Mata Najwa dan Kick Andy

Dua-duanya merupakan acara talk show yang bermutu. Sarat dengan opini yang cerdas, dipandu oleh pembawa acara yang mumpuni, dan tokoh-tokoh yang didatangkan pun bervariasi, berpengaruh, dan menginspirasi.

Kedua acara perbincangan tersebut juga tak merasa perlu untuk mendatangkan penyanyi dangdut yang mengajak penonton bergoyang, memberikan kuis berhadiah, dan mengajukan topik yang kontroversial.

Justru topik mereka mencerminkan apa yang sedang dibicarakan di masyarakat luas. Bila pun tidak, topik mereka pasti akan mengangkat isu sosial yang menjadi masalah bersama. Dengan begitu, penonton di studio maupun di depan layar kaca bisa menambah wawasan.

Mata Najwa tampil dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam sehingga bisa mendapatkan jawaban yang lebih dalam dari narasumber. Najwa, sebagai pembawa acara, tegas dalam memotong pernyataan yang terlalu panjang dan bertele-tele. Dengan begitu, pemirsa tak menjadi bosan dengan jawaban datar yang kerap muncul di acara bincang-bincang lainnya.

Sedangkan Kick Andy menawarkan perbincangan yang lebih santai. Elaborasi dengan narasumber yang bisa memiliki lebih banyak waktu untuk membagi pikiran dan perasaannya. Andy pun tak segan juga ikut memberikan suara dan pendapatnya sehingga acara tersebut menjadi lebih bernyawa.

Semoga ke depannya, stasius-stasiun televisi di tanah air lebih tertarik untuk menghadirkan acara bincang-bincang yang lebih bermutu seperti halnya Mata Najwa dan Kick Andy.

Memang acara-acara tersebut tak selalu berbanding lurus dengan rating yang tinggi dan perolehan iklan yang besar. Namun dalam jangka panjang, acara-acara yang bermutu akan membuat pemirsanya betah untuk selalu mengikutinya karena mereka yakin bahwa mereka dicerdaskan dan diluaskan wawasannya; tak hanya sekedar membunuh waktu dengan acara hiburan yang membodohi masyarakat luas, tak bermutu, dan tak berguna.

Piala Dunia atau Pilihan Presiden?

Bulan Juni merupakan bulan yang menarik. Bakal diramaikan oleh dua peristiwa yang akan ditunggu-tunggu oleh banyak orang di tanah air.

Pertama adalah pergelaran Piala Dunia 2014 di Brazil. Meskipun tak semua orang di Indonesia suka menonton sepak bola, toh terbukti bahwa yang menonton cukup banyak. Ada yang mendukung tim tuan rumah yaitu Brazil. Ada yang memfavoritkan Italia. Pun ada yang berharap Argentina atau Belanda menjadi pemenang. Piala Dunia jelas meraup banyak atensi dari penggemar sepak bola.

Kedua tentunya Pilihan Presiden 2014. Ada dua pasang kandidat. Jokowi dan Jusuf Kalla. Prabowo dan Hatta Rajasa. Yang mana kedua pasang tersebut masing-masing memiliki jumlah pendukung yang banyak. Bulan Juni akan diwarnai dengan ramainya kampanye kedua pasang kandidat RI1 dan RI2. Pilihannya mudah. Pilih JW – JK atau PS – HR. Mungkin malah ada pula yang memilih untuk tidak memilih saking bingungnya.

Dengan satu peristiwa internasional dan satu peristiwa nasional, sepertinya media massa baik online dan offline akan dipenuhi oleh pemberitaan mengenai Piala Dunia dan Pilpres. Topik lain menjadi minimal karena kurang dianggap penting.

Untuk yang mengikuti Piala Dunia dan Pilpres tentu akan senang dengan liputan menyeluruh dua event tersebut. Sedangkan orang lain yang tidak suka pasti akan menganggap bahwa bulan Juni menjadi bulan yang membosankan karena hanya dua topik yang akan dibahas di seantero negeri.

Omong-omong, mana yang lebih menarik bagi Anda? Piala Dunia atau Pilpres?

Perang Komentar di Dunia Maya Terkait Jokowi dan Prabowo

Saat membaca-baca berbagai artikel berita di situs berita online, forum, blog; saya mendapati ada begitu banyak komentar yang menyertai topik seputar Jokowi dan Prabowo. Sedangkan topik di luar itu, sangat minim komentar.

Komentar pada topik Jokowi dan Prabowo memiliki karakteristik yang spesifik. Yaitu saling menyerang.

Artinya ada pemberi komentar yang mendukung satu pihak dan mereka yang mendukung pihak lainnya. Pendukung Jokowi melawan pendukung Prabowo.

Tidak peduli apakah artikel dalam berita tersebut netral atau berpihak, yang pasti selalu ada yang menjelek-jelekkan. Pun ada yang memuji setinggi langit.

Tentu hal seperti itu wajar adanya. Ada adu argumentasi dalam kolom komentar. Hanya saja lebih banyak debat kusir yang disertai caci-maki. Bukan hal yang baru, bukan?

Namun ada yang cukup mengganggu. Yaitu adanya orang yang memberi komentar berulang-ulang dengan komentar yang sama. Tak hanya dua kali. Malah ada yang lima kali berturut-turut. Tujuannya ingin membanjiri kolom komentar dengan opininya. Sangat memaksa kesannya.

Terus terang saya merasa kasihan dengan orang-orang yang harus memoderasi kolom komentar tersebut. Maklum karena banyak pemberi komentar yang mulai membuat flame comment. Tujuannya untuk menyerang pembaca lain yang memiliki komentar berseberangan.

Tugas moderator sederhana yaitu menghapus komentar yang mulai berbau SARA dan menyerang. Atau paling tidak menurunkan atau menyembunyikan komentar tersebut sehingga kolom komentar menjadi lebih netral. Namun dengan banyaknya banjir komentar yang tidak pada tempatnya, membuat moderator seperti tukang kebun yang mau tidak mau mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di musim hujan. Tak ada habisnya.

Begitulah situasi di dunia maya. Berkomentar pada suatu artikel itu sah-sah saja. Bahkan diharapkan. Namun ada baiknya menahan diri dan melakukannya dengan etis. Tidak asal ketik dan memencet tombok kirim. Hormati pembaca lain yang membaca artikel dan komentar.

Relasi Antara Kesehatan dan Kecantikan

Apakah sehat itu berelasi dengan kecantikan yang dipancarkan oleh manusia?

Jawabannya tergantung dengan alasannya.

Bila tubuh sehat tentu saja seseorang akan tampak menarik. Tubuh yang sehat terlihat dari kulit yang cerah, mata yang bening, postur tubuh tegap, dan gerak tubuh lincah.

Coba amati binatang-binatang saat kawin mawin. Mereka akan tertarik untuk kawin dengan spesies yang menurut mereka sehat dan akan menghasilkan keturunan yang baik. Entah dengan melihat ciri fisik luar, penyebaran hormon, atau kelincahan tubuh.

Oleh karena itu, wajar bila kita manusia berpikir bahwa mereka yang sehat itu kelihatan menarik. Dan begitu juga pemikiran serupa bahwa bila seseorang itu menarik pastilah orang tersebut memiliki raga yang sehat.

Hanya saja, sepertinya sebagian manusia mencoba ‘mengakali’ dengan memperbaiki penampilan tanpa perbaikan kesehatan.

Untuk menghindari kesan tua, ada botox sehingga kerutan di wajah bisa raib; lalu orang berpikir bahwa wajahnya masih muda. Sedot lemak untuk menyingkirkan tanda kelebihan berat badan; yang mana tidak sehat. Pun ada pula operasi plastik yang bisa menyulap mereka yang kelihatan tidak atau kurang sehat menjadi sempurna.

Namun meski ditutup-tutupi, tetap saja kesehatan seseorang sulit untuk tidak terlihat. Bila tidak sehat maka akan banyak penyakit yang mendera. Tidak peduli apakah seseorang terlihat sehat dan sempurna dari luar.

Hiromi Shinya, yang menulis buku The Microbe Factor, memaparkan bahwa yang kita sebut sebagai kecantikan itu sebenarnya adalah cerminan dari kesehatan tubuh manusia. Yang mana, sayangnya saat ini, bisa ‘dipoles’ sehingga tampak sehat dan sempurna; meskipun aslinya tidak sehat.

Wajar saja jika kita melihat orang yang bertubuh sehat seperti para olahragawan, kita dengan mudah menganggap mereka menarik. Bukan karena kecantikan wajah. Tapi karena semata-mata para olahragawan itu memiliki genetika yang lebih baik dari rata-rata manusia. Genetika yang pasti akan bisa memperbaiki keturunan.

Sangat berkebalikan dengan mereka yang sakit-sakitan, mereka ini selalu dianggap kurang menarik karena memiliki kecenderungan untuk menurunkan genetika yang rusak atau tidak optimal. Sebagai orang normal, apakah Anda mau mendapatkan keturunan dari orang yang tidak sehat? Tentu tidak, bukan?

Sehat itu cantik. Dan kecantikan itu seyogyanya merupakan cerminan dari kesehatan ragawi.

Obrolan Pilpres di Mana-mana

Sebentar lagi rakyat Indonesia akan memilih siapa pasangan presiden dan wakil presiden yang akan mengepalai negeri ini. Pilihannya cuma dua pasang saja. Mudah, bukan?

Pasangan yang pertama adalah duet Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Unik karena yang satu merupakan wakil dari generasi muda yang sedang naik daun karena kebijakan dan tindakan yang populis. Sedangkan lainnya adalah politikus yang berpengalaman dan telah banyak makan garam.

Pasangan lainnya adalah duo Prabowo dan Hatta Rajasa. Pasangan ini mengusung orang yang memiliki pengalaman dan dukungan dari militer bersama dengan menteri yang bergelut di bidang infrastruktur yang kompleks.

Dua pasang capres dan cawapres tersebut sama-sama dielu-elukan pendukungnya. Ada kepercayaan yang ditujukan kepada masing-masing pasangan tersebut. Pun harapan akan kehidupan berbangsa yang lebih kuat dan kondisi ekonomi yang lebih baik.

Namun kedua pasangan tersebut juga sering dicaci-maki di berbagai media massa, forum masyarakat, dan sosial media. Maklum karena bagaimana pun sebagai manusia, mereka juga punya kelemahan dan kekurangan.

Menariknya, entah mendukung atau menjelek-jelekkan, masyarakat luas sepertinya lebih suka membuat lelucon terhadap mereka berdua. Mungkin karena banyak anggota masyarakat yang tak begitu peduli dengan siapa yang menjadi presiden dan wakil presiden. Mereka hanya menjadikan topik pilpres sebagai omongan sembari minum teh dan mengudap cemilan. Candaan tidak serius. Tanpa ada maksud untuk membuat kesan jelek bagi para capres dan cawapres yang hendak mengikuti pilpres.

Hanya saja seringnya obrolan menyoal pilpres ini membuat topik ini malah menjadi membosankan. Awalnya memang menarik, banyak orang yang ingin tahu pandangan orang lain terhadap pilpres kali ini. Lama-lama jadi hambar. Tidak ada sesuatu hal yang baru. Malah lebih asyik memperbincangkan topik lain yang dirasa lebih membumi, lebih lucu, atau lebih seru.

Semoga saja pilpres bisa menghasilkan keputusan yang paling baik bagi bangsa ini. Presiden dan wakil presiden yang mumpuni dan mampu menjadi pemimpin yang bisa memajukan negeri ini dan mensejahterakan warga negaranya.

Menyoal Film Godzilla 2014

Godzilla itu film aksi serba spektakuler. Bila melihat cuplikan filmnya yang beredar sebelum filmnya main di berbagai bioskop di seluruh dunia, penonton bisa memperkirakan berapa besar tubuh monster ini. Belum terbayang pula berapa besar kerusakan yang ditimbulkannya.

Sebelum saya menonton film ini, saya berasumsi bahwa Godzilla akan muncul dari bawah samudera, bangkit menuju kota-kota besar di dunia, dan akan membumiratakan wilayah yang dilaluinya. Kemudian bakal dihadapi manusia dengan segala senjatanya. Dan akhirnya tumbanglah si raksasa tersebut.

Ternyata salah besar. Kisah Godzilla ini ternyata lain dari yang saya bayangkan. Bahkan saya tak menduga sama sekali jalan ceritanya yang meskipun sederhana namun tetap menarik.

Ada beberapa poin menarik dari film tersebut.

Letnan Brody, Orang Paling Sial di Film ini

Di awal film, Brody kecil kehilangan ibunya yang tewas di dalam pembangkit nuklir yang roboh di Jepang. Hubungan dengan ayahnya pun tak baik karena ayahnya masih terperangkap dengan masa lalu.

Ketika sudah dewasa dan memiliki istri dan satu anak, Letnan Brody yang baru saja kembali dari tugas militer di luar negeri, harus segera meninggalkan San Francisco untuk menuju Jepang. Pasalnya dia harus membebaskan ayahnya yang ditahan oleh polisi Jepang.

Ketika dia mengantarkan ayahnya yang ingin menyelidiki pembangkit nuklir yang roboh 15 tahun yang lalu itu, mereka berdua tertangkap. Sialnya pula, ternyata di area pembangkit nuklir tersebut mereka melihat makhluk raksasa bernama Muto yang bangkit dan memporandakan tempat itu. Dalam kejadian itu, ayahnya terluka parah dan akhirnya meninggal.

Segera setelah Letnan Brody hendak pulang dan transit di Honolulu, ternyata monster Muto tadi juga sampai di kepulauan itu. Hampir saja Letnan Brody terbunuh untuk kedua kalinya oleh raksasa yang ternyata berkelamin jantan tersebut.

Kemudian Brody yang memang jago menonaktifkan bom ini ikut kembali ke Amerika bersama tentara-tentara yang lain. Mendarat di California dan akhirnya memutuskan untuk membantu rekan tentara yang lain yang berencana membawa bom nuklir berskala ledakan megaton. Saat perjalanan naik kereta, lagi-lagi letnan ini bertatapan muka dengan Muto untuk ketiga kalinya. Sekali lagi, dia masih bernyawa.

Saat mencapai San Francisco, namanya juga sudah jodoh, Letnan Brody berhadapan dengan Muto lainnya yang berkelamin betina dan tubuhnya beberapa kali lebih besar. Muto betina ini sangat marah karena Letnan Brody membakar habis telur-telur Muto yang sudah dibuahi dan siap menetas. Hampir saja Letnan Brody dimakan bulat-bulat. Namun untungnya Muto betina ini sudah terlebih dahulu dibunuh oleh Godzilla.

Cukup sial memang nasib si letnan ini. Namun rupanya dia masih beruntung di akhir cerita dan kembali bertemu dengan istri dan anaknya.

Kota-kota Besar Hancur Berantakan

Namanya juga film Godzilla, monster-monsternya tak hanya besar. Ukurannya raksasa. Kedua Muto, yang dikategorikan sebagai makhluk parasit yang bertubuh sangat besar, masing-masing meluluhlantakkan wilayah yang dilaluinya.

Muto jantan menghancurkan pembangkit nuklir di Jepang, menghancurkan kawasan wisata dan bandara di Honolulu, dan memporakporandakan San Francisco. Sedangkan yang betina membuat Las Vegas hancur dan membuat San Francisco berantakan sewaktu membuat sarang untuk menetaskan anaknya dan melawan Godzilla.

Namun efek tragis dari makhluk-makhluk raksasa itu masih kalah masif dibandingkan efek yang muncul andaikata bom nuklir skala megaton meledak di California. Bisa-bisa daerah tersebut rata dengan tanah dan terkontaminasi oleh radiasinya selama ratusan tahun. Untungnya, bom nuklir tersebut berhasil diledakkan di tengah samudera.

Rusaknya Jembatan Golden Gate

Ada alasannya mengapa jembatan ini sering sekali muncul di banyak film. Pertama karena jembatan yang berlokasi di San Francisco ini memang menawan dan mengagumkan. Kedua karena jembatan ini menjadi landmarkyang diketahui oleh banyak orang, seperti halnya Patung Liberty dan Menara Eiffel. Yang ketiga, Hollywood tak jauh dari jembatan ini sehingga banyak pembuat film yang menjadikan bangunan buatan manusia ini sebagai latarbelakang film.

Mengapa sering dirusak? Nah itu dia. Memang rasanya mantab bila bangunan yang besar rusak parah. Kesannya heboh. Ada kepuasan tertentu untuk ‘merobohkan’ bangunan bersejarah yang dikagumi banyak orang di dalam film. Kali ini pun Golden Gate juga rusak karena Godzilla melewat jembatan ini untuk menuju ke daratan San Francisco. Tidak hancur total, hanya sebagian jembatannya saja yang rusak parah.

Godzilla The Hero

Ini dia yang tidak disangka sebelumnya. Biasanya pahlawannya adalah pasukan Amerika yang peralatannya serba canggih dan anggota-anggotanya serba heroik. Ternyata bukan.

Godzilla, yang ukurannya gigantik hingga ukurannya lebih besar dari gedung pencakar langit ini, datang untuk mencegah kedua Muto jantan dan betina bertemu dan menetaskan telur-telurnya.

Memang awalnya kehadiran Godzilla disalahartikan oleh banyak manusia. Dikira Godzilla adalah makhluk raksasa yang bisa menghancurkan peradaban manusia.

Nyatanya malah sebaliknya. Godzilla berjibaku mati-matian melawan kedua Muto. Setelah kedua Muto tersebut tewas, Godzilla pun pingsan. Untungnya Godzilla bangun kembali dan segera kembali menyelam ke dasar samudera. Misinya berhasil. Entah itu untuk menyeimbangkan alam atau menyelamatkan manusia.

Nuklir itu Memang Berbahaya

Entah itu bom nuklir, bahan bakar nuklir, limbah nuklir, hingga pembangkit tenaga bertenaga nuklir; nuklir itu benar-benar berbahaya. Contohnya sudah ada yaitu Chernobyl dan Fukushima.

Dalam film Godzilla ini, nuklir malah diincar makhluk raksasa bernama Muto karena menjadi sumber enerji mereka. Bahkan ledakan bom nuklir malah-malah bisa menjadikan mereka tambah kuat; alih-alih menghancurkan mereka. Repot, kan?

Tapi bukanlah manusia namanya kalau tidak menempuh resiko. Meskipun nuklir itu berbahaya dan sulit dikendalikan, toh tetap saja dipakai untuk menjadi pembangkit tenaga (yang tentu saja tidak ramah lingkungan) dan bom nuklir (yang bisa meratakan luasan wilayah yang luas dalam sekejap mata).

EMP, Peralatan Elektronik, Sistem Manual

EMP yang merupakan kependekan dari electromagnetic pulse ternyata sangat ampuh mematikan banyak peralatan elektronik pada suatu area tertentu.

Padahal hampir keseluruhan peradaban manusia bergantung pada teknis elektronik. Baik pesawat, kereta api, mobil, dan infrastruktur kota. Bila EMP mengganggu sistem elektronik, bisa-bisa sebuah kota atau wilayah akan menjadi kacau-balau.

Raksasa Muto rupanya mampu mengeluarkan EMP yang membuat para tentara kacau balau. Pesawat tempur berjatuhan, kapal-kapal berhenti mendadak, infrastruktur kota padam secara merata.

Hanya alat-alat manual yang masih bisa bekerja dengan baik saat EMP melanda suatu wilayah. Termasuk bom nuklir yang menggunakan detonator manual, kereta api, dan senjata artileri non-eletronik.

Berbeda dengan Film Godzilla Sebelumnya

Versi Godzilla kali ini memang lebih dekat relasinya dengan film Godzilla buatan Jepang; dibanding film Godzilla buatan Hollywood beberapa tahun yang lalu. Bahkan sebagai penghormatan untuk versi Jepang, pemainnya pun menyebutnya dengan Gojira, nama Jepangnya.

Pun Godzilla juga menjadi penyelamat manusia. Berbeda sama sekali dengan film Godzilla yang mana raksasa berbentuk seperti lizard itu tewas beserta anak-anaknya karena dibunuh oleh kekuatan militer manusia.

Film Godzilla ini mampu menghadirkan konsep cerita yang menarik. Tak hanya sebatas adegan berskala besar yang bombastis. Ada rangkaian sejarah yang membuat Godzilla menjadi sosok utama film ini; bukan aktor-aktor yang memainkan ilmuwan atau tentara.

Menurut rumor, bakal ada film sekuel dari raksasa yang menyelamatkan manusia. Seperti umumnya film kedua dan film-film berikutnya, diharapkan akan ada adegan dengan skala yang lebih menghebohkan dan cerita yang lebih atraktif. Kita tunggu saja kehadirannya.

Penembakan dan Kepemilikan Senjata Api

Di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat, ada perdebatan yang seru dan tak pernah habis-habisnya menyoal kepemilikan senjata api oleh warga negara. Ada yang setuju. Ada pula yang habis-habisan menentangnya.

Pihak yang mendukung percaya bahwa setiap orang boleh memiliki senjata api karena berguna untuk perlindungan diri. Dengan dalih bahwa warga negara bisa secara swadaya mempertahankan diri dari penyerangan dan perampokan. Fakta memang berbicara bahwa tingkat kriminalitas yang tinggi di banyak wilayah di Amerika Serikat yang sering tidak mendapatkan perlindungan dari aparat keamanan negara membuat warganya merasa perlu untuk melindungi dirinya. Yaitu dengan memiliki secara resmi dan mampu menggunakan senjata api.

Sebaliknya mereka yang tidak setuju berpikir bahwa kepemilikan senjata api justru bisa menimbulkan masalah tersendiri. Bila ada asumsi bahwa pengguna bisa menggunakan senjata api secara baik secara bijaksana, tentu tak ada yang perlu dikhawatirkan. Realitasnya sangat berbeda karena sudah banyak kejadian kriminalitas yang menggunakan senjata api. Jelas kepemilikan senjata api bisa membuat banyak orang menjadi resah ketimbang merasa aman.

Baru-baru ini terdapat berita yang menggemparkan di Isla Vista, California. Seorang pemuda yang frustasi dengan hidupnya melancarkan serangan membabi-buta menggunakan beberapa senjata api sekaligus. Korban jiwa berjatuhan. Pun masih ditambah oleh mereka yang luka-luka parah. Kemudian setelah terlibat baku-tembak dengan aparat keamanan, pemuda ini pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan senjata api yang dibawanya.

Yang mengejutkan banyak pihak, pemuda tersebut sudah lama merencanakan tindak kejahatannya. Ada dendam yang dipendam sangat lama. Meskipun beberapa kali tertunda dan hampir ketahuan, pemuda ini akhirnya bisa melancarkan serangannya. Dan parahnya, pemuda ini memiliki izin kepemilikan senjata api. Mengerikan, bukan?

Peristiwa ini sangat mengejutkan. Namun banyak orang yang sudah memprediksi bahwa kejadian seperti ini akan selalu terulang selama warga negara diperbolehkan untuk memiliki dan menggunakan senjata api.

Tentu saja pelarangan kepemilikan senjata api tak serta-merta mengurangi tingkat kriminalitas. Pasti akan ada banyak orang yang tetap membawa senjata api meskipun secara ilegal. Hanya saja, makin sulitnya kepemilikan senjata api bisa mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh pelaku kriminalitas; yaitu berkurangnya jumlah korban jiwa akibat penggunaan senjata api.

Kembali ke peristiwa penembakan di Isla Vista, polisi menemukan bahwa pemuda tersebut masih memiliki sekira 400 selongsong peluru yang belum sempat ditembakkan. Coba bayangkan berapa banyak korban jiwa yang jatuh bila peluru-peluru itu sempat ditembakkan. Tragedi tersebut akan lebih miris lagi.

Masing-masing warga negara memang memiliki hak untuk mempertahankan dirinya sendiri. Namun kepemilikan senjata api bukanlah sesuatu yang bijaksana. Senjata api seyogyanya hanya dimiliki dan digunakan oleh aparat keamanan yang sudah terlatih dan diawasi oleh hukum.