24 Jam Seharusnya Cukup

Untuk mempermudah menjalani kehidupan sehari-hari insan manusia menciptakan siklus 24 jam. Terinspirasi dari rotasi Bulan terhadap Bumi yang 24 jam lamanya. Sebagai penanda jaman dulu, hari berganti baru kala Sang Surya muncul. Setelah ditemukannya alat bernama jam maka tengah malam digunakan sebagai patokan hari yang baru.

Seraya waktu berjalan, aturan 24 jam menjadi jamak. Menjadi kesepakatan banyak orang. Bahkan hampir semua orang di dunia. Sehari itu 24 jam. Tak lebih dan tak kurang. Umumnya orang-orang mafhum bahwa batas 24 jam itu wajar-wajar saja.

Kebanyakan orang-orang satu atau dua generasi sebelum kita berpikir bahwa 24 jam itu cukup untuk melakukan banyak hal dalam kehidupan mereka. Anehnya banyak orang di generasi sekarang atau lebih muda berpikir bahwa 24 jam itu kurang. Kurang? Mengapa bisa kurang? Bahkan banyak yang berandai-andai bila sehari itu bisa 32 atau 48 jam. Mengherankan, bukan?

Pasalnya ada kecenderungan untuk melakukan banyak aktivitas dalam satu hari. Bekerja, bekerja, bekerja. Ditambah dengan berjejaring baik secara offline dan online. Bermain. Bersenang-senang. Belajar. Mengejar karir. Kencan. Berjalan-jalan. Semuanya dalam satu hari. Semuanya ingin dieksekusi dalam satu waktu yang disebut sebagai satu hari. Mungkinkah? Mungkin bisa tapi apakah harus tergesa-gesa dan ‘serakah’ seperti itu? Wajar bila 24 jam tak pernah cukup.

Berbeda dengan pandangan di masa lalu di mana orang seyogyanya melakukan beberapa aktivitas dalam satu hari dengan sungguh-sungguh. Prosesnya pun makan waktu. Meski tak efektif namun prosesnya bisa dinikmati. Tak semuanya otomatis dan praktis. Justru terlihat seperti menghasilkan sesuatu sebagai seni ketimbang mesin. Semisal memasak dengan penuh kesabaran, bukan sekedar memanaskan makanan instan. Sepertinya memang ada beda gaya hidup. Gaya hidup serba cepat yang berkebalikan 180 derajat dengan gaya hidup pelan penuh makna. Bukan, bukan lambat yang mendayu-dayu tentunya. Lebih pada pemaknaan menjalani aktivitas hidup ketimbang jumlahan hasil produktivitas dalam sehari.

24 jam itu juga baik bagi tubuh manusia. Ada waktu untuk bekerja, bersantai, dan beristirahat. Coba saja bila seseorang tak beristirahat tapi malah bekerja terus-menerus selama berhari-hari. Kesehatan menurun yang bisa berujung pada kematian di usia dini. Tubuh menjadi cepat rusak. Bukankah sering kita dengar bahwa teman atau sanak-keluarga yang mati muda karena terlalu lelah bekerja? Beda dengan kakek nenek yang masih segar bugar dan masih bisa beraktivitas hingga usia senja mereka karena mereka tahu bagaimana menjaga tubuh sembari menjaga konsistensi produktivitas mereka.

Seyogyanya 24 jam itu cukup. Bila seseorang merasa 24 jam tidak cukup boleh jadi karena tidak pandai menyiasati waktu atau tidak menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Pun bila seseorang merasa 24 jam itu terlalu banyak, mungkin hidupnya kurang berwarna sehingga menjadi monoton membosankan sehingga tergesa-gesa agar hari baru segera bergulir. Biasanya karena tak banyak memiliki aktivitas. Benar, kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s