Ngeblog Tak Harus Langsung Termuat

Rasanya lebih *afdol* bila saat sudah selesai menulis postingan baru lalu cepat-cepat diunggah di blog. Langsung dimuat saat itu juga. Seperti hidangan makanan, tersaji sewaktu masih panas. Mantab!

Itu yang saya pikirkan di masa lalu. Sekarang saya justru lebih suka untuk menulis draft postingan di laptop saya tanpa harus cepat-cepat mengunggahnya.

Saya biarkan dulu tulisannya. Kemudian saya sunting di lain waktu. Bila sudah ada koneksi Internet yang memadai, barulah saya unggah. Kadang beberapa postingan termuat bersama-sama. Tidak seperti dulu yang tiap kali selesai lalu segera dimuat di blog.

Cara seperti ini lebih praktis untuk saya pribadi. Koneksi Internet yang *lambretta*, lambat sekali, memang memaksa saya untuk tidak selalu terkoneksi dengan Internet setiap saat.

Uniknya, meski *ngeblog* dengan menuliskan draft ini karena terpaksa awalnya, lama-lama saya malah menemukan beberapa keuntungan yang positif.

Pertama, saya bisa lebih fokus menulis postingan. Tanpa harus *berjibaku* dengan koneksi Internet yang memerlukan kesabaran tanpa batas. Menulis dan menulis. Produktivitas menulis menjadi meningkat.

Kedua, karena tulisan harus diendapkan terlebih dahulu, saya bisa menyunting tulisan-tulisan tersebut dengan lebih obyektif. Pun tak ada rasa tergesa sebelum koneksi Internet pelan-pelan atau tiba-tiba raib.

Ketiga, rasanya menyenangkan untuk menggunggah beberapa postingan sekaligus. Lebih hemat waktu.

Tentu ada saja kerugiannya. Dengan menunda waktu menggunggah postingan, ada postingan yang relevan dengan *timing* yang terjadi saat kini menjadi agak terlambat. *Toh*, kemudian dipikir-pikir juga tak apa. Blog saya ini bukan berita online yang *kudu update* cepat-cepat. Bukan pula Twitter yang memang kicauannya diperbarui secara *real-time*.

*Ngeblog* memang tak harus langsung dimuat. Kadang bukan kecepatan yang kita perlukan. Melambat, bisa jadi membuat suatu hal lebih matang, mencapai kesempurnaan. Lagipula mengapa harus cepat-cepat? Hidup memang singkat. Justru karena itu harus dijalani dan dinikmati dengan ritme yang normal.

*Catatan*:

Khusus untuk postingan yang ini, saya tulis dan muat saat ini juga. Ironis dengan isi postingan ini, *kan*? (Sambil senyum-senyum sendiri)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s