Tak Lagi Lima Paragraf

Saya terbiasa untuk menulis postingan yang pendek di blog ini. Mulai dari jaman awal-awal *ngeblog* hingga bertahun-tahun kemudian. Mungkin karena *ga* pintar berceloteh lewat tulisan. Mungkin juga karena *ya* praktis saja kalau menulis pendek; yang penting pesan tersampaikan. Bila bisa pendek mengapa harus panjang. Itu pikiran saya.

Bahkan pada suatu waktu, saya pernah membuat peraturan untuk diri saya sendiri. Yaitu tiap postingan batasnya lima paragraf. Dengan begitu lebih ringkas dan jelas. Kata kerennya *concise*.

Saya pun senang dengan aturan itu. Dengan adanya batasan, kreativitas menulis (harusnya, tapi tak selalu) menjadi terpacu.

Kemudian beberapa minggu yang lalu, ada perubahan dalam cara saya menulis. Setelah membaca uraian tentang tantangan menulis 1000 kata setiap hari, tangan saya jadi lebih lancar mengetikkan kata-kata.

Pada awalnya harus dipaksa supaya kata-katanya menjadi lebih banyak. Lama-lama terbiasa. Meski belum otomatis, anehnya apa yang ada di benak lebih cepat tersalurkan ke halaman putih bersih.

Kata-kata bermunculan. Kemudian menrangkai menjadi kalimat-kalimat yang membuatnya lebih nyata. Menjadi paragraf demi paragraf. Hingga akhirnya postingan pun memanjang. Tak lagi hanya lima paragraf. Ada rasa bebas yang tak membuat jari terasa kebas. Lebih lancar dibanding sebelumnya.

Tulisan blog memang harusnya bebas mengalir. *Toh* ini juga blog pribadi. Ditulis untuk saya sendiri. Bila ada yang baca, saya pun juga senang. Apa yang sudah disajikan ke publik melalui Internet berarti memang otomatis menjadi konsumsi khalayak umum. Baik yang membaca blog ini karena memang ingin bertandang ke sini atau mereka yang mampir karena tersesat diarahkan oleh *Mbah Google*.

Jadi untuk sementara ini, postingan-postingan belakangan kelihatannya akan lebih panjang daripada postingan sebelumnya. Ditambah pula dengan keasyikan saya menggunakan aplikasi menulis The Journalist untuk Apple OS X; yang praktis dan “bikin *nulis* lebih hidup”.

Makan Sehat itu Tak Mudah

Kalau hanya menyoal menyantapnya mungkin tak begitu susah. Tinggal buka mulut dan menyantap makanan yang sehat di depan mata.

Yang tidak mudah adalah bagaimana menghadirkan makanan sehat setiap hari.

Bila kaya raya lalu tinggal menggunakan jasa katering makanan sehat jelas memungkinkan. Bila tidak, uang bulanan bisa tekor. Terutama keluarga yang jumlah mulut yang harus diberi makan cukup banyak.

Lalu bagaimana bila tingkat ekonominya sedang-sedang saja? Tentu harus pintar-pintar mendapatkan sumber makanan, mentah dan matang, yang cukup terjangkau. Bisa dari pasar tradisional, pasar modern, atau berkebun sebagian sayuran (yang mana tak semua orang mau dan mampu melakukannya).

Setelah itu tentu harus belajar untuk mengolah makanan dengan sehat. Tidak banyak goreng-goreng, lebih sering dengan merebus, hingga memahami mana bumbu yang sehat dan kurang baik untuk badan.

BIla sudah, masih ditambah dengan *timing* makan yang teratur. Cara mengasupnya dengan benar. Kelihatannya sederhana, bukan? Cuma *ga* segampang itu. Buktinya banyak yang lupa makan padahal sudah jam makan. Ada yang makan terburu-buru sehingga tak tercerna dengan baik. Malahan ada yang sampai mati tercekik gara-gara makan tidak hati-hati sehingga duri ikan ikut tertelan dan macet di kerongkongan.

Tiga poin di atas saja sudah membuktikan bahwa mendapatkan sumber makanan, mengolahnya, menyantapnya bukan hal yang mudah. Menantang.

Namun bukan berarti tidak bisa diterapkan. Bila memang sungguh-sungguh, makan sehat itu bisa. Niat atau tidak. Itu masalahnya.

Sebagai bangsa yang baru 50 tahun merdeka, maklum kalau masalah pangan ini menjadi persoalan klasik yang belum terselesaikan dengan mudah.

Apalagi ada hubungan yang erat antara tingkat pendidikan yang rendah dan tidak merata dengan kemampuan menghadirkan makanan sehat. Di saat yang sama, bila asupan makan sehari-hari tak sehat tentu menghasilkan insan-insan yang umumnya berpendidikan rendah justru karena kurang gizi sehingga tak optimal daya belajarnya.

Di luar itu, masih ada faktor lain sehingga banyak orang tak bisa makan sehat. Harga bahan makanan terlampau mahal karena banyak bahan mentah masih impor dari negara lain. Kaget? Tak perlu. Sudah banyak orang yang tahu. Mulai dari kedelai, bawang, beras. Belum lagi buah-buahan. Terigu dan sapi pun juga harus mendatangkan dari luar negeri. *Ngeri*, bukan? Maklum kalau harga bahan pangan naik saat Dollar dari Negeri Paman Sam ikut menanjak.

Tapi *ya* itu. Kalau memang niat makan sehat, pasti bisa!

Jiwa Wirausaha

Kata banyak orang, jiwa wirausaha itu bukan atas asas keturunan. Tumbuh dari diri sendiri yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Seseorang bisa buka usaha dengan mandiri padahal orangtuanya bukan seorang pengusaha.

Semisal Joni yang bisa buka supermarket padahal bapaknya pegawai negeri. Begitu juga Yanni yang buka kursus bahasa asing meskipun bapaknya dan kakeknya merupakan keluarga angkatan bersenjata.

Namun ada juga yang percaya sebaliknya. Jiwa wirausaha itu tumbuh dari keluarga. Turun-menurun. Entah disengaja atau tidak oleh orangtuanya, bisnis keluarga diserahkan dari generasi tua ke generasi yang baru. Tak menjamin kalau generasi selanjutnya itu senang atau tidak dengan bisnis tersebut, *toh*, enak bukan kalau tinggal melanjutkan.

Ada yang bisa menjadikan bisnisnya lebih besar dari generasi pendahulunya. Ada juga yang berakhir tragis. Bisnis mengkeret menjadi lebih kecil karena penerusnya tak memiliki kemampuan bisnis sehebat pendahulunya. Mungkin juga karena karena perubahan dunia dan situasi ekonomi.

Bila Yenni sekarang memiliki usaha katering yang sukses itu lumrah karena dulu bapaknya nenek, nenek, dan mamanya sudah malang-melintang di usaha katering, restoran, dan kafe.

Pun Anton yang ayahnya dulu juragan beras terbesar di kampungnya kini juga menjadi juragan beras yang menguasai beberapa kampung sekaligus. Maklum karena dari kecil Anton tak disekolahkan dan hanya benar-benar tahu tentang beras.

Terlepas dari jiwa wirausaha itu diturunkan atau bukan, ada yang lebih penting yaitu kepercayaan bahwa sebenarnya orang bisa memulai usaha. Asalkan ada keyakinan, semangat, dan kemauan. Ditambah modal dan keterampilan. Juga tak lupa dukungan dari keluarga dan lingkungannya.

Omong-omong tentang keluarga saya sendiri. Saya harusnya malu karena tidak seberani generasi pendahulu saya. Kedua kakek dari pihak bapak dan ibu berani berwirausaha. Tak hebat memang. Skalanya kecil. Yang satu membuka toko kelontong yang cukup untuk menghidupi anak-anaknya; sembari bekerja di hotel. Satunya lagi mampu meraup kekayaan dengan membuka usaha perbaikan kamera yang laris manis di saat kejayaannya.

Malahan bapak saya juga ikut membuka toko kelontong untuk menambah penghasilan bulanan yang tidak cukup bila hanya mengandalkan dari gaji di kantornya. Tak cukup dengan itu, bersama rekan-rekannya membangun stasiun radio; yang penuh liku-liku namun akhirnya berhasil dibeli oleh jaringan stasiun radio nasional.

Saya sendiri? *Nah* itu dia yang membuat saya malu. Harusnya dengan perkembangan teknologi, kondisi keuangan yang lebih baik, kestabilan negara, dan keterampilan yang lebih memadai; saya harusnya bisa membuka usaha sendiri. Nyatanya tidak. Lebih senang menjadi karyawan. Memang ada impian menjadi penulis yang bahasa kerennya *self-employed* tapi hanya sebentar saja.

Itu yang ada dalam benak saya sekarang. *Why not?* Kenapa *kok* generasi yang lebih modern malah tidak setangguh generasi yang dulu-dulu. Padahal semuanya memungkinkan.

*Yah* itulah yang menjadi pemikiran saya. Mungkin malah karena dipikir-pikir dan terlalu banyak pikiran jadi malah buntu. Tidak cepat beranjak menjadi sesuatu.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Bila memang Anda adalah seseorang yang ingin berwirausaha, ada baiknya bila segera melakukan sesuatu dan menuruti kata hati. Siapa tahu bisa jadi pengusaha yang sukses.

Curhat

Curahan hati. Sebagai manusia tentu punya kebutuhan untuk mengatakan sesuatu yang ada di benaknya kepada orang lain. Memang tidak terlalu jelas mana yang urusan hati dan mana yang menjadi domain otak. Umumnya tercampur menjadi satu. Curhat bisa jadi malah campuran perasaan dan pikiran di saat yang sama.

Menyoal curahan hati, tentu ada orang yang hanya membatasi dirinya untuk mengutarakan apa yang mengganjal ke sedikit orang. Namun banyak juga yang mengumbarnya ke forum terbuka.

Malahan ada yang curhat pun pakai curi-curi. Pernah dengar istilah *curcol*, kan? Curhat colongan. Yang mana terlihat tidak ingin curhat tapi sebenarnya *pengin* sekali mencurahkan isi hatinya sebanyak-banyaknya saat itu juga karena tak tertahankan lagi.

Curhat itu ada kalanya seperti buang sampah. Mungkin karena sibuknya orang-orang di jaman sekarang sehingga tidak punya waktu dan sebenarnya malas kalau harus menjadi ‘tempat buang sampah’ bagi perasaan hati dan pikiran orang lain.

Malah ada merasa jengkel karena mau curhat malah kedahuluan menjadi tempat curhat. Bukannya ‘sampah’ berkurang malah jadi bertambah. Susah, *kan”?

Lalu bagaimana kalau tidak ada teman atau orang yang bisa *dicurhatin*?

Bagikan saja curhat di Facebook atau Twitter. Tentu saja ini tidak direkomendasikan karena otomatis tempat publik maya bisa menjadi ajang ‘buang-buang sampah’. *Ga* asyik, *kan*? Pun rasanya tidak etis kalau isi curhatnya juga sifatnya sensitif. Jadi kalau bisa tidak curhat di sosial media, rasanya lebih baik.

Kalau sudah tak tertahankan lagi? Mungkin baiknya buka saja http://www.curhat.com. Baru saja saya temukan pagi ini. Ternyata ada *toh* situs khusus untuk curhat. Boleh juga. Tentu isinya *ya* curhatan banyak orang. Sudah jelas secara eksplisit dari alamat situsnya.

Curhat sepertinya memang suatu hal yang sepele. Tapi curhat yang sungguh-sungguh tak lagi bisa dibendung mungkin bisa menjadi hal yang berbahaya. Awalnya hanya frustasi. Berkembang menjadi depresi. Lalu bunuh diri.

Repot, *kan*? Jadi curhat harus diperhatikan dengan semestinya. Kebutuhan bagi banyak orang. Yang kalau terpenuhi bisa membuat seseorang menjadi lega; seperti sehabis buang air besar dengan sempurna. *Plong*!

Lalu bisa menapaki kehidupan ini dengan ringan dan riang.

Mengapa Perlu Membaca Berita?

Alasannya sederhana. Dengan membaca berita seseorang bisa memahami keadaan sekitarnya dengan lebih baik. Ada informasi yang bisa diserap.

Tanpa membaca berita, seperti halnya orang yang buta. Padahal berita itu bisa didapat dengan mudah. Melalui surat kabar baik *online* atau *offline*.

Berita ada yang gratis dan ada yang berbayar. Tergantung dengan jenis beritanya. Biasanya yang berbayar memberikan kajian dan fakta yang lebih lengkap.

Namun tak semua berita harus dibaca. Saring saja, ambil mana yang paling diperlukan. Berita yang tak perlu malah bikin buang-buang waktu saja. Terlebih lagi ada berita yang tak benar. Bukannya memberi informasi tapi malah menyesatkan.

Mengasup berita itu perlu dan berguna.

Bekerja Cepat Bikin Tambah Semangat

Anda suka kerja dengan lambat? Atau malah sebaliknya, suka bekerja dengan cepat-cepat?

Biasanya saya suka bekerja dengan lambat. Semua ada waktunya. Cuma kalau pelan-pelan, tak banyak yang bisa diselesaikan. Lama-lama juga makin malas.

Anehnya, kalau bekerja dengan ritme cepat justru malah tambah semangat. Biasanya cepat-cepat karena ada tenggat waktu yang kian mendekat. Bisa juga karena terpaksa. Malahan pernah karena saking bosannya jadi ingin cepat selesai.

Saat *ngeblog* postingan ini, saya sekilas memperhatikan orang di sebelah saya yang bekerja di depan laptop dengan cepat-cepat. Seakan-akan dikejar oleh waktu. Jemarinya mas tersebut meloncat dengan sigap di atas papan kunci. Seru pokoknya! Ada semangat di sana yang saya tangkap.

Sepertinya perilaku cepat-cepat mas tersebut menular kepada saya. Ritme saya pun juga ikut meningkat. Berpikir cepat. Mengetik dengan cepat. Tak lagi lambat.

Semangat saya pun meningkat. Jadi lebih bergairah menuntaskan pekerjaan di laptop saya. Cepat-cepat bikin semangat.

Boleh juga, *nih*. Semangat itu menular. Bila ada orang bekerja cepat-cepat, rasanya senang-senang saja bila ikut menjadi lebih cepat. Banyak hal pun bisa tuntas dalam waktu yang lebih singkat.

Ngeblog Tak Harus Langsung Termuat

Rasanya lebih *afdol* bila saat sudah selesai menulis postingan baru lalu cepat-cepat diunggah di blog. Langsung dimuat saat itu juga. Seperti hidangan makanan, tersaji sewaktu masih panas. Mantab!

Itu yang saya pikirkan di masa lalu. Sekarang saya justru lebih suka untuk menulis draft postingan di laptop saya tanpa harus cepat-cepat mengunggahnya.

Saya biarkan dulu tulisannya. Kemudian saya sunting di lain waktu. Bila sudah ada koneksi Internet yang memadai, barulah saya unggah. Kadang beberapa postingan termuat bersama-sama. Tidak seperti dulu yang tiap kali selesai lalu segera dimuat di blog.

Cara seperti ini lebih praktis untuk saya pribadi. Koneksi Internet yang *lambretta*, lambat sekali, memang memaksa saya untuk tidak selalu terkoneksi dengan Internet setiap saat.

Uniknya, meski *ngeblog* dengan menuliskan draft ini karena terpaksa awalnya, lama-lama saya malah menemukan beberapa keuntungan yang positif.

Pertama, saya bisa lebih fokus menulis postingan. Tanpa harus *berjibaku* dengan koneksi Internet yang memerlukan kesabaran tanpa batas. Menulis dan menulis. Produktivitas menulis menjadi meningkat.

Kedua, karena tulisan harus diendapkan terlebih dahulu, saya bisa menyunting tulisan-tulisan tersebut dengan lebih obyektif. Pun tak ada rasa tergesa sebelum koneksi Internet pelan-pelan atau tiba-tiba raib.

Ketiga, rasanya menyenangkan untuk menggunggah beberapa postingan sekaligus. Lebih hemat waktu.

Tentu ada saja kerugiannya. Dengan menunda waktu menggunggah postingan, ada postingan yang relevan dengan *timing* yang terjadi saat kini menjadi agak terlambat. *Toh*, kemudian dipikir-pikir juga tak apa. Blog saya ini bukan berita online yang *kudu update* cepat-cepat. Bukan pula Twitter yang memang kicauannya diperbarui secara *real-time*.

*Ngeblog* memang tak harus langsung dimuat. Kadang bukan kecepatan yang kita perlukan. Melambat, bisa jadi membuat suatu hal lebih matang, mencapai kesempurnaan. Lagipula mengapa harus cepat-cepat? Hidup memang singkat. Justru karena itu harus dijalani dan dinikmati dengan ritme yang normal.

*Catatan*:

Khusus untuk postingan yang ini, saya tulis dan muat saat ini juga. Ironis dengan isi postingan ini, *kan*? (Sambil senyum-senyum sendiri)