28

Yup! Tanggal 28 merupakan tanggal terakhir di bulan Februari pada tahun 2014. Salah satu efek penghitungan dengan pembulatan dari kalender Masehi. Bagi yang berulangtahun pada tanggal 29, ya bisa jadi tak perlu merayakan hari spesial mereka. Maklum, besok sudah tanggal 1 Maret.

Namun bagi yang gajian, rupanya senang. Hari ini merupakan tanggal yang menyenangkan. Ada pasokan uang untuk satu bulan ke depan. Semoga bisa digunakan untuk tabungan, belanja sehari-hari, dan membeli barang yang diperlukan atau disukai.

28 hari di bulan ini. Diskon satu hari dari yang biasanya 29. Kita pun baru bisa menikmati bulan yang pendek ini pada 4 tahun ke depan. Jadi nikmatilah kesempatan yang tak datang setiap tahun…

Menyoal Pocong

Saya suka mengakses Internet atau menggunakan laptop di tempat publik. Kalau di rumah bawaannya soalnya ketiduran atau terganggu hal-hal lainnya. Justru di tempat publik saya lebih bisa berkonsentrasi. Lagipula di tempat publik kadang-kadang ada hal lucu yang bisa jadi intermezzo. Selingan. Biar tidak stres dan bosan.

Nah, kali ini ketika saya sedang asyik di depan laptop saya. Tiba-tiba ada seseorang yang menggunakan laptop dan hendak melakukan komnikasi melalui Internet. Mungkin Skype. Suaranya terdengar meski tak serius mendengarkan. Terdengar secara tak sengaja.

Dan saya pun mendengar kata ‘pocong’. Ya, pocong! Makhluk yang menyeramkan, bikin merinding, dan banyak dihindari orang-orang. Seperti biasa, modus aktivitasnya adalah melompat secara vertikal. Tanpa aksesoris, seperti di film-film, pocong tampil minimalis dengan one-piece clothing, kain panjang berwarna putih. Wajah tak perlu make-up tapi konon dipastikan akan membuat yang melihat menjadi berteriak. Namun lebih banyak yang langsung pingsan. Tak sadarkan diri. Padahal bila tak takut-takut amat, seharusnya bisa segera melarikan diri dengan berlari. Pasti secepat-cepatnya pocong melompat tak akan menyaingi kecepatan lari orang yang masih hidup dan sehat.

Orang di depan saya tadi pun dengan semangat rupanya sukses menawarkan permainan pocong di platform Android. Baiklah. Saya pun salut dengan orang di depan saya yang berhasil mengkomersilkan pocong. Pocong yang mengerikan pun bisa dijual. Bahkan kalau lebih ekstrimnya ada yang mengatakan sex’s sell. Tapi kalau pocong? Ternyata bisa juga. Padahal pocong tak perlu pamer paha atau belahan dada.

Saya hanya bisa senyum-senyum sendiri mendengar percakapan orang di depan saya mengenai pocong. Lucu, sih. Tapi kenapa juga membuat saya berpikir tentang pocong di pagi yang cerah ini…

Dasar pocong!

Menyanyi di Pagi Hari

Itu aktivitas yang saya lakukan di pagi hari tadi kelar memasak dan bersih-bersih. Sembari minum irisan limun supaya badan sehat, saya pun membuka layanan video online yang paling populer di muka bumi.

Cari lagu sekalian dengan liriknya. Maklum karena saya memang tak pernah hapal dengan lirik lagu. Pun ditambah lagi kesukaan saya mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu dengan bahasa asing yang saya tak tahu artinya. Namun syaratnya, lagunya enak menurut cita rasa saya pribadi.

Lagu-lagu pun bergantian saya putar. Sembari menyanyikannya yang jelas tak merdu tapi bikin hati senang. Sekira 30 menit, gratis dan lumayan bikin *mood* riang gembira.

Ini dia daftar lagunya. Top of The World dari The Carpenters, Nine Million Bicycles yang dilantunkan Katie Melua, Ci Se Pen-nya Kelly Chen, Hou Lai yang entah siapa penyanyinya, The Myth milk Jackie Chan dan Kim Hee Sun, Just A Kiss Lady Antebellum, You’re Beautiful dari James Blunt, The Reason Hoobastank, Sakura No Ame yang dinyanyikan Takako Matsu, dan ditutup oleh Sausalito dari Leon Lai. Gado-gado, kan?

Koneksi internet yang tumben lancar ketimbang biasanya memang membuat aktivitas ‘mendadak karaoke’ saya sukses. Video lagu bisa diputar tanpa *buffering* sekaligus melihat berbagai lirik lagu.

Dan tak lupa, menyanyi tak hanya bikin riang (yup, tergantung lagunya). Tapi juga olah nafas yang memberikan asupan oksigen ke dalam tubuh. Tak perlu lama. Sebentar saja. Tak usah lama-lama.

*Not bad* untuk suatu pagi yang lumayan cerah…

Menuntaskan Pekerjaan Rumah

Makin sering melakukan banyak aktivitas makin cepat orang bisa menuntaskan banyak hal. Bila dilakukan dengan konsisten, cepat atau lambat, makin otomatis pula pengerjaannya. Tak perlu lagi berpikir bagaimana menyelesaikannya. Tak perlu juga mengeluh ketika mengerjakannya.

Pun begitu pekerjaan rumah. Bersih-bersih bagian rumah. Mencuci perkakas makan dan masak. Mencuci pakaian. Menata masuk dan keluar uang. Berbelanja. Mau tak mau harus dilakukan. Bila tak terbiasa tentu rasanya berat melakukannya. Namun bila sudah otomatis, terasa jadi lebih cepat dan mudah.

Waktu pengerjaan pun berpengaruh. Pekerjaan rumah bisa dilakukan baik pagi, siang, sore, atau pun malam. Tergantung dengan kebiasaan masing-masing orang. Ada yang melakukannya sepagi mungkin supaya tersisa banyak waktu untuk melakukan hal yang lainnya. Pun begitu, ada juga yang malam hari karena memang hanya punya waktu di saat itu.

Pekerjaan rumah haruslah tuntas. Makin banyak menumpuk makin berat mengerjakannya. Alhasil, rumah pun penuh dengan cucian kotor, tumpukan pakaian, dan menjadi tak rapi.

Justru karena pekerjaan rumah itu termasuk hal yang cukup dihindari maka harus diselesaikan terlebih dahulu. Dengan begitu, bisa menyelesaikan prioritas aktivitas yang jauh lebih penting daripada menuntaskan pekerjaan rumah.

Mari tuntaskan pekerjaan rumah biar rumah menjadi lebih nyaman untuk ditinggali…

Salut untuk Risma!

Salut untuk Risma!

Senang mendengar tentang kota yang memiliki pemimpin yang inovatif, sungguh-sungguh memperjuangkan kemajuan kota dan masyarakatnya, dan tidak pamrih. Ditambah pula memang kemampuan tata kota yang mumpuni. Berharap Yogya juga bisa memiliki pemimpin kota seperti Bu Risma. Semoga…

Bisnis Tak Harus Kelihatan Keren

Saya belajar sesuatu hari ini. Bisnis tak harus kelihatan keren. Justru bisnis yang keren itu adalah usaha yang menghasilkan pendapatan dan pemasukan yang mantab. Yang berharga dan betul-betul bisa dipegang. Justru banyak pengusaha yang sederhana dan apa adanya justru punya usaha yang tak terkira besarnya. Salut untuk mereka!

Justru bisnis yang kelihatan mentereng justru ada yang tidak atau sedikit menghasilkan pemasukan. Sayang sekali, kan? Namun bisnis adalah bisnis. Terlihat keren itu bagus. Cuma ya kerennya bila bisnisnya menghasilkan sesuatu yang berharga.

Dua orang programmer yang dua-duanya fokus pada pengembangan layanan dekstop, yang dianggap sudah kuno dan ketinggalan jaman, malah bisa menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar daripada programmer yang (kelihatannya) keren karena tampil dengan situs yang kelihatan wah.

Jadi meskipun kelihatan kurang keren, suatu bisnis yang sungguh-sungguh dikerjakan dan ditekuni akan menjadi bisnis yang mantab!

Sungguh hari ini saya mendapati suatu perspektif yang mengesankan…

Hanya Enam Artikel Saja?

Rupanya stamina blogging saya menurun. Target semula 30 artikel dalam sebulan. Faktanya hingga tanggal 21 pun, saya hanya menghasilkan 6 artikel saja. Lupa dengan target semula. Ada banyak sebab tentunya. Tapi yang jelas motivasi menurun. Loh? Ide pun kering kerontang.

Begitulah. Tapi masih ada 7 hari tersisa. Masih bisa mengejar ketertinggalan, kan?

Untuk Anda mungkin artikel curcol seperti ini tak penting. Bagi saya penting karena mengingatkan saya untuk kembali bersemangat.