Perlombaan Senjata Negara-Negara di Asia

Ketegangan di wilayah Asia rupanya membuat banyak negara untuk memutakhirkan persenjataannya. Bukan hanya China; yang dikhawatirkan menjadi kekuatan adi daya baru di wilayah Asia Utara hingga Asia Tenggara. Negara-negara yang berbatasan langsung juga siap sedia; seperti halnya Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Negara seperti Vietnam, Philipina, Malaysia juga memperbaiki persenjataan yang mereka punyai meski dananya tak sebesar negara-negara lain.

Seperti laiknya pertahanan sebuah negara, masing-masing negara memiliki beberapa angkatan bersenjata. Negara kepulauan cenderung meningkatkan persenjataan udara. Berbeda dengan negara yang sebagian besar wilayahnya daratan sehingga memilih meningkatkan persenjataan darat. Tentu bila memungkinkan semua angkatan akan dimaksimalkan sehingga bisa mengurangi ancaman yang datang.

Angkatan Laut menambah jumlah armada kapalnya sehingga daya jelajahnya lebih luas. Tak cukup kapal yang di permukaan, bila perlu tambah jumlah kapal selam. Tak hanya persenjataan yang sifatnya defensif. Bila perlu, *hovercraft* dan kapal pendarat amfibi wajib dimiliki untuk serangan ofensif.

Digdaya di laut saja tak cukup. Armada kapal terbatas dalam hal kecepatan yang tak dipunyai Angkatan Udara. Pesawat tempur mampu melibas jarak ribuan kilometer dalam waktu singkat. Pun ada pesawat pengebom dan pesawat pengangkut alat perang dan tentara. Saat ini, pesawat pengintai menjadi kebutuhan pokok sehingga infiltrasi pasukan asing bisa dideteksi lebih dini.

Sedangkan Angkatan Darat haruslah kuat. Tank, panser, peralatan artileri dengan mobilitas tinggi, radar, dan kendaraan pengangkut menjadi tulang punggung pertahanan darat yang menyeluruh; baik di pusat kota atau pun daerah-daerah perbatasan. Lagipula, Angkatan Darat memegang kendali untuk menjaga pertahanan fasilitas negara yang vital dan stabilitas keamanan warga negara.

Tiga angkatan bersenjata saja tak cukup. Harus ditambah dengan kemajuan peralatan spionase dan modernisasi pertahanan *cyber*. Wajar karena perang yang terjadi sekarang ini atau di masa depan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Perang bisa dimulai tanpa harus adanya konfrontasi fisik di tempat terbuka. Justru serangan pertama kali akan muncul di ranah maya dan infiltrasi teknologi komunikasi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya tertinggal memodernisasi peralatan perangnya. Yang mana dampaknya merugikan negara kita. Banyak negara yang tak menaruh hormat karena angkatan bersenjata negeri ini tak lagi menakutkan. Tak lagi punya wibawa.

Entah itu pesawat tempur yang suku cadangnya harus dikanibal dari pesawat lain. Kapal selam yang jumlah sangat sedikit dan tak semuanya bisa menyelam. Kapal tempur yang selalu kalah cepat sehingga tak bisa mengejar kapal ikan. Tank yang sudah tua. Radar yang daya jangkaunya tak luas. Yang lebih parah lagi, bila sudah menyoal urusan spionase selalu yang menjadi korban sadap atau pencurian data.

Kawasan Asia memanas. Negara yang ketinggalan dalam memutakhirkan persenjataan perangnya bakal menjadi bulan-bulanan negara lain. Anehnya, sepertinya Indonesia tetap *adem ayem* dan terkesan mengabaikan kebutuhan untuk meremajakan mesin perang. Banyak warga negaranya yang merasa gerah. Tapi mau apa lagi. Justru di saat yang rawan ini, para pejabat pemerintah, jajaran angkatan bersenjata, dan purnawirawan pun lebih asyik dengan bursa pemilihan umum.

Pasti nanti baru teriak-teriak ketika ada wilayah laut yang hilang karena menjadi wilayah resmi negara lain di peta internasional. Pulau yang dicaplok negara lain. Hingga fasilitas negara yang diakuisisi perusahaan asing.

Finding Mr. Right

Alasan satu-satunya saya menonton film Mandarin yang rilis di tahun 2013 ini karena adanya Tang Wei sebagai aktris utamanya. Tang Wei terkenal namanya saat membintangi film Lust, Caution.

Saya tak terlalu yakin dengan judulnya. Terkesan seperti film drama cinta yang generik. Sinopsisnya pun tak spesial amat. Seorang perempuan muda bernama Wen jiajia yang menjadi simpanan pengusaha kaya China dan hamil muda; yang bertemu lelaki China bernama Frank yang tinggal di Seattle, Amerika Serikat. Ada dilema, gegar budaya, dan impian menemukan cinta sejati.

Adegan-adegan kemudian berjalan tak terlalu cepat dan tak terlalu lambat. Jiajia yang hamil ini memulai hari-harinya di Seattle dengan boros. Uang tak jadi masalah karena kartu kredit tanpa batas yang diberikan oleh pengusaha kaya yang sudah beristri.

Namun semuanya berubah total tatkala kartu kredit tak lagi bisa digunakan karena aliran dana dibekukan. Masalah besar bila tak memiliki uang di negeri orang. Justru masalah ini menjadi titik balik Jiajia yang sombong dan mau menang sendiri.

Bahkan di tengah-tengah kehidupannya di Seattle, Jiajia menemukan sesosok lelaki kebapakan beranak satu yang baik budinya meskipun tak kaya dan hanya menjadi sopir yang bekerja serabutan.

Saat asmara tumbuh di antara Jiajia dan Frank itu dengan puncaknya ketika si jabang bayi lahir, justru harus balik ke Beijing, China karena sudah habis visa tinggalnya dan akan dinikahi oleh pengusaha kaya; yang mana sudah menceraikan istrinya.

Berpisah sudah. Ada jarak yang sangat jauh antara Seattle dan Beijing. Namun keduanya menyimpan perasaan cinta yang sama dalamnya.

Dan dua tahun kemudian, keduanya bertemu lagi di Sears Tower yang berada di New York. Jiajia sudah bercerai dengan pengusaha kaya.Frank pun sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Keduanya akhirnya kembali dalam kebersamaan.

Di akhir cerita, Jiajia tersebut meraih impiannya. Bertemu dan bersama dengan Mr. Right. Lelaki idalam yang memberinya cinta sejati.

Saya terharu dengan kisah film ini. Tak menyangka bila film yang tadinya saya kira biasa-biasa saja malah membuat mata saya berkaca-kaca dan mendapat pelajaran berharga bahwa lelaki yang baik, *gentleman*, dan lemah lembut lebih dicari ketimbang laki-laki kaya yang dingin dan tak pernah sempatkan waktu demi wanita pasangannya.

Film Switch

Pemerannya aktor dan artis yang termasyur. Andy Lau dan Lin Chi-ling. Kisahnya tentang aksi menantang curi-mencuri lukisan kuno Dinasti Yuan yang sangat tinggi nilainya dan diincar oleh kolektor kaya raya hingga penguasa dunia hitam dari negara-negara yang berbeda.

Saya berharap banyak film berjudul Switch yang dirilis tahun 2013 ini akan memukau. Sayangnya tidak.

Film Mandarin ini seperti bunga yang layu sebelum berkembang. Modal pemain bintang, plot yang penuh intrik, dan efek film yang canggih tak membuat filmnya enak ditonton. Itupun ditambah dengan bangunan dan kendaraan yang kesannya glamor tapi sebatas dekorasi saja.

Selain itu ada banyak iklan terselubung yang muncul secara vulgar. Mulai dari hotel berbintang, maskapai penerbangan, telepon selular, hingga mobil mewah.

Film ini membosankan sehingga bikin saya mengantuk. Akhirnya film ini kelar juga dengan *ending* yang bisa ditebak. Biasa saja. Datar.

Intinya saya kecewa. Film yang memiliki banyak komponen yang bisa membuatnya menjadi film penuh aksi yang seru justru menjadi film yang dipenuhi adegan-adegan yang tak terjalin rapi, terlalu banyak dekorasi yang bombastis, dan terlalu banyak adegan hiperbola.

Polisi dan Kampanye dengan Pawai Sepeda Motor

Aturan lalu-lintas sudah sangat jelas menyebutkan bahwa pemakai sepeda motor harus memakai helm ketika berkendara di jalan umum. Semua pengendara harusnya sudah paham dan melakukannya karena aturan tersebut ada dalam ujian mendapatkan Surat Ijin Mengemudi. Helm wajib dipakai karena membantu keamanan pengendara bila terjadi kecelakaan lalu-lintas.

Polisi pun memiliki tugas yaitu mengingatkan mereka yang tak mematuhi aturan lalu-lintas. Bila perlu, pelanggar aturan lalu-lintas harus dikenai sanksi bila terbukti melakukan pelanggaran. Salah satunya bila tak memakai helm saat berkendara di jalan.

Lalu apa yang terjadi dengan kampanye dengan pawai sepeda motor?

Puluhan hingga ratusan pengendara sepeda motor bersama-sama memakai baju dan atribut partai. Tergantung dengan warna partai politiknya. Ada yang merah, hijau, kuning, biru, atau warna-warni. Mesin motor pun dibikin meraung-raung sehingga terdengar dari jarak jauh. Berbarengan melaju di jalan besar dan kecil untuk berkeliling supaya menarik perhatian publik.

Berbeda partai tapi ada satu kesamaan dalam pawai sepeda motor tersebut yaitu kebanyakan peserta pawai tidak mengenakan helm.

Padahal pawai bersama-sama sangat berbahaya karena sepeda motor bisa bersenggolan, bertabrakan, dan jatuh. Tentu saja tak semua partai seperti itu. Ada salah satu parpol yang tertib di jalanan dan mengenakan helm sayangnya mereka malah membawa-bawa anak-anak kecil dalam pawai berkendaraan.

Pertanyaan yang mengemuka. Mengapa aparat polisi tidak menindak pawai kendaraan yang tak mematuhi aturan lalu-lintas dengan mengenakan helm. Apakah karena pawai dilakukan berombongan dengan jumlah peserta pawai yang bisa berjumlah puluhan hingga ratusan sehingga polisi takut menindak?

Coba bila polisi bersikap tegas sehingga para peserta pawai berkendaraan motor mau tak mau menaati aturan memakai helm; tentu pawai menjadi lebih aman dan teratur.

Meskipun jumlah pawai berkendaraan tak sebanyak dan tak seramai tahun-tahun pemilu yang lalu; tetap saja ada perasaan mirih dan gerah bila berpapasan dengan pawai seperti itu. Kesannya *ugal-ugalan*. Pemakai jalan yang lain harus cepat-cepat minggir bila tak ingin terkena makian atau mendapat pelototan mata dengan sikap mengancam.

Harapannya, pawai seperti ini menjadi yang terakhir di pemilu 2014. Di masa depan, kampanye lebih bagus dan mengena bila menggunakan perangkat komunikasi massa dan sosialisasi melalu media massa. Tak perlu berombongan memakai motor yang mesinnya meraung-raung seperti sedang kesetanan. Setuju?

Hawa Panas Bikin Gerah Yogya

Entah apa yang sebenarnya terjadi. Temperatur di Yogya terasa sangat panas. Jelas membuat gerah. Memang musimnya tak jelas. Apakah musim hujan sudah berakhir atau musim kemarau sudah mulai? Musim transisi?

Beberapa hari yang lalu, Merapi juga sempat meletus meski cuma kecil skalanya dan sebentar saja. Hujan abu yang tipis sempat terjadi. Seperti biasanya, bila gunung berapi di Utara kota ini beraktivitas, biasanya kota ini akan menjadi lebih tinggi suhunya.

Namun yang jelas banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang lalu-lalang di kota ini makin bertambah. Mobil dan motor. Asap kendaraannya tak lagi sempat terserap oleh jumlah pepohonan yang justru makin berkurang karena banyaknya bangunan baru dan pelebaran jalan.

Ditambah lagi dengan adanya kampanye partai politik dengan pawai kendaraan bermotor; yang mesin motornya disengaja sehingga lebih keras meraung-raung suaranya. Entah rombongan berbaju dan beratribut merah, hijau, atau biru; hasilnya sama saja. Menambah kemacetan dan rasa gerah tak tertahankan.

Bila dulu di rumah saya tak perlu memakai kipas angin, sekarang sepertinya wajib menyalakannya tiap siang dan tiap sore. Bila tidak, badan akan cepat berkeringat dan malah mudah mengantuk. Alhasil berpikir pun menjadi kurang maksimal karena terlalu cepat lelah.

Tiap kali merasakan rasa gerah seperti ini, kadang-kadang saya teringat dengan Kota Malang. Kota yang ukurannya lebih kecil dari Yogya tetapi lebih rindang. Tak terlalu adem lagi tapi masih terhitung tak panas-panas amat. Ada banyak pohon di sana-sini.

Harapan saya, Yogya bisa seperti Malang yang mampu menghadirkan pohon-pohon peneduh di banyak ruas jalan. Pun jalanannya tertata karena jumlah kendaraan tak ramai-ramai amat sehingga lebih lenggang dan teratur.

Kota Yogya seyogyanya menjaga citra kota sebagai kota yang adem ayem. Bukan malah kota yang terasa gerah.