Tema Hemingway Rewritten

Rasanya kalau sudah cocok, susah gantinya. Itu yang saya alami ketika menjajal tema WordPress dengan nama Hemingway Rewritten. Jenis dan ukuran font membuat tulisan mudah dibaca. Desainnya lebar dan bersih. Mendukung fitur responsive sehingga bisa dibaca dengan enak melalui layar dekstop, tablet, atau layar kecil ponsel pintar sekalipun. Gratis disediakan oleh WordPress. Kurang apa lagi coba? Bahkan saya pun tak lagi kembali menggunakan tema White as a Milk (yang saya sukai karena ringan sehingga cocok untuk koneksi internet yang lambat) atau P2 (yang praktis dan efisien).

Jadi untuk sementara ini, blog ini menggunakan Hemingway Rewritten. Mungkin ada kalanya berganti bila ada tema yang lebih baik atau tema baru yang bisa dicoba.

Menggunakan Display Posts Shortcode

WordPress memiliki banyak fitur. Sayangnya tak semua dipakai karena banyak yang tidak tahu kegunaan fitur-fitur tersebut. Salah satu fitur yang ditawarkan WordPress adalah kemampuan untuk menampilkan shortcode pada postingan atau halaman.

Ada banyak ragam shortcode. Saat ini yang ditampilkan di postingan ini adalah menampilkan shortcode yang berhubungan dengan “kategori” postingan. Bila tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut, coba lihat di laman Display Posts Shortcode dari situs WordPress.

Untuk contohnya bisa lihat di bawah ini.

Postingan dengan kategori “bahasa”.

Postingan dengan kategori “internet”.

Postingan dengan kategori “jalan2”.

Fitur yang menarik, bukan?

Tongsis

Tongsis. Apa itu?

Kepanjangannya adalah tongkat narsis. Maraknya foto selfie membuat tongsis menjadi alat yang memenuhi kebutuhan akan hasil selfie yang lebih sempurna.

Selfie, yang mana adalah aktivitas memotret diri sendiri dengan menggunakan kamera atau ponsel, biasanya menghasilkan foto diri sendiri (atau bersama-sama) yang kurang sempurna. Sejauh-jauhnya jangkauan tangan, tentu tak lebih dari satu meter. Otomatis foto selfie menampilkan wajah yang terlalu dekat dengan kamera. Pun miring sudut pengambilan gambarnya. Bahkan seringkali gambarnya tidak jelas sehingga perlu diulang berkali-kali.

Dengan menggunakan tongsis, jarak kamera atau ponsel menjadi lebih jauh dari jangkauan tangan yang mengambil foto selfie. Gambar bisa memuat bagian wajah dan tubuh. Bila dipakai berfoto selfie beramai-ramai, gambarnya bisa memuat lebih banyak wajah. Lebih ramai narsisnya, lebih asyik. Begitulah kegunaan tongsis ini.

Tongsis yang dulu dianggap sebagai barang aneh. Kini malah banyak dicari. Jaman berubah begitu pula kebiasaan. Dulu aktivitas mengambil foto dianggap sebagai hal yang serius. Juru foto dibayar untuk mengambil foto orang-orang yang berjejer rapi kala ada nikahan, kelahiran bayi, atau wisuda.

Sekarang berbeda. Orang yang memotret pun ingin eksis bersama yang dipotret. Saking eksisnya, tongsis pun dipakai. Oleh karena yang memakai tongsis umumnya berada di depan dan di tengah maka sang pemotret yang menjadi orang yang paling mencolok di foto selfie sendirian atau beramai-ramai.

Jadi jangan heran bila sekarang ini yang memotret justru yang paling tampak. Dengan tingkat narsis yang sangat tinggi. Beda dengan jaman dulu yang mana pemotret justru orang yang paling tidak suka dipotret tapi punya hobi memotret.

Anda sudah punya tongsis?

PT, CV dan Firma

Pertanyaan saya terjawab dengan gamblang hari ini. Pertanyaan yang sederhana. Apa sih bedanya PT, CV dan Firma? Sebelumnya hanya mengerti samar-samar. Kini sudah lebih mengerti.

Bukan bermaksud iklan, perbedaan ketiganya bisa dibaca di perbandingan yang dimuat oleh Lawindo.biz.

Ternyata ada beda dalam bentuk perusahaan, dasar hukum, pendiri perusahaan, nama perusahaan, modal perusahaan, bidang usaha, pengurus perusahaan, proses pendiriannya hingga perubahan anggaran dasar perusahaan. Banyak bedanya yang ternyata berpengaruh terhadap usaha yang hendak didirikan.

Tentu legalitas usaha memakan biaya tersendiri. Namanya juga investasi. Sebenarnya banyak usaha yang tak memiliki ijin usaha karena memang tak memiliki legalitas. Namun untuk mereka yang serius membangun bisnis, memiliki legalitas merupakan hal yang wajib.

Coba bayangkan bila suatu usaha yang besar kemudian dituntut oleh konsumen atau rekanan bisnis. Tanpa legalitas, suatu usaha menjadi rentan terhadap tuntutan hukum. Tanpa legalitas, pemilik usaha yang otomatis memikul semua tanggung jawab.

Tapi wajar bila usaha yang baru dirintis belum memiliki legalitas. Maklum karena memulai usaha itu beresiko. Kemungkinan gagal lebih besar daripada keberhasilannya. Ironis bukan bila suatu usaha sudah memiliki nama dan legalitas namun kandas dalam usia seumur jagung.

Legalitas itu memang penting dalam memulai usaha. Namun lebih penting untuk bertahan atau berkembang dalam melakukan usaha.

Menulis Buku itu Olahraga Mental

Sudah lama saya tidak aktif menulis buku. Kadang-kadang membuat draft. Sesekali mengembangkan menjadi paragraf. Namun belum tuntas. Ide ada. Bahkan hasil akhirnya sudah bisa ‘dilihat’. Tak selesai juga.

Mungkin benar adanya menulis itu memerlukan ketekunan. Ide mudah didapat. Namun yang paling diperlukan adalah kemauan dan kemampuan untuk menuangkannya sedikit demi sedikit ke dalam halaman-halaman kosong.

Lebih daripada itu, menulis buku merupakan olahraga mental. Bila rajin mengolah raga maka badan sehat. Bila kerap dan konsisten menulis maka tuntaslah sebuah buku. Bahkan bisa lebih.

Sudah lama memang… Namun jemari kaku tak bergeming meski tangan sudah ‘bertengger’ di atas papan kunci laptop.

Sebuah obsesi yang tertunda. Maklum bukan prioritas utama saat ini.

Content Marketing

Marketing menggunakan konten bukan hal yang baru bagi saya. Sebutannya memang keren yaitu content marketing. Namun ternyata banyak yang belum saya pahami tentang industri ini.

Industri ini sedang booming di tanah air. Maklum karena munculnya banyak situs yang saling bersaing menarik pengunjung memang membutuhkan sesuatu yang menimbulkan ketertarikan pengunjung sekaligus meningkatkan trafik yang diperoleh dari mesin pencari; melalui aktivitas Search Engine Optimization.

Karena memang termasuk industri yang baru berkembang maka belum mencapai tingkat maturity dan saturity. Ada potensi yang terbuka lebar sekaligus belum adanya standarisasi. Asalkan bisa menulis, sepertinya sah disebut content marketing.

Masih banyak penghasil konten, baik blogger atau pun penulis, yang kurang dihargai dengan sistem pendapatan yang layak. Uniknya karena kebutuhan ekonomi, para penghasil konten pun rela banting harga. Banting harga seperti ini pun juga berimbas kuantitas melimpah tetapi kualitas kurang terjamin. Tulisan tanpa makna pun membanjiri dunia maya. Terutama konten yang memang ditujukan untuk ‘dibaca’ oleh robot mesin pencari ketimbang asupan buat pengunjung manusia.

Jelas ada kebutuhan akan konten, baik secara kualitas dan kuantitas. Namun belum cukup banyak penghasil konten yang berpengalaman dalam jumlah yang mencukupi. Bagi mereka yang ingin memiliki karir atau usaha dalam bisnis tulis-menulis, industri content marketing cukup menggiurkan saat ini. Terutama karena di tanah air, banyak yang ingin dan sebenarnya mampu menjadi penulis. Terlepas dari sebutannya; entah itu blogger, penulis, ataucopywriter. Pada intinya kerjaannya sama yaitu menghasilkan konten.

Content marketing sudah bukan barang baru tetapi masih perlu dipahami lebih lanjut. Menarik, bukan?

[tag menulis]

Konseling Akademis dan Karir

Ada perbedaan antara orang yang sukses dengan yang tidak sukses. Orang yang sukses mengerti dengan benar tujuan hidupnya, memahami tahapan-tahapan yang harus dilaluinya, dan sungguh-sungguh mengerjakannya dengan kerja keras.

Sedangkan yang tidak sukses, pada umumnya tidak memiliki tujuan hidup. Masih bingung dengan apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. Bila bekerja keras pun menjadi tak maksimal karena tak mengerti dengan sungguh apa yang diinginkannya.

Sepertinya tahapan bertumbuh seseorang cukup sederhana. Sekolah di pendidikan dasar. Kemudian melanjutkan ke pendidikan tinggi; baik universitas atau akademi. Setelah lulus, lalu bekerja atau membuka usaha. Hanya saja tak semua orang lancar menapaki tahapan-tahapan tersebut.

Oleh karena itu, bila sekolah memiliki staf yang bisa memberikan konseling akademis dan karir, murid-muridnya bisa mendapatkan jalur yang mengarah ke cita-cita mereka dengan lebih jelas. Maklum bila para murid dan mahasiswa seringkali tak tahu yang mereka harus lakukan selain belajar sesuai kurikulum. Ditambah bahwa mereka masih labil karena usia yang masih muda dan belum terlalu berpengalaman.

Bahkan fungsi konseling akademis dan karir menjadi lebih signifikan bila orangtua siswa atau mahasiswa tak memiliki kemampuan untuk mengarahkan jalan pendidikan dan karir anak mereka.

Tentu konseling akademis dan karir bukan orang yang paling menentukan keberhasilan siswa dan mahasiswa. Justru yang paling berperan adalah siswa dan mahasiswa itu sendiri. Tugas konseling akademis dan karir hanya mengarahkan. Memberi jawaban yang berkenaan dengan informasi dan pengalaman.

Konseling akademis dan karir masih jarang didapati di sekolah dan akademia. Namun pengalaman membuktikan bahwa sekolah dan akademia yang memiliki layanan konseling akan mendapati alumninya menjadi orang-orang yang lebih berhasil dibanding mereka yang tak memiliki layanan mengarahkan jalan akademis dan karir siswa dan mahasiswa.