Ketergantungan Terhadap Nasi

Nasi itu sesuatu yang harus dilahap tiap hari. Tak hanya sekali tapi tiga kali. Tanpa nasi dalam satu hari rasanya perut tak kenyang. Nasi itu penting.

Pemikiran di atas seperti itu sudah jamak di tanah air. Dari Sabang sampai Merauke. Terutama di Pulau Jawa yang memiliki area sawah yang sangat luas. Bahkan wilayah yang dulunya memiliki sagu, jagung atau umbi-umbian kini berubah menjadi wilayah yang penduduknya memilih nasi sebagai makanan pokok.

Hebatnya pula, saking banyaknya populasi di negeri ini dan buruknya distribusi beras, impor beras besar-besaran pernah terjadi. Beras didatangkan dari negeri tetangga. Thailand dan Vietnam. Tragisnya, kekurangan pasokan beras tetap menyisakan kehidupan yang pahit bagi para petani beras. Padahal bila suplai kurang dan kebutuhan meningkat wajar bila harga meningkat. Sayangnya tidak. Yang jelas ketersediaan beras bisa mengancam stabilitas negara. Ada beras, rakyat tenang. Beras susah didapat, demo pun terjadi di mana-mana.

Beras menjadi sebuah kebutuhan dasar yang tak lepas dari kehidupan. Padahal berbagai penelitian membuktikan bahwa beras itu bisa digantikan dengan bahan pangan yang lain. Tak ada beras pun seseorang juga tak mati kelaparan. Malah bisa hidup lebih sehat.

Berbagai gerakan untuk makan dengan menekankan pada asupan sayuran dan buah-buahan dengan minim atau tanpa nasi menjamur di mana-mana. Anehnya, konsumsi beras tak juga menyurut bahkan bertambah. Memang susah mengganti kebiasaan yang sudah turun-temurun.

Memang diakui bahwa masakan yang menggunakan nasi atau dikudap bersama nasi itu memang lezat. Nasi goreng. Nasi liwet. Soto campur dengan nasi. Nasi yang sangat cocok dengan Gudeg. Arem-arem. Kupat. Tak ada batasnya masakan nusantara yang pas dengan eksisnya nasi.

Bahkan varietas beras di tanah air diakui keberagaman dan rasa nikmatnya oleh berbagai negara. Nasi di negeri ini memang enak. Rasanya bikin ketagihan.

Namun ketergantungan terhadap nasi memang sudah sangat tinggi. Jamak melihat orang-orang yang sakaw bila tak memakan nasi. Terutama yang sedang merantau atau bepergian di luar negeri. Banyak yang merindukan kehadiran nasi.

Padahal terlalu banyak asupan nasi bisa bikin perut membesar. Gampang mengantuk. Kelebihan karbohidrat. Maklum karena bila lauknya enak dan makan bersama-sama, orang menjadi tak sadar saat menambah jumlahan nasi di piringnya. Pokoknya asyik, enjoy dan tiba-tiba nasi di periuk sudah ludes tak bersisa. Lalu malah menambah lagi dengna periuk nasi kedua dan ketiga.

Nasi itu bagian penting dari bangsa ini. Kultur kehidupan pun dipengaruhi oleh penanaman padi, pengolahan beras, dan penyajian nasi. Namun bila nasi itu sudah menjadi ketergantungan pangan, rasanya keberadaan nasi harus ditinjau ulang.

Postingan tentang nasi di pagi ini muncul karena kemarin baru saja membeli rice cooker untuk memudahkan menanak nasi.

Iklan

One Reply to “Ketergantungan Terhadap Nasi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s