Menyoal Pemblokiran Vimeo

Layanan video Vimeo, yang memiliki kantor di New York, rasanya tidak begitu populer di tanah air. YouTube jauh lebih terkenal. Namun justru Vimeo menjadi dikenal lebih luas gara-gara menjadi pemberitaan karena diblokir aksesnya oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Alasan pemblokirannya sederhana. Tifatul Sembiring, selaku menteri komunikas, mendapati laporan dari tim Trust+ bahwa Vimeo secara eksplisit menampilkan konten pornografi. Kemudian memberikan instruksi pemblokiran.

Bahkan sudah menjadi rahasia umum, pengguna di tanah air bisa saja menonton konten video porno di situs layanan berbagi video lainnya, semisal YouTube. Asal bisa mencarinya, pasti konten pornografi bisa ditonton. Mengapa YouTube tidak diblokir juga?

Padahal sebenarnya lebih banyak situs lain yang jelas-jelas memberikan layanan konten pornografi tetapi tidak diblokir. Tetap bisa diakses dengan leluasa.

Yang lebih memalukan, menteri kominfo ini ngeles ketika ditanya alasannya mengapa lambat membuka pemblokiran Vimeo. Karena libur, katanya. Duh!

Terkesan bahwa proses pemblokirannya terkesan asal-asalan. Terlihat saat pemblokiran akhirnya dibuka saat ada banjirnya protes dari warga. Loh? Jika memang keputusannya sudah tepat, mengapa kemudian berbalik 180 derajat? Malah dengan entengnya mengatakan akan melakukan pengecekan mengapa pemblokiran tersebut terjadi. Nah? Terlihat bahwa prosedurnya adalah ‘eksekusi dulu, cek kemudian’. Jelas keputusan tersebut bisa merugikan banyak pihak. Bukankah lebih bijak melakukan pengecekan dan konfirmasi lalu membuat keputusan yang matang.

Lebih jauh tentang urusan blokir-memblokir. Seyogyanya ada aturan jelas apa saja yang perlu diblokir. Apakah hanya pornografi semata? Bagaimana dengan situs-situs pebuh malware yang membuat pengguna Internet menjadi rawan terhadap tindakan kejahatan siber. Belum lagi dengan situs-situs dengan konten yang menyerang isu SARA dan memberikan informasi palsu?

Lagipula seharusnya pengguna Internet sendiri yang harus menggunakan teknologi tersebut dengan hati-hati. Bila pengguna Internet sudah sadar tentunya mereka tak akan mengakses situs-situs pornografi; bahkan tanpa adanya pemblokiran dan pelarangan.

Toh, bila memang sudah niat, rasanya tidak sulit untuk menemukan konten pornografi. Yang bahkan bisa dibagikan dengan lebih mudah melalui jejaring sosial media, email, VPN, atau pun kanal terenkripsi. Bahkan tak jarang, ada netizen di tanah air yang menggunakan server mereka sendiri untuk membagikan konten dewasa tersebut.

Sudah jamannya lagi main blokir-blokiran. Justru yang diutamakan adalah bagaimana memberikan insentif supaya pengguna Internet mempergunakan teknologi tersebut untuk kebaikan bersama. Dengan begitu, pengguna Internet tidak melulu hanya terpaku pada konten pornografi.

Bila pengguna Internet di tanah air bisa menjadi leih bijak, tentu mereka bisa ‘memblokir’ konten-konten yang tidak diinginkan dan tidak sesuai dengan norma masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s