Selfie dan Etika Sosial

Selfie itu suatu hal yang sedang fenomenal. Banyak dilakukan oleh orang-orang di berbagai belahan dunia. Muda dan tua pun sama-sama melakukannya meski kebanyakan cenderung dilakukan oleh generasi muda. Yang katanya memiliki keinginan yang sangat besar untuk ‘eksis’.

Selfie terjadi kala seseorang memotret dirinya sendiri atau bersama-sama orang lain menggunakan kamera, ponsel, webcam. Potret yang diambil bisa disimpan untuk koleksi sendiri atau malah diunggah di berbagai layanan jejaring sosial.

Sedangkan untuk menyebut foto hasil selfie, biasanya disebut ‘foto selfie’. Berbeda dengan istilah ‘foto diri’ karena umumnya foto diri identik dengan pengambilan foto seseorang terhadap dirinya sendiri yang dilakukan oleh orang lain; semisal foto resmi, foto keluarga atau foto untuk paspor dan identitas. Beda dengan istilah ‘lukisan diri’ seperti yang dilakukan oleh para pelukis di mana mereka menggunakan cermin untuk melihat diri mereka sendiri saat melukis diri sendiri.

Bila dulu orang yang memotret malah tidak masuk di foto, sekarang orang yang mengambil foto pun ikut terlihat di dalam foto. Apapun latar belakang, suasana, dan lokasi tak begitu penting. Yang paling penting adalah adanya foto diri yang menonjol.

Apakah selfie itu narsis?

Sepertinya sudah jelas. Kesannya sebuah foto kurang afdol bila tak ada wajah pemotretnya sendiri. Bahkan bila potret bersama-sama, wajahnya pun otomatis terlihat paling menonjol karena fokus kamera umumnya mengarah ke wajahnya sendiri dibanding mengarah ke wajah orang lain atau pemandangan di belakangnya.

Jadi selfie itu bisa dilakukan di mana-mana?

Secara teori selfie memang bisa dilakukan di mana-mana. Asalkan ada perangkat dengan kamera dan tingkat narsis yang cukup tinggi; sebuah foto selfie akan dihasilkan.

Coba lihat di Internet, banyak yang mengambil foto di kamar mandi umum atau pribadi karena biasanya ada cermin besar menempel di kamar mandi. Tapi yang paling umum adalah ketika ada suatu event bersama atau momen spesial. Intinya di mana pun bisa.

Tapi apa pantas dilakukan di sembarang tempat?

Seyogyanya ada etika sosial yang dipegang. Masing-masing individu bisa berpikir apakah pantas ber-selfie-ria di suatu tempat. Coba Anda bayangkan sendiri apakah sopan untuk selfie di tempat berikut ini. Area pemakaman di mana banyak pelayat berdukacita. Tempat ibadah yang sakral. Lokasi pengungsian dengan banyak korban yang sedih karena kehilangan keluarga dan rumah.

Hanya saja banyak pelaku selfie dengan kadar narsis yang terlalu tinggi tetap nekat mengambil selfie supaya tetap ‘eksis’ meskipun sudah diingatkan oleh hati nurani dan orang lain.

Selfie yang melebihi batas etika sosial

Sudah banyak kritikan tertuju pada mereka yang menggunakan selfie tanpa menggunakan otak dan perasaan. Tragisnya selfie tersebut malah bisa menjadi bumerang.

Sebut saja selfie di tempat tidur tanpa menggunakan busana sama sekali yang mana malah membuat foto selfie telanjangnya disebarkan dan dipelototi oleh sekian banyak orang melalui Internet. Selfie di tempat berbahaya yang menantang maut yang membuat orang lain ikut-ikutan dan mendapat kecelakaan. Selfie ketika demonstrasi, chaos atau peperangan yang membuat pemotretnya terluka atau terbunuh; hanya agar foto selfienya kelihatan ‘keren’.

Bahkan ada selfie yang menggambarkan pemotretnya dengan latar belakang penyembelihan binatang ternak atau buruan; yang jelas terlihat sadis. Sepertinya selfie seperti di atas malah mengundang cibiran dan makian ketimbang perasaan bangga.

Selfie itu seni. Benarkah?

Tergantung masing-masing individu. Ada yang menganggapnya seperti itu. Ada pula yang menyanggahnya. Toh yang namanya foto, apapun itu, bisa menjadi suatu seni tersendiri.

Tapi bila seseorang sudah mengunggah puluhan hingga ratusan selfie dengan segenap usaha untuk memolesnya dengan Photoshop atau berbagai teknik lainnya sepertinya itu bukan lagi seni. Boleh dibilang itu merupakan penyimpangan sosial.

Narsis itu normal. Tapi terlalu narsis dengan kadar teramat tinggi sudah bukan hal yang wajar. Ada yang salah dengan kepribadian orang tersebut. Bahkan ada beberapa kasus di mana ada orang yang rela menghabiskan uang dan menahan sakit untuk operasi plastik pada wajahnya supaya bisa terlihat lebih ‘memukau dan mempesona’ ketika selfie. Gila, bukan?

Selfie itu semata fenomena sementara

Sepertinya fenomena selfie memang mendunia karena terbantu penyebarannya oleh Internet dan berbagai perangkat komunikasi bergerak. Namun seperti halnya sebuah fenomena, tak akan ada fenomena sosial yang abadi. Sedang ngetrend sekarang bukan berarti akan tetap menjadi trend 5 atau 10 tahun dari sekarang. Bukan, bukan berarti akan musnah sama sekali. Tetap akan ada orang yang melakukan selfie. Tapi tak semua orang suka selfie, bukan? Bahkan malah ada upaya beberapa orang untuk melarang selfie di wilayah publik karena memang mengganggu dan melanggar privasi orang di sekitarnya. Lagipula mereka yang tampaknya masih muda yang culun danunyu sekarang ini akan berubah (tak semua memang) menjadi orang dewasa yang bosan dengan selfie di masa mendatang. Tak perlu khawatir selfie akan menjadi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan, minum, bernafas dan tidur.

Selfie itu menyenangkan

Benar adanya. Kadang-kadang melakukan selfie itu lucu dan fun. Bahkan bisa digunakan untuk refleksi pribadi. Ada yang mengalami suatu momen ‘Oh’ ketika melihat foto selfie. Menyadari bahwa dirinya berharga. Ada yang malah sadar wajahnya jarang dirawat sehingga kusam dan tak menarik lalu berusaha melakukan perbaikan diri. Why not? Asal tidak kebablasan.

Bagaimana pendapat Anda sendiri tentang fenomena selfie yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini? Saya penasaran dengan komentar orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s