Banjir Notifikasi

Saat jaman kakek nenek, telepon berdering merupakan sesuatu yang cukup istimewa. Telepon yang tersambung kabel tersebut hanya berdering bila ada hal yang sangat penting. Semisal berita kelahiran, undangan suatu acara, kematian kerabat. Bila tak penting maka tak berdering. Pun orang yang diseberang gagang telepon harus memperhatikan jam telepon. Tak asal ingin berbicara melalui telepon pada sembarang waktu.

Kemajuan jaman menjadikan telepon bisa dibawa-bawa ke mana saja. Telepon selular. Memang masih terbatas teknologinya. Bisa menelepon dan saling kirim sms. Mobilitas tak tinggi-tinggi amat karena terbentur ketersediaan operator dan biaya ponsel yang amat mahal. Tak semua orang punya. Hanya orang penting dan punya duit saja yang memilikinya. Gangguan mulai terasa bila sms datang saat sedang yang punya ponsel sedang makan atau sedang di jalan. Namun masih terbilang jarang.

Berbeda dengan generasi berikutnya yang memiliki ponsel pintar. Tak hanya telepon dan sms. Teknologinya makin canggih. Pemiliknya, yang mana kian banyak dan siapa saja bisa memilikinya, mampu membaca email secara langsung sekaligus membalasnya. Bisa terima pesan teks dari beragam aplikasi pesan Internet entah itu WhatsApp, BBM, Line, KakaoTalk, Skype. Pun mengulik sosial media mulai dari Facebook, Twitter, LinkedIn. Saling melihat gambar-gambar menarik dari Pinterest dan Instagram. Banyak hal bisa dilakukan dari sebuah ponsel pintar. Baik yang kualitasnya bagus maupun yang murahan.

Sayangnya, setiap aplikasi di ponsel pintar memiliki notifikasi masing-masing. Bila ada pesan yang masuk, ada pembaharuan gambar, ada ‘colekan’ dari teman di jejaring sosial. Bisa dinon-aktifkan. Hanya saja bila non-aktif, banyak orang ‘takut’ nanti ketinggalan berita atau momen. Jadilah notifikasi tetap aktif mengirim pemberitahuan bila ada pemutakhiran yang terbaru.

Alhasil sang empunya ponsel pintar pun kewalahan dengan berbagai notifikasi. Pada mulanya benci dengan notifikasi. Anehnya, lama-lama ‘mencandu’. Ada ketergantungan tersendiri dengan adanya notifikasi. Bila tak ada notifikasi yang berbunyi sebentar saja, malah sang empunya ponsel yang sering-sering cek layar hape mereka. Mungkin ada perasaan yang ‘hampa’ bila tak ada notifikasi. Boleh jadi notifikasi merupakan ‘denyut’ kehidupan yang lebih penting ketimbang denyut nadi.

Bagaimana dengan Anda, apakah sudah melakukan sesuatu dengan banjir notifikasi di ponsel pintar Anda? Atau, malah notifikasi sudah Anda matikan agar tak mengganggu kehidupan sehari-hari yang tak seharusnya digerogoti oleh notifikasi yang terlalu sering dan terlalu tidak penting…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s