Polisi Cepek

Polisi cepek. Itu yang banyak orang gunakan untuk menyebut orang-orang yang melihat peluang kemacetan jalanan menjadi mata pencaharian. Mereka berdiri di tengah persimpangan atau jalan memutar yang macet sembari mengatur secara asal-asalan mobil yang kesulitan menembus kemacetan. Setelah berhasil mengarahkan setiap mobil, para pengemudi mobil otomatis akan memberi mereka uang receh. 500 perak, seribu atau bahkan lebih. Tergantung rasa ikhlas.

Sebenarnya apa yang orang pikirkan tentang mereka?

Terbantu. Bagi pengemudi mobil (dan juga motor), polisi cepek secara signifikan membantu menembus jalanan yang macet; yang kerap terjadi di persimpangan atau jalan memutar (U-Turn). Lebih rela kehilangan uang receh ketimbang tambah frustasi di jalanan karena sangat sulit membelok atau memutar. Toh, bergantung pada polisi nyatanya juga percuma saja.

Jengkel. Ini biasanya terjadi pada mobil dan motor yang searah namun secara ‘kasar’ diberhentikan lajunya karena polisi cepek sudah pasang badang supaya mobil yang dibantunya bisa membelok atau memutar. Sangat tidak terbantu. Apalagi aksi pasang badan para polisi cepek itu sangat berbahaya. Bila tersenggol atau tertabrak tentu jadi masalah tersendiri. Repot nantinya.

Apakah mereka bisa membantu tugas polisi?

Jelas tidak. Justru malah menambah kemacetan. Prioritas mereka adalah mobil-mobil yang memberikan uang receh untuk mereka. Lainnya diabaikan saja. Maklum mereka bukan bagian dari polisi. Mereka secara sembarangan mengatur arus lalu-lintas dengan postur tubuh memaksa. Yaitu pasang badan. Seyogyanya polisi yang berpatroli harus mengambil tindakan tegas. Memang sudah ada polisi cepek yang dilatih dan dikaryakan. Namun polisi cepek cepat menjamur di berbagai titik macet.

Mengapa bisa mendadak ada polisi cepek?

Itu dia. Bila ada kesulitan tampak tentu akan ada yang memanfaatkan situasi. Jalanan yang tadinya lancar menjadi macet karena badan jalan tak lagi sanggup menampung jumlah kendaraan yang tambah banyak. Lalu timbul ide beberapa orang, yang bekerja serabutan, untuk ‘membantu’ mengatur lalu-lintas dengan imbalan uang receh. Kita tak perlu mengandaikan ada cukup polisi untuk mengatur setiap titik macet karena pastinya tidak akan ada polisi cepek bila sudah ada polisi lalu-lintas di tempat itu.

Kira-kira cara apa yang harus dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan polisi cepek seperti ini?

Dalam jangka pendek cukup mudah. Bila polisi turun tangan untuk mengurai titik-titik macet yang tadinya menjadi ‘wilayah kerja’ para polisi cepek, kemungkinan besar jumlah polisi cepek ini akan berkurang drastis.

Namun dalam jangka panjang, polisi cepek akan menghilang dengan sendirinya bila kemacetan jalan mereda. Baik dengan penambahan transportasi publik, pembatasan pemakaian kendaraan pribadi, perluasan badan jalan, dan perbaikan infrastruktur jalan umum.

Intinya, bila tak ada kemacetan, tak akan ada kehadiran polisi cepek.

Bukankah polisi cepek seperti ini juga butuh mata pencaharian untuk makan sehari-hari? Mengapa harus dihilangkan?

Polisi cepek tak bisa dianggap sebagai pekerjaan yang legal. Bahkan aktivitas tersebut membahayakan, baik bagi mereka sendiri maupun pengguna jalanan yang lain. Seyogyanya polisi cepek mencari pekerjaan yang legal, bermartabat, dan halal. Tak mudah memang di tengah ekonomi yang tak kunjung membaik. Namun bila ada niat, pasti ada jalan.

Apakah di Yogya ada polisi cepek?

Tadinya saya berasumsi bahwa di Yogya tak akan ada polisi cepek. Faktanya ada. Polisi cepek mudah ditemukan di ruas-ruas jalan yang sangat macet. Dulu memang tak ada karena Yogya jarang ada kemacetan. Namun jumlah kendaraan pribadi yang ada di kota ini memang terlalu banyak. Wajar bila di mana-mana mulai macet. Apa boleh buat. Jalanan Yogya makin mirip dengan jalanan di kota-kota besar. Jalanan yang senggang, bersih, dan damai sebagai ciri khas kota ini sepertinya sudah mulai menghilang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s