Jiwa Wirausaha

Kata banyak orang, jiwa wirausaha itu bukan atas asas keturunan. Tumbuh dari diri sendiri yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Seseorang bisa buka usaha dengan mandiri padahal orangtuanya bukan seorang pengusaha.

Semisal Joni yang bisa buka supermarket padahal bapaknya pegawai negeri. Begitu juga Yanni yang buka kursus bahasa asing meskipun bapaknya dan kakeknya merupakan keluarga angkatan bersenjata.

Namun ada juga yang percaya sebaliknya. Jiwa wirausaha itu tumbuh dari keluarga. Turun-menurun. Entah disengaja atau tidak oleh orangtuanya, bisnis keluarga diserahkan dari generasi tua ke generasi yang baru. Tak menjamin kalau generasi selanjutnya itu senang atau tidak dengan bisnis tersebut, *toh*, enak bukan kalau tinggal melanjutkan.

Ada yang bisa menjadikan bisnisnya lebih besar dari generasi pendahulunya. Ada juga yang berakhir tragis. Bisnis mengkeret menjadi lebih kecil karena penerusnya tak memiliki kemampuan bisnis sehebat pendahulunya. Mungkin juga karena karena perubahan dunia dan situasi ekonomi.

Bila Yenni sekarang memiliki usaha katering yang sukses itu lumrah karena dulu bapaknya nenek, nenek, dan mamanya sudah malang-melintang di usaha katering, restoran, dan kafe.

Pun Anton yang ayahnya dulu juragan beras terbesar di kampungnya kini juga menjadi juragan beras yang menguasai beberapa kampung sekaligus. Maklum karena dari kecil Anton tak disekolahkan dan hanya benar-benar tahu tentang beras.

Terlepas dari jiwa wirausaha itu diturunkan atau bukan, ada yang lebih penting yaitu kepercayaan bahwa sebenarnya orang bisa memulai usaha. Asalkan ada keyakinan, semangat, dan kemauan. Ditambah modal dan keterampilan. Juga tak lupa dukungan dari keluarga dan lingkungannya.

Omong-omong tentang keluarga saya sendiri. Saya harusnya malu karena tidak seberani generasi pendahulu saya. Kedua kakek dari pihak bapak dan ibu berani berwirausaha. Tak hebat memang. Skalanya kecil. Yang satu membuka toko kelontong yang cukup untuk menghidupi anak-anaknya; sembari bekerja di hotel. Satunya lagi mampu meraup kekayaan dengan membuka usaha perbaikan kamera yang laris manis di saat kejayaannya.

Malahan bapak saya juga ikut membuka toko kelontong untuk menambah penghasilan bulanan yang tidak cukup bila hanya mengandalkan dari gaji di kantornya. Tak cukup dengan itu, bersama rekan-rekannya membangun stasiun radio; yang penuh liku-liku namun akhirnya berhasil dibeli oleh jaringan stasiun radio nasional.

Saya sendiri? *Nah* itu dia yang membuat saya malu. Harusnya dengan perkembangan teknologi, kondisi keuangan yang lebih baik, kestabilan negara, dan keterampilan yang lebih memadai; saya harusnya bisa membuka usaha sendiri. Nyatanya tidak. Lebih senang menjadi karyawan. Memang ada impian menjadi penulis yang bahasa kerennya *self-employed* tapi hanya sebentar saja.

Itu yang ada dalam benak saya sekarang. *Why not?* Kenapa *kok* generasi yang lebih modern malah tidak setangguh generasi yang dulu-dulu. Padahal semuanya memungkinkan.

*Yah* itulah yang menjadi pemikiran saya. Mungkin malah karena dipikir-pikir dan terlalu banyak pikiran jadi malah buntu. Tidak cepat beranjak menjadi sesuatu.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Bila memang Anda adalah seseorang yang ingin berwirausaha, ada baiknya bila segera melakukan sesuatu dan menuruti kata hati. Siapa tahu bisa jadi pengusaha yang sukses.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s