Lagi Trend Drop-shipping

*Drop-shipping* sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sudah ada praktisinya di tanah air. Banyak. Tak hanya pemain dengan pengalaman tinggi, banyak juga para mahasiswa dan ibu rumah tangga yang berani terjun ke dunia *drop-shipping* ini.

Bila ditilik dari istilahnya, *drop-shipping* ini merupakan aktivitas mengalirnya barang dari pihak manufaktur ke pemasar langsung; tanpa harus melalui serangkaian rantai distribusi. Penjual, siapapun itu, bisa langsung memasarkan barang yang dimaksud tanpa harus membeli barang terlebih dahulu. Justru barang akan dikirimkan langsung ke pembeli oleh manufaktur. Penjual hanya berperan untuk membantu pemasarannya tanpa harus repot mengelola perpindahan barangnya.

Oleh karena barang hanya melewati sedikit rantai penjualan, harganya pun lebih miring. Tentu kualitasnya tetap tergantung manufakturnya; baik atau buruk. Manufaktur untung karena tak perlu repot mengurus pemasaran. Penjual, orang yang melakukan *drop-shipping*, senang karena bisa menikmati selisih harga penjualan; tanpa harus pusing mengurus logistik.

Bagi para pelaku *drop-shipping*, modal dasarnya koneksi dengan banyak orang (baca: calon pembeli), membuat situs atau blog, menggunakan *social network services* (baik Facebook, Twitter, Instagram), dan ponsel untuk menerima pesanan. Tentu keterampilan menjual sangat dibutuhkan. Modal pun minimal tergantung kerjasama dengan manufaktur. Ada yang mensyaratkan deposit uang dan ada juga yang tanpa keharusan mengeluarkan uang sama sekali.

Selalu saja terdengar ajakan untuk melakukan *drop-shipping* sekaligus seminar-seminar sejenis. Umumnya, pihak produsen barang yang untung besar karena makin banyak orang yang ‘menjualkan’ barang-barang mereka. Pun banyak juga ‘kisah sukses’ para *drop-shipper* yang masih muda belia atau yang memang mendalami aktivitas penjualan seperti ini.

Trend ini saya pikir unik. *Drop-shipping* memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk melakukan aktivitas usaha kecil dan menengah tanpa harus repot dengan modal kapital dan kemampuan logistik. Di sisi lain, secara sosial, saya pribadi kurang setuju ketika banyak orang berbondong-bondong ramai melakukan aktivitas menjual tanpa memikirkan apakah barang yang dijual memang dibutuhkan orang atau kualitasnya bagus.

Pun banyak kisah pilu di mana penjual-penjual yang masih coba-coba ‘tertipu’ dengan manufaktur tak jelas. Uang sudah masuk, barang tak sampai ke tangan pembeli. Dengan begitu, para penjual pun dikejar-kejar pembeli karena barang tak pernah sampai. Tentu ada cerita-cerita lainnya yang beragam.

*Drop-shipping* merupakan fenomena tersendiri di tanah air saat ini. Maklum karena begitu ada yang memulai sesuatu, banyak yang ikut-ikutan. Kemudian setelah beberapa saat, trend berubah dan sesuatu yang heboh pun berangsur-angsur hilang dengan sendirinya.

Bagaimana dengan Anda, sudah pernah melakukan aktivitas *drop-shipping*? Bila ya, silakan membagi cerita Anda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s