Hallyusinasi

Tersenyum saya saat mendengar istilahhallyunisasi. Gabungan frasa dari hallyu dan ‘halusinasi’. Istilah yang kreatif dan jelas menohok.

Hallyu sendiri adalah kata lain untuk menyebut Korean Wave. Fenomena menyebarnya sebagian kultur Korea Selatan ke banyak negara-negara di luar tanah Korea. Melalui beragam produk hiburannya, budaya dan lifestyle Korea menjadi trend tersendiri dan diminati oleh penggemarnya di berbagai belahan dunia.

Tampak jelas bahwa K-pop menjadi motor penyebaran hallyu. Ada berbagai lagu yang dilantunkan puluhan girl band dan boy band disertai dengan penayangan music video, penjualan dvd dan konser besar-besaran. Padahal hampir kebanyakan lagu-lagunya menggunakan Bahasa Korea; yang lucunya tak semua penggemarnya mengerti artinya.

Produk lainnya berupa K-drama. Drama televisi Korea yang menampilkan bintang-bintang Hallyu terkini. Apapun ceritanya, selalu saja ada yang menonton setiap episodenya dengan setia. Tentu tak lupa meneteskan air mata, ikutan membuncah ketika aktornya jatuh cinta, atau ikut-ikutan marah ketika pelakon pujaannya sedang dikerjai oleh musuh-musuhnya.

Ada pula acara variety show dan reality show yang tentu saja menyodorkan bintang-bintang terkenal sehingga banyak fans mereka yang menonton acara-acara tersebut.

Paparan terhadap Hallyu membuat kuliner Korea menjadi lebih digemari. Kimchi, Bibimbap dan Soju. Tentu pariwisata, produk elektronik dan pabrikan otomotifnya menjadi lebih dikenal.

Sayangnya, Hallyu ini juga memberikan gambaran yang salah mengenai Korea. Ada kesan yang sangat melekat bahwa bintang film, artis, penyanyi dan selebritas Negeri Ginseng itu sempurna. Sesempurna apa?

Aktornya tampan yang kulit wajahnya lebih halus daripada perempuan dengan abs dan otot tangan yang maskulin. Anggota-anggota girl band yang bisa serempak menari-nari sembari bernyanyi dengan wajah berseri-seri dan kaki jenjang yang bikin iri. Belum lagi para selebritas yang selalu tampak glamor dengan baju-baju rancangan desainer terkenal, sepatu hak setinggi langit, tas bermerek dan tentunya make-up yang bikin wajah makin kinclong tanpa noda.

Benarkah seperti itu?

Bintang-bintang Korea itu sempurna. Sungguh sempurna. Tak ada cacatnya. Namun itu hanya yang dipikirkan dan dipercayai oleh penggemarnya yang tak jernih berpikir. Mereka dibutakan oleh gemerlap Hallyu yang sebenarnya menyimpan sisi kelam yang membawa banyak korban.

Wajah Sempurna yang Menawan

Setiap negara pasti memiliki sekian persen penduduknya yang memang cantik dan tampan. Sedangkan sisanya ya biasa-biasa saja. Yang buruk rupa juga banyak. Namun mereka yang tampil di layar kaca biasanya orang-orang yang sudah terseleksi. Wajar jika yang tersaji cantik dan tampan. Bukankah itu yang berlaku di dunia hiburan di mana saja?

Hanya saja untuk bisa menembus dunia hiburan yang kompetitif, tak terhitung banyaknya selebritas Korea yang rela melakukan dua hal berikut. Menggunakan rias wajah secara berlebihan secara konstan sehingga menimbulkan kesan wajah yang enak dilihat. Cara lainnya lebih menantang yaitu berani permak wajah dengan cara operasi plastik. Dua-duanya pun kudu dilakoni sehingga bisa terseleksi membintangi sebuah K-drama, menjadi anggota girl band atau boy band atau minimal terpilih sebagai wajah iklan salah satu produk Korea.

Tubuh Tinggi Ramping dengan Postur Aduhai

Pernah dengar tentang istilah lekukan S? Itu merupakan keinginan banyak Kaum Hawa di Korea ketika mereka bisa berpose menyerupai huruf S. Namun ada syaratnya yaitu pinggang harus ramping, dengan dada yang membusung dan kaki jenjang yang panjang.

Bagaimana bisa mendapatkan tubuh yang sempurna? Tentu bisa dengan olahraga, Yoga atau Pilates. Namun lebih banyak yang menginginkan cara instan. Sedot lemak, pemasangan implan payudara dan tak jarang juga mengoperasi tulang kaki supaya lebih tinggi. Menakutkan, bukan?

Selain itu ada keajaiban pengambilan gambar. Photoshop pun bukan sesuatu yang diharamkan. Jadi tak perlu iri bila seorang bintang iklan bisa memiliki paha mulus bersinar nan ramping. Meski sesungguhnya tak benar-benar indah bisa dibikin jauh lebih indah.

Tarian yang Serempak dan Sensual

Nah ini dia. Memang benar bahwa tarian-tarian para girl band dan boy band bisa bergerak berbarengan tanpa kesalahan dalam harmoni dengan timing yang tepat. Namun gerakan-gerakan tersebut dilatih secara berulang-ulang dalam rentang bulan hingga tahun. Latihannya benar-benar keras dan seringkali tidak manusiawi. Setiap lagu baru, tentu ada gerakan baru. Latihan lagi dan lagi. Setiap hari dan berjam-jam. Tidak mudah dan memerlukan pengorbanan yang tinggi. Enak dilihat tak selalu enak dilakukan. Yang namanya entertainer tentu sudah paham tuntutan mereka. Bila tak kuat otomatis tersingkir.

Selain itu ada faktor kompetisi yang ketat untuk membuat gerakan yang lebih sulit dan lebih atraktif. Bahkan bisa dibilang membanggakan bila suatu gerakan tariannya ditiru atau dimodifikasi oleh grup yang lain. Kompetisi yang kurang sehat ini pula yang membuat gerakan tari menjurus ke gerakan yang sensual. Bahkan demi popularitas, tak jarang ada saja grup-grup yang melewati batas kesantunan dengan menampilkan goyangan yang terlalu vulgar. Itu pun didukung oleh baju saat tampil yang terlalu banyak memperlihatkan bagian tubuh yang memerlukan privasi.

Aksesoris Bermerek yang Mahal

Ada fenomena airport fashion di mana beberapa selebritas sengaja menggunakan pakaian desainer terkenal dan tas bermerek setiap kali mereka hendak terbang atau datang di bandara. Apakah baju dan tas tersebut kepunyaan mereka?

Ternyata belum tentu. Bisa saja mereka memakai barang-barang mahal tersebut karena mereka menjadi product ambassador dari merek yang mereka iklankan. Sekedar pinjaman. Bisa pula barang sewaan untuk meningkatkan pamor dan reputasi selebritas yang bersangkutan.

Setali tiga uang saat mereka naik ke atas panggung. Kostum yang mereka kenakan boleh saja mahal namun itu adalah properti dari perusahaan rekaman atau agensi mereka. Kesannya memang mewah tapi tak selalu berkorelasi dengan kemakmuran para selebritas tersebut. Terutama mereka yang baru berstatus trainee dan artis debutan baru yang pendapatannya belum besar.

Selebritas Korea Pasti Kaya Raya

Siapa bilang? Kebanyakan artis masih terikat kontrak dengan agensi mereka. Pendapatan mereka sebagian besar masuk kantong agensi tersebut karena mereka sudah memberikan investasi berupa training untuk artis yang bersangkutan selama bertahun-tahun. Pada saat mereka sudah habis kontrak, boleh jadi usia mereka sudah tak lagi muda. Sialnya pula saat tak lagi berada di agensi yang sama, berbagai tawaran job yang selama ini berdatangan bisa menurun drastis. Terutama bila artis bersangkutan tak lagi dirasa menarik atau sudah tersaingi oleh artis-artis yang lebih muda yang haus pengalaman.

Hanya segelintir artis yang benar-benar bertalenta yang menghasilkan banyak uang dan mampu mempertahankan reputasinya. Sedangkan sisanya cepat atau lambat berguguran karena kalah bersaing dengan generasi berikutnya.

Bahkan tak jarang artis bisa mendadak bangkrut karena pendapatannya menurun sedangkan pengeluarannya sama besar atau lebih besar ketika masih mendapat banyak job. Tak mudah memang mengubah gaya hidup yang tadinya glamor ke gaya hidup yang lebih sederhana.

Pun ditambah hancurnya ego karena terbiasa mendapatkan banyak perhatian dari fans dan rekanan industri hiburan namun kini tersingkir dari pusat perhatian publik.

Bila Memang Semu Mengapa Masih Banyak yang Gemar dengan Hallyu?

Tentu saja masih banyak penggemar Korean Wave. Soalnya sederhana. Banyak yang merasa membutuhkan angan-angan setinggi langit. Merasa sah-sah saja berfantasi untuk memiliki cowok Korea yang setampan aktor papan atas Korea. Atau minimal punya tampilan wajah yangcute dan hampir-hampir mirip dengan salah satu anggota girl band yang sedang naik daun. Apalagi mimpi di siang bolong untuk mengalami kisah asmara yang romantis seperti di K-drama.

Jadi Hallyunisasi bakal ada selama ada yang menggemari produk hiburan K-pop. Seperti fenomena-fenomena pada umumnya, tak ada trend yang abadi. Pun tak ada ilusi yang bertahan selamanya. Mungkin saja sekarang sedang ramai-ramainya K-pop namun beberapa tahun yang akan datang sudah berganti trend yang baru.

Mereka yang sekarang ini sedang mengalami Hallyunisasi, lambat laun akan tersadar bahwa ilusi akan Korea tersebut tak semuanya sebening dan seindah yang terlihat. Ada harga yang harus dibayar oleh ribuan pelaku industri hiburan di Negeri Ginseng tersebut untuk menampilkan negeri khayalan yang semu dan lekang oleh putaran waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s