Menyoal Pentingnya Wajah Manusia

Wajah manusia itu unik. Meskipun bagian-bagiannya sama–mata, hidung, bibir, kulit dan telinga–namun tiap insan manusia memiliki wajah yang berbeda-beda.

Memang ada yang mirip karena kembar. Itu pun juga tak selalu identik. Pasti ada perbedaannya meski tak langsung kentara. Ada juga yang mirip-mirip dengan orang lain. Hal ini dimungkinkan karena masih ada hubungan darah sehingga wajar kalau ada bagian-bagian wajahnya yang tampak sama.

Oleh karena wajah manusia itu berbeda-beda maka dipakailah wajah sebagai cara identifikasi seseorang dengan orang lainnya. Melihat wajah orangnya saja maka kita bisa langsung mengenalinya. Terutama orang-orang yang ada di sekitar kita atau memiliki hubungan yang dekat.

Wajah manusia bisa juga menggambarkan apa yang sedang dirasakan oleh seseorang. Wajah yang sedih. Wajah gembira. Wajah ragu-ragu. Mimik air muka mampu merefleksikan apa yang ada di dalam hati. Meskipun ada yang begitu hebatnya menyembunyikan perasaannya, lambat laun, apa yang dirasa pastilah tercermin di wajah. Wajah seseorang bisa menjadi alat komunikasi non-verbal. Pernah melihat orang yang pipinya merona kemerahan karena jatuh hati?

Tak hanya tentang perasaan, wajah juga menjadi indikasi kesehatan seseorang. Kantung mata yang hitam menunjukkan kelelahan yang sangat. Hidung memerah karena sedang terkena flu. Wajah yang kelihatan bersinar setelah tidur dengan cukup. Oleh karena wajah menjadi ukuran kesehatan seseorang, ada gunanya melihat cermin setiap hari. Minimal setelah bangun tidur dan sebelum tidur. Bila ada yang ‘salah’ berarti ada bagian tubuh yang tak sehat atau kelelahan. Bagaimana kalau wajah kusam? Mungkin perlu secara rutin mandi dan membasuh wajah.

Hanya saja, banyak orang yang berasumsi bahwa fungsi wajah yang paling utama adalah untuk pencitraan diri. Ada status yang berbeda dan lebih tinggi bila memiliki wajah yang menonjol dan lebih baik dari orang lain. Meski takarannya relatif, selalu ada penggolongan wajah yang cantik dan wajah yang tampan. Karena sifatnya yang relatif, wajar bila ada tingkatan seperti wajah lumayan cantik, wajah cantik, dan wajah yang sangat cantik. Tentu saja cantik di suatu tempat dan budaya tak selalu cantik di tempat lain. Tak percaya?

Coba bayangkan saat seorang perempuan Afrika yang berkulit hitam tinggal di Negeri Ginseng yang umumnya orang berkulit putih. Bisa jadi perempuan Afrika tersebut dianggap tak cantik. Atau malah sebaliknya, menjadi cantik yang eksotis karena sangat berbeda dengan lainnya yang serupa. Pun begitu, perempuan Korea yang badannnya ramping, berkulit putih dan berwajah tirus tak serta merta dianggap cantik oleh orang India yang memiliki persepsi perempuan yang cantik itu yang subur, dengan wajah yang berisi dan kulit coklat yang sehat.

Wajah memang bisa mendongkrak percaya diri seseorang. Tak berarti bahwa bila seseorang memiliki wajah yang buruk lantas memiliki percaya diri yang rendah. Mereka yang tampan pun bisa merasa minder atau tak nyaman dengan wajahnya sendiri. Hanya saja menjadi jamak bila masyarakat selalu memberikan pujian bagi yang berwajah tampan dan istimewa karena jumlahnya lebih sedikit daripada yang berwajah biasa-biasa saja.

Justru karena wajah berpengaruh terhadap eksistensi seseorang di masyarakatnya, wajah menjadi suatu hal yang perlu dirawat. Wajah yang bersih umumnya menandakan bahwa seseorang memang hidup teratur. Wajah yang kotor identik dengan profesi dan tingkat ekonomi seseorang. Jarang-jarang melihat buruh tani dengan kulit wajah terang yang halus, kan?

Tak jarang pula, banyak orang menjadi terobsesi untuk meningkatkan ‘kualitas’ wajahnya. Terutama di negara-negara Asia yang entah kenapa wajah menjadi sangat penting dalam peran sosial. Oleh karena tingkat ekonomi yang jauh lebih kuat daripada negara-negara lainnya, Negeri Matahari Terbit dan Negeri Ginseng rupanya menaruh perhatian yang besar terhadap wajah seseorang. Maklum bila makin besar perekonomian suatu negara, bisa jadi pengeluaran untuk perawatan tubuh dan wajah menjadi lebih besar pula. Ada kelebihan uang yang bisa digunakan di luar dana untuk sekedar bertahan hidup.

Berbagai produk dan layanan perawatan wajah pun beredar di mana-mana. Tak hanya pemerah bibir dan bedak wajah. Lebih dari itu. Make-up menjadi lebih kompleks. Ada perawatan untuk hidung, gigi, mata, dan tentunya kulit wajah. Tak cukup dengan alat untuk mempercantik wajah dan perawatan wajah, operasi plastik pun tak segan-segan dilakukan. Tak hanya sekali dua. Ada yang rela ‘dipermak’ berkali-kali. Itu pun kadang-kadang melibatkan zat kimia yang membahayakan seperti botox; yang sebenarnya adalah racun dalam dosis rendah. Dengan catatan bahwa setelah operasi, tak ada jaminan bahwa hasil operasi akan tetap sempurna setelah beberapa tahun berlalu. Nah, lho?

Yang jelas, membayangkan pisau bedah saja sudah bikin merinding. Coba bagaimana bila operasi wajah gagal. Bukannya membaik malah menjadi buruk muka. Bahkan ada yang berujung dengan kematian karena ada malpraltek karena proses operasi dilakukan sembarangan oleh tenaga medis yang tidak memiliki pengalaman memadai. Tambah ngeri, kan?

Saya jadi teringat dengan beberapa film Korea. Dibanding film-film dari negara lainnya, operasi plastik atau perbaikan wajah lebih sering disinggung. Ada yang menjadikannya bahan lawakan dalam film komedi. Ada juga yang memang ingin mengkritisi fenomena tersebut. Sebut saja film horor berjudul Cinderella yang berkisah tentang hantu tanpa wajah yang merenggut nyawa perempuan-perempuan cantik hasil meja operasi. Juga film thriller Sweet Scent of Eros yang menggambarkan dokter operasi plastik yang sadis karena terbakar cemburu.

Kedua film tersebut sama-sama menegangkan. Tapi yang membikin merinding adalah saat mereka memperlihatkan proses ‘permak’ wajah. Saat pisau bedah menyayat wajah para pasiennya yang ingin tampil lebih istimewa. Serem.

Begitulah adanya tentang wajah manusia. Wajah memiliki fungsi dasar yang berguna untuk identifikasi, refleksi perasaan, indikator kesehatan. Namun juga berperan dalam kehidupan sosial sebagai citra seseorang. Wajah perlu dirawat. Namun tak seyogyanya ‘ditingkatkan’ melalui meja operasi bila memang tak perlu. Wajah yang alami–secantik atau seburuk apapun–lebih baik karena itu yang diberikan oleh yang di atas untuk dihargai dan dimaknai.

Iklan

3 Replies to “Menyoal Pentingnya Wajah Manusia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s