Mati Karena Kerja Tiada Henti

Tragis. Itu yang orang bilang saat mendengar berita tentang kematian gadis muda belia di ibukota yang bekerja tanpa henti selama lebih dari 30 jam. Kelelahan. Jatuh koma. Kemudian meregang nyawa.

Sebenarnya fenomena kematian karena bekerja terlalu berlebihan itu sudah biasa. Banyak terjadi di negara-negara Asia Utara seperti Jepang dan Korea. Gabungan antara tuntutan profesional yang kurang manusiawi, kompetisi yang sudah tak lagi sehat, dan ambisi yang lebih besar daripada akal sehat mendorong orang untuk bekerja lebih dari takaran normal.

Kerja tiada henti juga sering ditemukan di China dan India. Dua negara dengan penduduk lebih dari satu milyar. Sama-sama negara produsen dengan kapasitas yang besar. Sayangnya produksi tinggi tersebut dihasilkan dari pekerja yang lembur tanpa memperhatikan kesehatan. Terus bekerja hingga kuota produksi tercapai.

Bahkan fenomena bekerja mati-matian ini juga didapati di benua Eropa dan Amerika. Bekerja 40 jam per minggu sepertinya menjadi sesuatu yang dirasa kurang. Kondisi ekonomi yang menurun drastis, pengurangan tenaga kerja, dan sistem bekerja yang menekankan pada produksi dibanding proses menyebabkan para karyawan pun mau tak mau bekerja sampai lelah daripada kehilangan pekerjaan. Tak peduli bos hingga karyawan magang semuanya bekerja tanpa henti.

Makin lama fenomena kerja tanpa henti ini makin merebak. Sudah dianggap sebagai bagian dari resiko dan tanggungjawab bekerja. Perusahaan pun juga makin senang bila ada karyawannya super rajin. Penghargaan dan fulus diberikan supaya memacu produktivitas yang melampau kuota sebelumnya. Toh, para muda dan tua pun makin ambisius. Dengan berbekal slogan, yang harusnya baik tapi disalahartikan, seperti You Only Live Once (YOLO). Bukannya mendapat hidup yang lebih berarti dan bahagia, namun justru kehilangan nyawa. Tidak hidup. Justru mati.

Padahal seyogyanya karena hidup itu hanya sekali maka harus dirawat dengan baik. Toh, banyak orang bisa mencapai kesuksesan yang mereka idamkan dalam kehidupan mereka tanpa harus mengorbankan nyawa mereka dengan bekerja mati-matian. Mungkin bedanya adalah pendekatan pada prosesnya. Proses menuju sukses merupakan proses yang membutuhkan waktu yang bertahap dan bisa jadi lama. Sesuatu yang sangat tidak disukai oleh generasi masa kini yang inginkan proses secepat-cepatnya untuk mencapai kesuksesan yang kilat.

Maunya sukses cepat. Malah mati cepat. Ini yang bikin miris.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s