Panggil Atasanmu!

Beberapa hari ini saya merasa jengkel dengan layanan di toko dan di rumah makan. Tak profesional dan bikin bete. Sudah baik-baik mencoba berbicara dengan sopan dan memberikan keluhan supaya ada perbaikan. Sayangnya tak sukses.

Akhirnya saya pun mengubah strategi. Tak lagi berbicara dengan baik. Saya memakai kata-kata yang lebih lugas. Intonasi pun lebih keras. Hasilnya lumayan. Responnya malah lebih baik. Namun tetap saja tak berhasil memberikan solusi.

Dua kali tak berhasil. Coba untuk ketiga kalinya. Cukup dengan membilang, “panggil manajermu!”. Begitu juga dengan, “saya ngomong langsung saja sama yang punya toko”.

Nah, rupanya cara ketiga ini cespleng. Manjur. Rupanya atasan atau pemilik usaha lebih enak diajak berbicara. Mungkin karena mereka merasa memiliki bisnis dan karena lebih berpengalaman ketimbang pelayan atau karyawan.

Seketika itu juga suasana berubah.

Pelayan yang tadinya ketus menjadi melunak. Karyawan toko pun jadi ‘bermanis-manis’ berbeda dengan sebelumnya yang jutek dan kurang peduli. Maklum karena nasib mereka bisa-bisa di ujung tanduk karena dianggap tak mampu mengatasi masalah yang muncul.

Seperti yang saya perkirakan, ternyata memang manajer dan pemilik toko dengan sabar mendengarkan. Memberikan solusi saat itu juga. Tanpa membuat emosi. Beda level pemikiran. Frekuensi yang berbeda. Masalah selesai. Saya sebagai konsumen pun puas.

Tak ada salahnya untuk langsung berbicara kepada mereka yang tingkatnya lebih tinggi atau paling tinggi. Asal ‘kepala’ dipegang, masalah lebih mudah diselesaikan. Toh, karyawan dan pelayan hanya menurut. Juga takut karena bisa-bisa kehilangan pekerjaan atau minimal kena marah.

Keanehan yang lain pun muncul. Pelayan yang tadinya malas menjadi super rajin begitu manajer muncul. Karyawan yang tak becus jadi begitu ‘semangat’ memberikan layanan terbaiknya. Semu memang. Tapi kehadiran atasan membuat semuanya berubah tiba-tiba.

Jadi jika masalah muncul. Atasi dengan kata-kata lembut namun tegas. Utarakan maksud dengan jelas. Bila tak bisa, pakailah kata-kata yang lebih kuat. Bila masih belum ada efeknya, nah ini saatnya untuk membilang dua kata ajaib ini disertai intonasi tajam menghujam.

“Panggil atasanmu!”

Lagu-lagu The Carpenters Memang Berkesan

Sesorean ini saya mendengarkan salah satu album The Carpenters yang berjudul Love Songs. Dirilis tahun 1998.

Lagu-lagunya catchy. Terlantun dengan lembut dan elegan seperti layaknya lagu-lagu di tempo jaman dulu. Enak didengar; baik suara penyanyinya sekaligus suara instrumental yang menjadi latar belakangnya. Iramanya mengalir dengan pelan. Syairnya dalam meski disajikan dengan bahasa yang sederhana.

Lagu-lagu The Carpenters memang termasuk tembang yang abadi. Dari tadi, sudah mengalir tembang Yesterday Once More, We’ve Only Just Begun, Top Of The World, Close To You. Dilanjut dengan Only Yesterday dan When I Fall In Love. Serta tembang-tembang yang lainnya.

Sungguh alunan band ini membuat saya merasa damai dan segar. Saya memang suka dengan lagu-lagu The Carpenters. Anda juga suka?

Long Form, Tulisan Panjang

Dengan attention span pembaca online yang kian memendek, rasanya banyak penyedia konten, blogger, dan situs-situs yang meringkas artikel-artikelnya. Semakin sedikit paparan dalam paragrafnya. Kalimat makin memendek. Pun tambah hemat kata. Tentu informasi bisa disajikan lebih cepat sekaligus memudahkan pembaca mencernanya. Tapi ada rasa yang kurang di sana…

Seperti kerupuk. Renyah tapi kurang berbobot. Gizinya kurang. Memang jumlah artikel makin banyak dan lebih sering frekuensinya. Cuma kurang isinya. Toh, sepandai-pandainya meringkas, paparan tetap diperlukan untuk menjelaskan suatu ide, menggambarkan suatu suasana, dan menyampaikan pesan yang maknanya dalam.

Rupanya ada titik balik di mana sekarang mulai lagi bermunculan artikel long form. Panjang karena memuat banyak isi di dalamnya. Mulai dari kritik sosial, pemikiran, argumentasi, dan juga pemaknaan dari sesuatu yang abstrak.

Artikel dengan bentuk yang panjang memang lebih menantang dan membutuhkan keterampilan mengolah kata yang jago. Perlu waktu untuk merenungkan, mencari referensi yang relevan, dan menyuntingnya berkali-kali. Seperti yang ada di majalah-majalah atau minimal di surat kabar di bagian tajuk rencana, analisa pakar, atau pendapat ahli.

Untuk saya pribadi, masih berusaha untuk bisa menulis artikel long form. Suatu tantangan sendiri. Maklum, selama ini saya suka menulis pendek-pendek karena mudah dibuat, tak membutuhkan waktu banyak, dan praktis. Oleh karena itu, saya suka membaca-baca artikel long form di Internet. Sayangnya, ternyata agak tidak betah membaca artikel yang panjang. Loh? Maklum, rentang perhatian saya sudah memendek…

Mampir ke Galeri Seni dan Museum

Kapan terakhir kali Anda menyempatkan diri masuk ke sebuah galeri seni atau museum? Mungkin minggu lalu? Mungkin malah tak pernah sama sekali sejak lulus dari sekolah dasar?

Bila ada waktu, ada baiknya mampir ke berbagai galeri seni atau museum yang dekat dengan tempat tinggal atau kerja. Ada yang berbayar untuk masuk. Ada juga yang gratis atau sukarela sifatnya.

Lalu apa sih yang didapatkan dengan mengunjungi galeri seni atau museum? Lumayan banyak. Bisa menikmati suguhan karya seni. Mendapatkan tuturan dari masa silam. Menyesap atmosfer yang berbeda dari kesibukan sehari-hari. Juga refresh diri sendiri.

Galeri seni dan museum tak seperti dulu yang garing dan membosankan. Kini galeri seni dan museum cukup rajin mengadakan acara, pagelaran koleksi baru, atau memiliki fitur baru yang bisa dinikmati.

Kalau ada waktu, silakan mampir ke galeri seni dan museum.

Toko Buku, Sumber Inspirasi

Tak perlu jauh-jauh untuk mencari sebuah atau beberapa buah inspirasi dalam kehidupan. Cukup bawa diri ke toko buku terdekat. Sederhana dan gratis. Banyak buku tersedia untuk diulik. Bahkan dibaca di tempat. Bila ada buku yang menarik, bisa dibeli dan dibaca di rumah dengan lebih seksama. Toko buku merupakan salah satu sumber inspirasi. Ada banyak pengetahuan, informasi, cerita, dan wawasan. Tak ada habisnya…

Siang ini pun saya sempatkan diri ke toko buku di tengah kota. Lumayan. Beberapa jam di sana rasanya pikiran segar, penuh dengan ide baru. Jangan terlalu lama di toko buku karena justru membuat lelah dan inspirasi pun menguap.

Menunda Kesenangan

Siapa sih yang tak ingin senang-senang dalam hidup ini? Semua pasti ingin senang. Tak ingin susah.

Sayangnya, justru kesusahan itu yang menempa seorang individu untuk menjadi kuat. Makin banyak bersenang-senang malah bisa melemahkan semangat hidup seseorang. Aneh, kan?

Lucunya mereka yang bisa menunda untuk bersenang-senang malah bisa menikmati kesuksesan dan kesenangan yang lebih besar dibanding orang yang tak bisa menunda-nunda menikmati kesenangan. Pasalnya, orang yang bisa menunda kesenangan adalah orang yang lebih sabar, bisa mengontrol hawa nafsu, dan disiplin memperjuangkan impian mereka.

Coba bayangkan apa yang terjadi bila ada anak-anak yang bisa dan sering menonton televisi ketimbang mengerjakan pekerjaan rumah dan belajar; sedangkan di tempat lain ada anak-anak yang, suka atau tidak suka, memilih untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dan belajar lebih banyak sembari mengorbankan kesenangan sekejap saat menonton televisi.

Dalam jangka waktu dekat, anak yang bisa menonton televisi mungkin lebih senang saat ini. Lebih bebas dan tertawa melihat film dan kartun. Namun hasilnya jauh berbeda dalam jangka panjang. Anak yang lebih banyak belajar akan lebih sukses secara akademis. Bahkan mungkin akan memiliki rasa tanggungjawab yang lebih besar, lebih bijaksana dalam menyikapi prioritas, dan hidup dengan lebih teratur.

Tentu ada banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan seseorang. Tak hanya kemampuan menunda kesenangan. Namun satu faktor bisa membuat perbedaan yang besar dalam kehidupan satu insan manusia. Bila memang menunda kesenangan bisa menghantar seseorang memiliki kehidupan yang lebih baik di masa depan, rasanya fair enough untuk bekerja keras dan bersikap prihatin.

Benar kata pepatah lama. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.

Semangat dan Keringat

Apa pula hubungan antara semangat dengan keringat? Apakah benar bila bersemangat maka cenderung berkeringat? Mungkin pula sebaliknya, berkeringat bikin tambah semangat?

Yang jelas ketika seseorang memiliki semangat maka akan mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Bekerja dengan kesungguhan jelas memerlukan enerji. Setiap pengeluaran enerji dari tubuh manusia tentu berimbas pada keringat.

Tak melulu tindakan dan aktivitas yang memerlukan otot tubuh. Sesuatu yang memeras kerja otak bahkan bisa menuntut enerji yang luar biasa, selaras dengan apa yang harus dipikirkan. Keringat pun mengucur.

Bukankah ada pendingin udara dan kipas angin? Dua alat itu hanya membantu menurunkan suhu ruangan. Bukan mengurangi pelepasan enerji dari tubuh manusia. Dalam kondisi dingin, manusia tetap berkeringat meski tak mudah dilihat.

Dari sisi yang lain, coba lihat orang-orang yang sedang asyik mengudap soto yang panas. Terutama bila sambal ikut dilibatkan. Keringat bercucuran. Herannya makin berkeringat, makin semangat pula menghabiskan mangkok soto tersebut. Sembari terkadang menyeruput teh panas yang tersaji.

Semangat menimbulkan keringat. Makin berkeringat, makin pula bersemangat. Semangat dan keringat memang eksis berbarengan. Hubungannya lekat.