diri. Bukan karena punya cita-cita menjadi penulis. Menulis karena kebutuhan untuk menyampaikan pandangan, pemikiran, dan ide. Bukan *writing a book for the sake of making a book*.

Menulis seyogyanya menjadi kebiasaan setiap orang. Untuk mengutarakan pikiran, refleksi diri, dan juga catatan kehidupan. Bahkan seorang bijak pernah mengutarakan “setiap orang pasti mati, tetapi mereka yang meninggalkan tulisan akan dikenang dan hidup di benak banyak orang untuk waktu yang lebih lama”.

Hobi Membaca dan Kebiasaan Membaca

Baru saja saya tersadar bahwa hobi dan kebiasaan itu tak sama. Semisal aktivitas membaca. Ada perspektif yang berbeda antara hobi membaca dan kebiasaan membaca.

Mungkin di tanah air di mana tingkat membaca masih kurang, orang yang bilang bahwa hobinya membaca biasanya dianggap memiliki hobi yang positif. Hobi membaca mengasumsikan bahwa orang tersebut membaca lebih sering dan lebih banyak dibanding rata-rata orang.

Namun di negara lain, sebut saja Inggris dan di Jepang, rupanya jarang-jarang ada yang bilang memiliki hobi membaca. Apakah itu berarti mereka jarang membaca? Rupanya tidak. Justru membaca itu suatu kebiasaan sehari-hari. Membaca di mana saja. Baik di transportasi publik, di perpustakaan, di kafe, dan tentu saja di rumah. Membaca sudah menjadi kegiatan rutin sama seperti halnya makan, minum, dan mandi.

Bila masyarakat di negeri kita memiliki minat membaca yang lebih tinggi dibandingkan sekarang ini, bisa jadi di masa depan tak ada lagi yang menjawab aktivitas membaca sebagai hobi. Membaca akan menjadi kegiatan yang umum dilakukan di mana-mana dan oleh siapa saja.

Tiba-tiba saya jadi ingat dengan pemandangan sehari-hari di Kota Yogya. Banyak orang mengonsumsi buku, majalah, dan surat kabar setiap saat. Aktivitas ini tak hanya didominasi para pelajar, kaum terpelajar, dan cendekiawan. Para sopir bis, tukang becak, pekerja bangunan, dan penjual makanan di tepi jalan pun sering terlihat membaca saat beristirahat dan memiliki sedikit waktu luang.

Coba Anda tanya apakah membaca merupakan hobi mereka. Pasti mereka bakal tertawa kalau Anda berasumsi bahwa mereka punya hobi membaca. Mereka malah tertawa karena mereka berpikir sebuah hobi itu hanya untuk orang yang kaya, pintar, atau punya banyak waktu.

Uniknya meski mereka berpikir mereka tak terpelajar dan jelas tak punya waktu karena sibuk bekerja; mereka masih sempatkan waktu untuk menyerap kata demi kata yang tertulis. Karena untuk mereka, membaca itu bukan sekedar hobi. Membaca itu kebiasaan sehari-hari. Membaca itu salah satu kebutuhan hidup.

Coba bila kebiasaan membaca seperti di Kota Yogya juga berlaku di kota-kota lain di tanah air, bisa jadi makin banyak warga negara yang dicerahkan pemikirannya. Hobi membaca pun lambat laun sirna karena hobi membaca sudah berubah menjadi kebiasaan membaca.

Mati Karena Kerja Tiada Henti

Tragis. Itu yang orang bilang saat mendengar berita tentang kematian gadis muda belia di ibukota yang bekerja tanpa henti selama lebih dari 30 jam. Kelelahan. Jatuh koma. Kemudian meregang nyawa.

Sebenarnya fenomena kematian karena bekerja terlalu berlebihan itu sudah biasa. Banyak terjadi di negara-negara Asia Utara seperti Jepang dan Korea. Gabungan antara tuntutan profesional yang kurang manusiawi, kompetisi yang sudah tak lagi sehat, dan ambisi yang lebih besar daripada akal sehat mendorong orang untuk bekerja lebih dari takaran normal.

Kerja tiada henti juga sering ditemukan di China dan India. Dua negara dengan penduduk lebih dari satu milyar. Sama-sama negara produsen dengan kapasitas yang besar. Sayangnya produksi tinggi tersebut dihasilkan dari pekerja yang lembur tanpa memperhatikan kesehatan. Terus bekerja hingga kuota produksi tercapai.

Bahkan fenomena bekerja mati-matian ini juga didapati di benua Eropa dan Amerika. Bekerja 40 jam per minggu sepertinya menjadi sesuatu yang dirasa kurang. Kondisi ekonomi yang menurun drastis, pengurangan tenaga kerja, dan sistem bekerja yang menekankan pada produksi dibanding proses menyebabkan para karyawan pun mau tak mau bekerja sampai lelah daripada kehilangan pekerjaan. Tak peduli bos hingga karyawan magang semuanya bekerja tanpa henti.

Makin lama fenomena kerja tanpa henti ini makin merebak. Sudah dianggap sebagai bagian dari resiko dan tanggungjawab bekerja. Perusahaan pun juga makin senang bila ada karyawannya super rajin. Penghargaan dan fulus diberikan supaya memacu produktivitas yang melampau kuota sebelumnya. Toh, para muda dan tua pun makin ambisius. Dengan berbekal slogan, yang harusnya baik tapi disalahartikan, seperti You Only Live Once (YOLO). Bukannya mendapat hidup yang lebih berarti dan bahagia, namun justru kehilangan nyawa. Tidak hidup. Justru mati.

Padahal seyogyanya karena hidup itu hanya sekali maka harus dirawat dengan baik. Toh, banyak orang bisa mencapai kesuksesan yang mereka idamkan dalam kehidupan mereka tanpa harus mengorbankan nyawa mereka dengan bekerja mati-matian. Mungkin bedanya adalah pendekatan pada prosesnya. Proses menuju sukses merupakan proses yang membutuhkan waktu yang bertahap dan bisa jadi lama. Sesuatu yang sangat tidak disukai oleh generasi masa kini yang inginkan proses secepat-cepatnya untuk mencapai kesuksesan yang kilat.

Maunya sukses cepat. Malah mati cepat. Ini yang bikin miris.

Katembat

Namanya juga bahasa. Kotasaka bertambah sesuai kemajuan dan perubahan jaman. Selalu saja ada konteks baru yang membutuhkan kata baru yang bisa menjelaskan pesan atau arti yang dibawanya. Begitu juga dengan Bahasa Indonesia.

Hari ini pun saya menemukan kata baru. Entah sudah baku dipakai atau tidak dalam ranah bahasa tulis. Katembat. Saya coba memahami artinya. Apa sih katembat? Masak saya belum pernah mendengarnya.

Ternyata satu kosakota yang diambil dari kata “cotton buds”. Alat untuk bersih-bersih telinga. Berupa stik pendek dengan kapuk di ujungnya. Ya, ampun. Ternyata katembat itu cotton buds. Boleh juga padanan kata yang berasal dari pengucapan yang disesuaikan dengan lidah lokal.

Mari kita lihat pemakaian kata tersebut.

Gunakan katembat untuk membersihkan telinga Anda.

Hmm. Boleh juga.