Komentator Piala Dunia

Namanya juga piala dunia. Banyak yang menonton. Banyak pula yang mendadak menjadi komentator. Komentar otomatis muncul karena sepertinya memang asyik menonton pertandingan sepak bola sembari memberikan opini. Selain sorak-sorai kala tim favoritnya menang dan yel-yel sebagai bagian dari dukungan.

Siapa saja, entah benar-benar paham atau sekedar buka mulut, berlomba-lomba mengatakan komentarnya. Apakah pemain A bisa membuat gol? Benarkah tim B kali ini bisa lolos ke babak final? Mungkinkah kali ini Brasil memenangkan piala dunia yang diselenggarakan di negaranya sendiri?

Sebelum pertandingan dimulai, para pembaca acara pun akan mengumbar prediksi dan kritik. Para pakar pun diundang untuk memberikan perspektif mereka. Tak ketinggalan beberapa pesepakbola juga diundang untuk memberikan opininya.

Kadang komentar yang ada di layar televisi menambah wawasan. Minimal ada informasi apa yang sedang dan sudah terjadi di suatu pertandingan. Tak jarang pula menjadi komentar ala kadarnya karena pembaca acara tak mengerti benar mengenai sepak bola karena yang dipentingkan adalah parasnya yang cantik dan penampilannya yang seksi. Maklum karena kebanyakan penontonnya adalah Kaum Adam sehingga akan lebih pas bila ada pembawa acara perempuan yang menyegarkan suasana. Terlepas dari apakah kata-katanya pas atau asal ucap.

Pemberitaan di media massa pun tak ingin ketinggalan dengan menuliskan komentar mereka tentang semua yang terkait piala dunia. Begitu banyak komentar yang tertulis sehingga porsi mengenai pilpres pun berkurang drastis. Pemberitaan dan komentar tentang sepak bola di Brazil menjadi sorotan utama. Tak jarang menjadi tajuk berita yang muncul di tempat utama.

Siapa saja memang boleh memberikan komentar tentang piala dunia. Aktivitas seru yang terjadi tiap kurun waktu empat tahun.

Berkomentar mengenai piala dunia juga lebih asyik dan lebih aman ketimbang mengomentari pasangan capres dan cawapres. Wajar saja karena komentar tentang pilpres bisa menjadi masalah saat diadukan ke pihak terkait. Komentar di jejaring sosial bisa akibatkan seseorang atau lebih mendapat gugatan hukum. Saling ucap komentar bersama banyak orang malah bisa membuat debat kusir yang berujung pada perselisihan dan pemukulan.

Beda dengan komentar mengenai piala dunia. Semua asyik-asyik saja mendengarkan, sembari menonton layar kaca, dan mengudap penganan minuman bersama teman, keluarga dan handai-taulan. Kemudian sama-sama mengantuk dan tertidur pulas. Semua senang. Betul, bukan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s