Bogor, Kota Seribu Angkot

Tertawa saya saat membaca uraian di Wikipedia tentang reputasi Kota Bogor ini sebagai kota seribu angkot. Memang seberapa banyak sih sehingga bisa mendapat julukan seperti itu. Bukannya umum bila suatu kota memiliki banyak moda transportasi umum seperti bis atau mikrolet. Pasti cuma sejenis marketing gimmick saja. Julukan yang dipakai untuk menarik wisatawan.

Hanya saja saat saya berjalan-jalan di kota yang curah hujannya paling tinggi di nusantara ini, saya mengamini julukan tersebut. Saya pikir akan perlu waktu 5 atau 10 menit menunggu angkot yang membawa saya dari penginapan ke tengah kota. Salah. Dalam tempo kurang dari 10 menit, ada lebih dari 5 angkot yang lewat di depan saya. Padahal lokasi saya menginap cukup jauh dari tengah kota.

Sewaktu saya duduk menikmati perjalanan di dalam angkot yang sepertinya semuanya berwarna hijau dengan model dan merek mobil yang sama, sudah ada belasan angkot yang berpapasan atau saling menyalip. Banyak juga, batin saya dalam hati.

Nah, saat mencapai tengah kota di dekat Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor barulah saya melihat dengan mata kepala saya sendiri puluhan angkot yang berseliweran di jalanan tengah kota. Semuanya berwarna hijau. Bedanya hanya terletak pada nomer jalur dan nomer pembagian trayek. Terutama saat di lampu bangjo, berderet-deret angkot yang menyatu dengan mobil dan sepeda motor milik pribadi. Jalanan didominasi oleh angkot warna hijau tersebut.

Ongkosnya ternyata cukup bersahabat. 2500 ribu sekali jalan, terserah mau turun mana. Lajunya cukup sopan. Tidak ugal-ugalan. Bahkan terkesan sopir-sopirnya kenal baik dengan penumpang langganan mereka. Ada asumsi yang bisa ditarik bahwa banyak warga yang betul-betul bergantung pada keberadaan angkot ini untuk mengantarkan mereka beraktivitas sehari-hari.

Rupanya masyarakat Bogor lebih memilih menggunakan angkot ketimbang kendaraan pribadi. Wajar karena dengan banyaknya armada angkot dengan ongkos terjangkau, banyak lapisan masyarakat yang berpikir naik angkot lebih praktis dan ekonomis daripada menggunakan kendaraan pribadi. Sesuatu yang jarang terlihat di kota-kota di tanah air terutama di Pulau Jawa yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi sebagai transportasi utama.

Sayangnya, seperti yang saya dapatkan dari tuturan salah satu sopir asli Bogor yang sudah mengemudikan angkot belasan tahun, pemerintah daerah malah ingin mengurangi jumlah armada angkot. Padahal para sopir angkot berharap operasional angkot bisa mendapat subsidi dari pemerintah atau bantuan untuk peremajaan angkot. Bukannya subsidi BBM dan subsidi mobil ramah lingkungan yang lebih cenderung sebagai dalih mobil murah meriah dari produsen-produsen mobil asing.

Entah seperti apa kondisi transportasi umum di Bogor di tahun-tahun mendatang, saya masih berharap angkot-angkot di Bogor bisa beroperasi seperti saat ini. Ada begitu banyak angkot yang bisa mengantarkan orang ke banyak tempat di kota ini. Saya tak tahu pasti berapa banyak jumlahnya. Yang jelas memang begitu banyaknya sehingga jalanan didominasi warna hijau yang menjadi warna angkot-angkot tersebut. Tak tahu juga mengapa warna hijau dan bukannya warna lain. Meski tak berteknologi hijau, keberadaan angkot merupakan pilihan yang lebih ‘hijau’ dibanding merebaknya kendaraan pribadi seperti kota-kota lainnya.

Bogor memang kota yang memiliki jumlah angkot yang tak lumrah. Harus saya akui bahwa kota ini pantas mendapat julukan kota seribu angkot. Bogor memang identik dengan angkotnya. Aneh rasanya bila angkot menghilang dari jalanan di kota itu.

Iklan

2 Replies to “Bogor, Kota Seribu Angkot”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s