Anak-anak di Panti Asuhan

Saya belum pernah sekalipun mengunjungi panti asuhan dalam hidup saya. Hanya pernah mendengarnya. Pernah pula sesekali melihatnya dari tayangan di layar kaca. Panti asuhan merupakan sebuah bagian dari masyarakat yang masih asing bagi saya. Tak hanya saya sendiri, banyak orang juga tak pernah mengerti apalagi memahami panti asuhan dan kehidupan di dalamnya.

Oleh karena itu tak ada bayangan sama sekali bagaimana kehidupan anak-anak di tempat di mana pribadi-pribadi muda yang terpisahkan oleh orangtua mereka sejak kecil dan bahkan ada yang tak pernah bertemu sejak lahir.

Apa persisnya yang mereka rasakan? Seberapa besar kemarahan mereka karena merasa berbeda dengan anak kebanyakan yang mendapat kehangatan orang tua? Seperti apa rasa rindu mereka untuk mendapatkan masa anak-anak yang normal?

Pasti sebuah perjuangan yang besar untuk bisa bertahan hidup di sebuah panti asuhan. Tumbuh dengan anak-anak lainnya yang juga ‘terbuang’ di tempat asing sejak kecil.

Boleh dibilang cukup beruntung bila seorang anak yang tak memiliki siapa pun di dunia ini mendapatkan tempat di panti asuhan yang memiliki dikelola dengan baik dan penuh perhatian. Namun sepertinya jamak kita mendengar bahwa dari sekian banyak panti asuhan, hanya sedikit yang dikenal sebagai panti asuhan yang bisa benar-benar merawat anak asuhnya. Panti asuhan identik dengan tempat yang gloomy. Sekedar tempat hidup yang serba terbatas asalkan penghuninya bisa berteduh dan menjadi besar.

Stigma sosial dari masyarakat juga menyumbang persepsi buruk tentang panti asuhan dan anak-anak yang tinggal di dalamnya. Anak-anak tersebut sering dianggap sebagai keturunan yang lahir karena hubungan terlarang, hasil dari para perempuan penghibur yang hamil, atau minimal sebagai anak yang berasal dari orangtua yang sangat miskin sehingga tak bisa menghidupi anaknya sendiri.

Sayangnya, banyak panti asuhan juga tak dikelola dengan serius yang membuat anak-anak asuhan berkembang menjadi sosok-sosok yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, pribadi yang nakal karena merasa tak disayangi, dan bagian dari warga negara yang terbuang dan tak dianggap oleh masyarakat.

Panti asuhan memang tak akan pernah menjadi sebuah rumah tinggal yang sehangat rumah sendiri. Namun sepertinya keberadaan panti asuhan sedikit banyak membantu manusia-manusia kecil bertahan hidup dan kemudian lebih siap berjuang dalam kehidupan yang keras.

Adanya panti asuhan patut disyukuri. Bahwasannya masih ada orang yang peduli dan membuka tangan terhadap jiwa-jiwa kecil yang kehilangan orangtua kandung mereka. Meskipun tak mudah menjalani kehidupan ini, semoga anak-anak di panti asuhan bisa bertumbuhkembang menjadi pribadi yang kuat dan berhasil dalam hidupnya.

Untuk kita yang tumbuh besar di dalam rumah tangga yang baik dengan kehangatan orangtua, sudah semestinya bersyukur bahwa kita memiliki sesuatu yang berharga di dunia ini. Yaitu kesempatan untuk bertumbuh dalam kondisi yang lebih baik. Banyak keluarga memang tak sempurna. Namun sepertinya jauh lebih baik daripada hidup di sebuah panti asuhan.

Postingan ini dibuat karena baru-baru ini saya menonton serial Golden Rainbow yang menceritakan tentang kisah hidup anak-anak yang dulunya tinggal di panti asuhan yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s