Ponpin

Bukan nama orang. Bukan pula nama makanan. Pastinya juga bukan nama tempat. Bahkan tak ada hubungannya dengna Upin dan Ipin.

Ponpin itu singkatan kata baru di tanah air. Telepon pintar. *Smartphone*.

Keberadaan ponpin memang menjamur di mana-mana. Siapa saja bisa memilikinya dengan mudah asalkan ada cukup uang. Harganya juga tak lagi fantastis. Untuk ponpin model *entry-level*, harganya terpaut tipis dengan harga *feature phone*; telepon yang cukup memadai untuk akses Internet yang sederhana dan berada di atas tingkatan ponsel kakek nenek yang hanya bisa untuk menelepon dan mengirim SMS.

Banyaknya ponpin yang dipakai oleh berbagai kalangan masyarakat di tanah air tidak bisa dijadikan indikator naiknya tingkat intelektualitas pemakainya. Maklum karena ponpin masih digunakan sebatas untuk keperluan rekreasi. Bukan kreasi atau berkomunikasi secara optimal.

Wajar karena masih perlu waktu untuk menggunakan dengan bijak. Minimal sudah memilikinya terlebih dahulu. Perkara bagaimana memakainya itu menjadi pilihan masing-masing pemakainya.

Ponpin juga, mau tak mau, menjadi fenomena tersendiri. Coba perhatikan, makin banyak yang setiap saat perhatiannya hanya tersedot pada layar kaca alat elektronik tersebut. Kapan saja. Di mana-mana. Bahkan ketika sedang bersama dengan orang lain.

Ponpin. Telepon pintar. Yang kadang membuat pemakainya kalah pintar tapi hebatnya menjadi malah menjadi sok pintar. Hanya karena sudah merasa memiliki dan memakai telepon pintar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s