Profesi dalam Drama Televisi

Coba tengok CSI dan Emergency Room. Jelas ada profesi yang ingin digambarkan dalam drama-drama tersebut. CSI memberikan gambaran para pakar forensik yang memecahkan kasus-kasus rumit melalui keterampilan menguji DNA, rekam jejak sidik jadi, mereka-reka kejadian di tempat perkara, dan membuat profil para tersangka kejahatan. Sedangkan di lain sisi, Emergency Room memperlihatkan kesungguhan para dokter dan perawat di ruang darurat dalam menghadapi pasien dalam kondisi terluka ringan hingga yang mengalami trauma berat dan siap meregang nyawa.

Kedua drama tersebut memiliki naskah cerita dan latar belakang yang dibuat dengan sungguh-sungguh sehingga bisa seolah-olah menghantarkan pemirsa untuk hanyut ke dunia profesional yang mereka geluti. Pun ditambah dengan jalinan asmara, persaingan, kejadian yang lucu, dan pesan-pesan moral yang menambah kesan serius dan bermakna. Enak dinikmati namun juga informatif. Bahkan bisa jadi menginspirasi beberapa penontonnya untuk mengambil profesi yang mereka tampilkan di layar kaca.

Berbeda jauh dengan drama dan sinetron di tanah air. Terlalu banyak adegan percintaan, relasi antar manusia yang penuh konflik, dan intermezzo yang sering bikin ceritanya tambah kabur. Justru ada satu hal yang jarang sekali terlihat dengan jelas yaitu profesi yang dimiliki oleh tokoh-tokohnya. Memang ada adegan di kantor tapi sebatas ruang kantor luas dengan meja dan kursi. Komputer pun jarang. Paling-paling tokohnya terlalu sering memegang dan menatap ponsel pintarnya. Mengobrol dengan suara keras atau kadang disertai tangis yang dramatis.

Bilapun ada sinetron yang memiliki ‘bumbu’ profesi, itupun seringkali hanya berupa latar belakang. Semisal kernet bis, pengemudi bajaj, tukang bubur. Sesekali ditampilkan sedang bekerja. Selebihnya berupa adegan di dalam rumah, sedang mengudap makanan di rumah makan, dan naik mobil sembari berbincang-bincang dengan tokoh lainnya. Kemudian muncul tokoh antagonis yang terus-menerus membuat tokoh protagonis kesusahan yang sukses membuat penonton menangis termehek-mehek karena saking tak teganya dengan berlikunya jalan cerita yang tak masuk akal.

Profesi merupakan hal yang tak penting untuk dimunculkan dalam drama televisi di tanah air. Mungkin memang cerminan masyarakat yang tak terlalu menekankan pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih penting menyoal perasaan dan masalah ketimbang mengembangkan karir demi masa depan yang lebih baik. Boleh jadi, drama yang menekankan pada profesi juga dianggap kurang menjual. Bukankah lebih mudah menghadirkan bintang-bintang ayu dan ganteng yang enak dilihat meski tak bisa sempurna berakting. Pokoknya asal ada tokoh-tokoh yang menarik, masalah yang mengada-ada, tangisan yang menye-menye, candaan yang klise dan norak; drama bisa mudah dicerna oleh penonton yang suka cerita yang dramatis, heboh, dan serba tak nyambung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s