Hallyusinasi

Tersenyum saya saat mendengar istilahhallyunisasi. Gabungan frasa dari hallyu dan ‘halusinasi’. Istilah yang kreatif dan jelas menohok.

Hallyu sendiri adalah kata lain untuk menyebut Korean Wave. Fenomena menyebarnya sebagian kultur Korea Selatan ke banyak negara-negara di luar tanah Korea. Melalui beragam produk hiburannya, budaya dan lifestyle Korea menjadi trend tersendiri dan diminati oleh penggemarnya di berbagai belahan dunia.

Tampak jelas bahwa K-pop menjadi motor penyebaran hallyu. Ada berbagai lagu yang dilantunkan puluhan girl band dan boy band disertai dengan penayangan music video, penjualan dvd dan konser besar-besaran. Padahal hampir kebanyakan lagu-lagunya menggunakan Bahasa Korea; yang lucunya tak semua penggemarnya mengerti artinya.

Produk lainnya berupa K-drama. Drama televisi Korea yang menampilkan bintang-bintang Hallyu terkini. Apapun ceritanya, selalu saja ada yang menonton setiap episodenya dengan setia. Tentu tak lupa meneteskan air mata, ikutan membuncah ketika aktornya jatuh cinta, atau ikut-ikutan marah ketika pelakon pujaannya sedang dikerjai oleh musuh-musuhnya.

Ada pula acara variety show dan reality show yang tentu saja menyodorkan bintang-bintang terkenal sehingga banyak fans mereka yang menonton acara-acara tersebut.

Paparan terhadap Hallyu membuat kuliner Korea menjadi lebih digemari. Kimchi, Bibimbap dan Soju. Tentu pariwisata, produk elektronik dan pabrikan otomotifnya menjadi lebih dikenal.

Sayangnya, Hallyu ini juga memberikan gambaran yang salah mengenai Korea. Ada kesan yang sangat melekat bahwa bintang film, artis, penyanyi dan selebritas Negeri Ginseng itu sempurna. Sesempurna apa?

Aktornya tampan yang kulit wajahnya lebih halus daripada perempuan dengan abs dan otot tangan yang maskulin. Anggota-anggota girl band yang bisa serempak menari-nari sembari bernyanyi dengan wajah berseri-seri dan kaki jenjang yang bikin iri. Belum lagi para selebritas yang selalu tampak glamor dengan baju-baju rancangan desainer terkenal, sepatu hak setinggi langit, tas bermerek dan tentunya make-up yang bikin wajah makin kinclong tanpa noda.

Benarkah seperti itu?

Bintang-bintang Korea itu sempurna. Sungguh sempurna. Tak ada cacatnya. Namun itu hanya yang dipikirkan dan dipercayai oleh penggemarnya yang tak jernih berpikir. Mereka dibutakan oleh gemerlap Hallyu yang sebenarnya menyimpan sisi kelam yang membawa banyak korban.

Wajah Sempurna yang Menawan

Setiap negara pasti memiliki sekian persen penduduknya yang memang cantik dan tampan. Sedangkan sisanya ya biasa-biasa saja. Yang buruk rupa juga banyak. Namun mereka yang tampil di layar kaca biasanya orang-orang yang sudah terseleksi. Wajar jika yang tersaji cantik dan tampan. Bukankah itu yang berlaku di dunia hiburan di mana saja?

Hanya saja untuk bisa menembus dunia hiburan yang kompetitif, tak terhitung banyaknya selebritas Korea yang rela melakukan dua hal berikut. Menggunakan rias wajah secara berlebihan secara konstan sehingga menimbulkan kesan wajah yang enak dilihat. Cara lainnya lebih menantang yaitu berani permak wajah dengan cara operasi plastik. Dua-duanya pun kudu dilakoni sehingga bisa terseleksi membintangi sebuah K-drama, menjadi anggota girl band atau boy band atau minimal terpilih sebagai wajah iklan salah satu produk Korea.

Tubuh Tinggi Ramping dengan Postur Aduhai

Pernah dengar tentang istilah lekukan S? Itu merupakan keinginan banyak Kaum Hawa di Korea ketika mereka bisa berpose menyerupai huruf S. Namun ada syaratnya yaitu pinggang harus ramping, dengan dada yang membusung dan kaki jenjang yang panjang.

Bagaimana bisa mendapatkan tubuh yang sempurna? Tentu bisa dengan olahraga, Yoga atau Pilates. Namun lebih banyak yang menginginkan cara instan. Sedot lemak, pemasangan implan payudara dan tak jarang juga mengoperasi tulang kaki supaya lebih tinggi. Menakutkan, bukan?

Selain itu ada keajaiban pengambilan gambar. Photoshop pun bukan sesuatu yang diharamkan. Jadi tak perlu iri bila seorang bintang iklan bisa memiliki paha mulus bersinar nan ramping. Meski sesungguhnya tak benar-benar indah bisa dibikin jauh lebih indah.

Tarian yang Serempak dan Sensual

Nah ini dia. Memang benar bahwa tarian-tarian para girl band dan boy band bisa bergerak berbarengan tanpa kesalahan dalam harmoni dengan timing yang tepat. Namun gerakan-gerakan tersebut dilatih secara berulang-ulang dalam rentang bulan hingga tahun. Latihannya benar-benar keras dan seringkali tidak manusiawi. Setiap lagu baru, tentu ada gerakan baru. Latihan lagi dan lagi. Setiap hari dan berjam-jam. Tidak mudah dan memerlukan pengorbanan yang tinggi. Enak dilihat tak selalu enak dilakukan. Yang namanya entertainer tentu sudah paham tuntutan mereka. Bila tak kuat otomatis tersingkir.

Selain itu ada faktor kompetisi yang ketat untuk membuat gerakan yang lebih sulit dan lebih atraktif. Bahkan bisa dibilang membanggakan bila suatu gerakan tariannya ditiru atau dimodifikasi oleh grup yang lain. Kompetisi yang kurang sehat ini pula yang membuat gerakan tari menjurus ke gerakan yang sensual. Bahkan demi popularitas, tak jarang ada saja grup-grup yang melewati batas kesantunan dengan menampilkan goyangan yang terlalu vulgar. Itu pun didukung oleh baju saat tampil yang terlalu banyak memperlihatkan bagian tubuh yang memerlukan privasi.

Aksesoris Bermerek yang Mahal

Ada fenomena airport fashion di mana beberapa selebritas sengaja menggunakan pakaian desainer terkenal dan tas bermerek setiap kali mereka hendak terbang atau datang di bandara. Apakah baju dan tas tersebut kepunyaan mereka?

Ternyata belum tentu. Bisa saja mereka memakai barang-barang mahal tersebut karena mereka menjadi product ambassador dari merek yang mereka iklankan. Sekedar pinjaman. Bisa pula barang sewaan untuk meningkatkan pamor dan reputasi selebritas yang bersangkutan.

Setali tiga uang saat mereka naik ke atas panggung. Kostum yang mereka kenakan boleh saja mahal namun itu adalah properti dari perusahaan rekaman atau agensi mereka. Kesannya memang mewah tapi tak selalu berkorelasi dengan kemakmuran para selebritas tersebut. Terutama mereka yang baru berstatus trainee dan artis debutan baru yang pendapatannya belum besar.

Selebritas Korea Pasti Kaya Raya

Siapa bilang? Kebanyakan artis masih terikat kontrak dengan agensi mereka. Pendapatan mereka sebagian besar masuk kantong agensi tersebut karena mereka sudah memberikan investasi berupa training untuk artis yang bersangkutan selama bertahun-tahun. Pada saat mereka sudah habis kontrak, boleh jadi usia mereka sudah tak lagi muda. Sialnya pula saat tak lagi berada di agensi yang sama, berbagai tawaran job yang selama ini berdatangan bisa menurun drastis. Terutama bila artis bersangkutan tak lagi dirasa menarik atau sudah tersaingi oleh artis-artis yang lebih muda yang haus pengalaman.

Hanya segelintir artis yang benar-benar bertalenta yang menghasilkan banyak uang dan mampu mempertahankan reputasinya. Sedangkan sisanya cepat atau lambat berguguran karena kalah bersaing dengan generasi berikutnya.

Bahkan tak jarang artis bisa mendadak bangkrut karena pendapatannya menurun sedangkan pengeluarannya sama besar atau lebih besar ketika masih mendapat banyak job. Tak mudah memang mengubah gaya hidup yang tadinya glamor ke gaya hidup yang lebih sederhana.

Pun ditambah hancurnya ego karena terbiasa mendapatkan banyak perhatian dari fans dan rekanan industri hiburan namun kini tersingkir dari pusat perhatian publik.

Bila Memang Semu Mengapa Masih Banyak yang Gemar dengan Hallyu?

Tentu saja masih banyak penggemar Korean Wave. Soalnya sederhana. Banyak yang merasa membutuhkan angan-angan setinggi langit. Merasa sah-sah saja berfantasi untuk memiliki cowok Korea yang setampan aktor papan atas Korea. Atau minimal punya tampilan wajah yangcute dan hampir-hampir mirip dengan salah satu anggota girl band yang sedang naik daun. Apalagi mimpi di siang bolong untuk mengalami kisah asmara yang romantis seperti di K-drama.

Jadi Hallyunisasi bakal ada selama ada yang menggemari produk hiburan K-pop. Seperti fenomena-fenomena pada umumnya, tak ada trend yang abadi. Pun tak ada ilusi yang bertahan selamanya. Mungkin saja sekarang sedang ramai-ramainya K-pop namun beberapa tahun yang akan datang sudah berganti trend yang baru.

Mereka yang sekarang ini sedang mengalami Hallyunisasi, lambat laun akan tersadar bahwa ilusi akan Korea tersebut tak semuanya sebening dan seindah yang terlihat. Ada harga yang harus dibayar oleh ribuan pelaku industri hiburan di Negeri Ginseng tersebut untuk menampilkan negeri khayalan yang semu dan lekang oleh putaran waktu.

Program Televisi yang Tak Lagi Beragam

Saya pribadi tak biasa menonton televisi sehingga tak begitu peduli dengan apapun yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi di tanah air.

Namun berhubung televisi sering menyala di rumah otomatis saya menjadi tahu apa saja acara-acara yang tayang di berbagai jam dalam sehari. Sekilas saja sudah ada pola yang mirip antara satu program televisi dengan yang lainnya. Nama program berbeda tetapi formatnya lebih kurang sama.

Semisal acara variety show. Dalam rentang waktu satu hingga tiga jam, terdapat beragam aktivitas di panggung yang ditayangkan secara live. Berbeda stasiun televisi memang. Anehnya, acara variety show mereka menampilkan aktivitas yang seragam. Selalu ada bagi-bagi hadiah, goyang bersama, hipnotis selebritis dan tentunya tingkah laku komedian yang mengundang tawa di sana-sini.

Yang lebih mengherankan, acara variety show yang berbeda stasiun televisi pun bisa menampilkan artis, penyanyi, komedian yang hampir serupa. Orang-orangnya hanya seputar itu saja. Acaranya pun tampak sama dengan pemain yang sama.

Itu baru menyoal variety show yang memang sedang trend swat ini. Belum lagi acara bincang-bincang yang mirip-mirip. Malah yang cukup berkurang adalah sinetron yang meredup karena kalah dengan variety show yang hingar-bingar dan kontes menyanyi dan talenta yang formatnya lebih kurang sama denganakademi-akademian dan idol-idolan.

Kemudian acara-acara alternatif lainnya juga kalah pamor dengan program televisi yang terkait dengan salah satu dari tiga topik panas saat ini.

Meriahnya Piala Dunia

Liputan Piala Dunia secara langsung, diselingi dengan komentar penggemar sepak bola dan ditambahi bagi-bagi hadiah melalui telepon. Tak hanya orang-orang gila bola yang mengikutinya. Mereka yang biasanya tak menonton sepak bola pun ikut tertarik menyimaknya. Yang jelas tiap empat tahun sekali, semua stasiun televisi tak mau ketinggalan memeriahkan momen ini.

Serunya Pilihan Presiden

Terkait dengan akan diselenggarakannya pemilihan langsung presiden maka ada sekian banyak acara yang memberitakan perkembangan terbaru pilpres. Termasuk acara utama seperti debat capres dan cawapres yang disiarkan secara langsung. Pun ada juga program-program televisi yang sengaja didukung oleh mereka yang berkepentingan. Meski berusaha disamarkan sebaik mungkin toh tetap saja banyak orang tahu itu ‘acara pesanan khusus’ yang gunanya untuk meningkatkan citra dan menarik massa semata. Tak perlu khawatir karena acara-acara seperti ini hanya terjadi setiap rentang lima tahun sekali.

Sucinya Bulan Puasa

Setiap tahun sekali menurut hitungan bulan, berbagai acara televisi berubah tampilannya. Acaranya boleh sama tapi atmosfernya berubah menjadi lebih santun. Bila sebelumnya acara bincang-bincang menghadirkan penyanyi dangdut dengan gaun seksi yang timbulkan birahi, kini penyanyi yang sama mendadak memakai pakaian muslimah. Kemudian ada acara-acara yang mendatangkan ustadz dan dai terkenal atau kurang terkenal dengan berbagai siraman dakwah di sore hari dan di pagi buta. Acara seperti itu memang pas untuk pemirsanya meskipun terkesan menjadi komoditas bagi stasiun televisi untuk menjual iklan. Entah itu promosi produk anti-mag, makanan siap saji yang pas untuk berbuka atau beraneka produk suplemen kesehatan saat berpuasa. Padahal bagi saya pribadi, lebih bijak bagi yang berpuasa untuk beribadah ketimbang menonton acara-acara terkait bulan puasa. Bukankah bulan puasa adalah waktu yang tepat untuk refleksi dan menahan diri? Termasuk menjauhkan diri dari menonton televisi.

Alhasil begitulah program-program televisi di tanah air. Tampak sama dan memang isinya sama. Hanya ada satu dua acara yang berbeda dan biasanya memiliki ratingrendah yang berkorelasi dengan rendahnya belanja iklan dan tampil di jam-jam yang minim pemirsa.

Untuk Anda yang suka menonton televisi, ada baiknya untuk berpikir ulang tentang waktu yang digunakan untuk menatap layar kaca tersebut. Bila memang tak berguna, matikan saja televisi. Masih ada beragam kegiatan yang lebih meriah, lebih seru dan lebih suci saat layar televisi padam.

Menyoal Outsourcing dalam Debat Pilpres

Entah mengapa, tiba-tiba istilah outsourcing kembali mengemuka setelah muncul dalam bahasan Debat Pilpres baru-baru ini.

Padahal outsourcing merupakan suatu hal yang umum di banyak negara. Baik negara maju maupun negara berkembang. Betul bahwa ada kecenderungan perusahaan-perusahaan negara maju dan multinasional mengalokasikan produksi mereka di negara-negara berkembang dengan alasan ekonomi yang masuk akal. Yaitu memangkas ongkos produksi dengan orientasi profit.

Apakah outsourcing menguntungkan kedua belah pihak; pihak yang memberikan outsourcing dan pihak yang menerimanya? Sepertinya memang menguntungkan. Bila tidak menguntungkan untuk apa ada pihak yang sama-sama sepakat mengenai outsourcing.

Hanya saja ada beberapa pihak yang berpikir bahwa oursourcing itu merugikan para pekerja yang kebanyakan berasal dari golongan menengah ke bawah di negara-negara berkembang. Alasannya masuk akal.

Para pekerja tersebut acap kali tidak mendapatkan hak yang sama dengan pekerja tetap. Tak memiliki asuransi. Tak ada pensiun. Lama bekerja berdasarkan kontrak. Tak ada perpanjangan kontrak berarti hilangnya pekerjaan. Ada kekhawatiran akan masa depan karena tak ada jaminan pekerjaan.

Pekerjaan oursourcing juga berkaitan dengan kebutuhan produksi. Bila ada kebutuhan untuk menambah produksi, ada permintaan akan penambahan tenaga kerja. Sebaliknya pun seperti itu. Turunnya permintaan akan berimbas pada berkurangnya produksi. Otomatis akan ada pengurangan tenaga kerja.

Bagaimana bila perusahaan rekanan di luar negeri tak lagi berencana untuk melanjutkan produksi? Dengan mudahnya, perusahaan outsourcing akan gulung tikar. Semua pekerjanya dirumahkan. Tanpa keharusan membayar pesangon dan ganti rugi.

Ditambah lagi dengan adanya fakta bahwa para pekerja tersebut mendapatkan upah yang minim. Tak sebanding dengan para pekerja yang bekerja di pabrik yang memberikan status pekerja tetap.

Apakah seyogyanya outsourcing dikurangi secara signifikan atau dihilangkan sama sekali?

Sepertinya tidak semudah itu. Mungkin para politisi dan pembuat kebijakan bisa dengan mudahnya melakukan pelarangan atau pengetatan outsourcing. Sekejap praktek oursourcing akan banyak berkurang. Namun tentu saja hal ini akan menyisakan satu masalah yang sangat besar. Apa itu?

Para pekerja yang tadinya mendapatkan pekerjaan di perusahaan outsourcingtiba-tiba akan kehilangan pekerjaan. Hanya karena perusahaan-perusahaanoutsourcing tutup. Investor dari luar negeri urung menanamkan investasi. Berlomba-lomba untuk memindahkan operasi produksinya ke negara lain yang lebih menguntungkan bagi profit perusahaan.

Bagi para pekerja, mereka mungkin lebih memilih untuk bekerja sebagai pekerja outsourcing daripada tidak ada pekerjaan sama sekali.

Ingatkah Anda tentang para buruh pabrik tekstil di Bangladesh yang menghasilkan kain dan baju untuk produsen pakaian berbagai merek dari negara-negara maju? Kondisi mereka sangat menyedihkan karena dibayar sangat rendah tanpa ada jaminan kesehatan dan keamanan kerja. Namun tanpa pekerjaan outsourcing tersebut, mereka akan kelaparan karena tak mampu mendapatkan pekerjaan yang lain dan menghasilkan cukup uang untuk bertahan hidup.

Oleh karena itu, isu outsourcing harus dipikirkan dengan seksama. Ada baiknya para pemangku kekuasaan dan pembuat kebijakan sungguh-sungguh memahami implikasi apa yang akan terjadi terhadap regulasi yang dibuat sehubungan dengan oursourcing. Tak hanya asal bicara dan mengetok palu saat membuat kebijakan.

Ronda, Pilpres dan Piala Dunia

Ada tradisi di kampung kami untuk melakukan ronda malam. Jaga malam secara bergiliran guna menjaga keamanan kampung. Setiap kelompok jumlahnya sekira 12 orang. Menjaga dari jam 10 malam hingga tengah malam.

Tentu saja bila ada 12 orang berkumpul, pasti ada suatu percakapan yang menarik. Umumnya menyoal apa yang sedang menjadi trend saat ini. Dan akhir-akhir ini pilpres dan piala dunia menjadi topik hangat. Selalu hadir dalam perbincangan. Entah serius atau sekedar angin lewat.

Tadinya yang ramai adalah pembicaraan seputar pilihan presiden. Entah menyoal calon presiden atau pun mempersoalkan calon wakil presiden. Tak begitu penting tentang program-program mereka. Malah biasanya candaan tentang capres dan cawapres sering muncul.

Namun begitu piala dunia sudah mulai tayang, pembicaraan mengenai pilpres berkurang secara drastis. Tak banyak yang peduli tentang pilpres. Kebanyakan sibuk membahas sepak bola yang terkait dengan pesta sepak bola di Brasil. Ditambah pula fakta bahwa televisi ada di pos ronda.

Acara ronda pun berubah menjadi nonton bareng. Menonton bersama pertandingan sepak bola yang kebetulan tayang jam 11 malam. Tak lupa bahwa dalam setiap ronda selalu ada suguhan. Cemilan ringan dan minuman hangat. Cocok, bukan?

Piala dunia sepertinya lebih memukau dan menarik perhatian ketimbang kedua pasangan capres dan cawapres yang sedang mensosialisasikan program-program mereka di masa depan. Yang mana kebanyakan berupa janji semata yang tak selalu ditepati saat kemenangan sudah diraih.

Beda sama sekali dengan pertandingan sepak bola. Siapa yang menang dan kalah langsung terlihat. Tak ada imbas besar terhadap penonton dan pendukung tim-tim yang bertanding. Paling menimbulkan efek mengantuk bagi mereka yang menonton di malam hari dan di pagi hari. Atau mereka yang berjudi. Tapi itu cerita lain.

Dan di akhir minggu ini pun bakal ada momen lainnya yaitu mulainya bulan puasa. Yang mana jumlah orang yang beraktivitas di malam hari lebih banyak sembari menunggu waktu berbuka puasa di pagi hari.

Malam-malam ke depan akan lebih semarak. Ada kegiatan puasa, pertandingan sepak bola di layar kaca dan perbincangan mengenai pilpres yang makin seru karena masa kampanye akan segera berakhir.

Juni dan Juli, Produktivitas Masyarakat Menurun

Tiga momen besar terjadi di Bulan Juni dan Juli di Indonesia. Ada Pilpres yang seru. Pertandingan piala dunia yang meriah. Ditambah bulan puasa yang suci.

Kampanye pilpres jelas berpengaruh terhadap produktivitas masyarakat karena banyak anggota masyarakat yang memberikan waktu dan tenaga mereka untuk mendukung capres dan cawapres pilihannya. Ada sekian banyak jam, hari, minggu untuk membantu mensosialisasikan program dan berkampanye. Bahkan para aparat pemerintah dan perangkat negara ada yang mengalokasikan waktu kerjanya untuk berkampanye, baik di dalam jam kerja maupun di luar itu. Produktivitas menurun secara signifikan hingga kelarnya pilpres.

Setali tiga uang, akan ada begitu banyak pasang mata yang menonton pertandingan sepak bola di layar kaca. Piala dunia. Sebuah momen yang dinantikan oleh penggemar sepak bola dan mereka yang tadinya tak mengikuti sepak bola. Coba perhatikan di tempat kerja dan di sekolah, banyak yang matanya merah dan mengantuk karena begadang mengikuti jalannya pertandingan di malam hari hingga pagi hari. Produktivitas? Menurun drastis.

Bagaimana dengan puasa? Seyogyanya mereka yang melakukan puasa sebagai bagian dari ibadah akan memiliki badan yang lebih fit dan segar. Bukankan efek dari puasa adalah pengaturan asupan yang lebih baik dan detoksifikasi tubuh dari racun yang menumpuk? Sayangnya, entah kenapa, efeknya umumnya berbalik 180 derajat. Banyak yang begadang, mengasup makanan terlalu banyak di malam dan pagi hari. Yang malah berimbas pada produktivitas. Menurun drastis terutama di siang hari. Tak sedikit yang memakai bulan puasa sebagai alasan untuk menurunkan ritme kerja dan tak bekerja maksimal.

Coba bayangkan bila tiga momen di atas terjadi di dua bulan secara bersamaan? Juni dan Juli. Pilpres. Piala dunia. Puasa. 3P.

Akibatnya dapat diprediksi. Penurunan produktivitas penduduk karena pilpres, piala dunia dan puasa. 3P karena 3P.

Apa mau dikata? Semoga setelah pilpres kelar, piala dunia berakhir dan tuntasnya puasa, akan ada pertumbuhan produktivitas penduduk sehingga roda ekonomi kembali berjalan seperti semula. Seperti saat sebelum adanya pilpres, piala dunia dan puasa.

Semoga…

Komentator Piala Dunia

Namanya juga piala dunia. Banyak yang menonton. Banyak pula yang mendadak menjadi komentator. Komentar otomatis muncul karena sepertinya memang asyik menonton pertandingan sepak bola sembari memberikan opini. Selain sorak-sorai kala tim favoritnya menang dan yel-yel sebagai bagian dari dukungan.

Siapa saja, entah benar-benar paham atau sekedar buka mulut, berlomba-lomba mengatakan komentarnya. Apakah pemain A bisa membuat gol? Benarkah tim B kali ini bisa lolos ke babak final? Mungkinkah kali ini Brasil memenangkan piala dunia yang diselenggarakan di negaranya sendiri?

Sebelum pertandingan dimulai, para pembaca acara pun akan mengumbar prediksi dan kritik. Para pakar pun diundang untuk memberikan perspektif mereka. Tak ketinggalan beberapa pesepakbola juga diundang untuk memberikan opininya.

Kadang komentar yang ada di layar televisi menambah wawasan. Minimal ada informasi apa yang sedang dan sudah terjadi di suatu pertandingan. Tak jarang pula menjadi komentar ala kadarnya karena pembaca acara tak mengerti benar mengenai sepak bola karena yang dipentingkan adalah parasnya yang cantik dan penampilannya yang seksi. Maklum karena kebanyakan penontonnya adalah Kaum Adam sehingga akan lebih pas bila ada pembawa acara perempuan yang menyegarkan suasana. Terlepas dari apakah kata-katanya pas atau asal ucap.

Pemberitaan di media massa pun tak ingin ketinggalan dengan menuliskan komentar mereka tentang semua yang terkait piala dunia. Begitu banyak komentar yang tertulis sehingga porsi mengenai pilpres pun berkurang drastis. Pemberitaan dan komentar tentang sepak bola di Brazil menjadi sorotan utama. Tak jarang menjadi tajuk berita yang muncul di tempat utama.

Siapa saja memang boleh memberikan komentar tentang piala dunia. Aktivitas seru yang terjadi tiap kurun waktu empat tahun.

Berkomentar mengenai piala dunia juga lebih asyik dan lebih aman ketimbang mengomentari pasangan capres dan cawapres. Wajar saja karena komentar tentang pilpres bisa menjadi masalah saat diadukan ke pihak terkait. Komentar di jejaring sosial bisa akibatkan seseorang atau lebih mendapat gugatan hukum. Saling ucap komentar bersama banyak orang malah bisa membuat debat kusir yang berujung pada perselisihan dan pemukulan.

Beda dengan komentar mengenai piala dunia. Semua asyik-asyik saja mendengarkan, sembari menonton layar kaca, dan mengudap penganan minuman bersama teman, keluarga dan handai-taulan. Kemudian sama-sama mengantuk dan tertidur pulas. Semua senang. Betul, bukan?

Iklan Rokok yang Membingungkan

Saat menonton televisi, mudah bagi siapa saja untuk memahami iklan produk kecantikan, makan kemasan hingga alat transportasi.

Siapa saja pasti langsung mengerti iklan sabun karena nama merek dan produknya jelas ditayangkan. Entah itu sabun cuci atau sabun mandi. Bila ada adegan anak-anak sedang bermain hingga bajunya kotor biasanya iklan sabun cuci. Berbeda dengan adegan gadis muda yang sedang mandi dan tubuhnya yang mulus dilumuri oleh busa sabun. Yang mana jelas itu sabun mandi.

Setali tiga uang dengan iklan mobil. Mobil tampak sedang melaju dengan penumpang yang bahagia dan bangga. Sama pula dengan iklan ponsel, makanan dan sepatu.

Beda dengan iklan rokok. Banyak orang tua dan anak-anak yang tak paham dengan iklan rokok. Kebanyakan menjawab tidak tahu saat ditanya itu iklan apa. Mereka paham dengan produknya hanya bila mengonsumsinya. Nama mereknya pasti mengingatkan mereka akan barang yang dipromosikan.

Bahkan acap kali iklan rokok disalahartikan sebagai iklan perjalanan. Ada juga yang berasumsi kalau iklan rokok itu hanya iklan lucu-lucuan. Candaan semata untuk intermezzo suatu acara. Ada juga yang berpikir iklan rokok itu ajakan untuk aktif berolahraga hanya karena merek rokok tersebut menjadi sponsor acara olahraga. Loh? Salah kaprah jadinya.

Ada benarnya saat pembuat kebijakan melarang dengan tegas iklan rokok untuk menunjukkan batang rokok, bungkus rokok dan orang yang sedang merokok. Namun tetap saja, iklan rokok berarti mempromosikan rokok ke lebih banyak orang. Percuma saja mencantumkan frasa ‘rokok bisa membunuhmu’. Justru ada beberapa orang yang paham bahwa suatu iklan adalah iklan rokok saat frasa anjuran tersebut muncul.

Seyogyanya iklan rokok tak boleh muncul di media massa. Konsumsi rokok, baik normal maupun berlebihan, tetap saja merugikan kesehatan masyarakat luas. Makin sedikit yang merokok, makin baik karena kesehatan masyarakat terjaga. Anehnya, iklan rokok malah sangat gencar. Makin dilarang, makin sering iklannya muncul di mana-mana. Menurut statistik, Indonesia sudah menjadi negara yang memiliki populasi besar yang tergantung dengan rokok. Rekornya pun tergolong dalam salah satu dari 10 besar negara pecandu rokok terbesar di dunia. Tidak membanggakan, bukan?

Hanya saja lobi para produsen rokok memang kuat mempengaruhi kebijakan pembuat regulasi. Iklan rokok bisa tayang di semua stasiun televisi, selain berbagai media massa yang lainnya. Meskipun iklan rokok memang cenderung sulit dipahami dan membuat bingung, iklan ini cepat atau lambat dalam skala yang besar akan dan sudah membuat makin banyak orang tergantung terhadap rokok.

Sayang sekali…