Prahara Hitung Cepat

Hitung cepat atau quick count merupakan salah satu cara untuk mengetahui gambaran persentase perolehan suara yang berdasarkan pengolahan data sampling. Itu pengertian yang saya peroleh sejauh ini. Untuk lebih jelasnya, silakan melihat referensi yang lebih afdol.

Tentu pelaksaan hitung cepat tak bisa sembarangan. Harus ada metode penghitungan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Wajib adanya pengecekan berulang dan sistematis dari pengambilan data di lapangan hingga saat hasilnya ditampilkan ke publik.

Kesalahan memang bisa terjadi namun bisa diminimalisir. Kesalahan data 1% masih bisa ditolerir. Lebih dari itu, keabsahan data dipertanyakan. Pasti ada kesalahan pengambilan atau pengolahan data. Bisa juga adanya manipulasi angka.

Untuk Pilihan Presiden kali ini, kesalahan data 1% saja sudah mewakili sekian banyak suara pemilih. Bahkan ketika pertarungan dan dukungan saling berkejaran dan berlangsung sangat ketat, kesalahan marjin kesalahan harus seminimal mungkin. Salah tampilkan hasil bisa berujung pada kesalahan hasil secara total. Bila ada dua belah pihak yang bersaing, hasil yang sedikit di atas 50% atau di bawahnya jelas membuat perbedaan besar. Oleh karena itu, hitung cepat tak bisa dilakukan sembarangan dan tergesa-gesa ditayangkan di berbagai media.

Salah satu yang membuat gerah di Pilpres kali ini mengemuka ketika dari sekian banyak lembaga dan media yang melakukan hitung cepat; ada segelintir hitung cepat yang hasilnya jauh berbeda dengan hitung cepat kebanyakan.

Tentu saja suara mayoritas bukan jaminan kebenaran. Namun menjadi pertanyaan ketika segelintir hitung cepat tersebut, yang dianggap belum memiliki kredibilitas, telah beberapa kali salah melakukan hitung cepat secara fatal dalam beberapa Pilkada sebelumnya dan Pilihan Legislatif. Terlebih lagi ketika ditayangkan di salah satu stasiun televisi, jumlah totalnya melebihi 100%. Salah ketik di layar televisi bisa terjadi. Tapi ingat bahwa ini momen yang penting, krusial dan sensitif. Tak seharusnya ada kesalahan elementer yang terjadi karena imbasnya sangat besar.

Memang perlu adanya audit untuk membuktikan apakah segelintir hitung cepat yang hasilnya sumbang tersebut kredibel atau tidak. Namun bila ada pihak yang bertanding sudah memakai hitung cepat, yang disangsikan tersebut oleh sekian banyak ahli dan masyarakat, dan memakainya untuk melegitimasi kemenangannya; rasanya sungguh menjijikkan.

Bayangkan Anda saat ini menonton pertandingan Brazil melawan Jerman pada pertandingan semifinal Piala Dunia 2014. Kemudian di layar televisi Anda melihat pemain Tim Samba beserta seluruh warga Brazil bersorak-sorak setelah peluit tanda kelarnya pertandingan berbunyi. Anda secara otomatis akan merasa aneh. Mengapa Brazil yang hanya berhasil menceploskan satu gol kegirangan menang. Sementara Tim Panzer Jerman hanya bengong tak percaya karena merasa berhasil membuat 7 gol di gawang lawan. Tak wajar, bukan?

Hal sama pun dirasakan sekian banyak penonton televisi dan masyarakat Indonesia di tanah air. Salah satu pasangan capres dan cawapres bersorak-sorai bersama para pendukungnya karena merasa menang. Padahal dasar yang dipakai adalah hasil hitung cepat yang dianggap tidak kredibel oleh para ahli hitung cepat dan pengamat politik.

Hitung cepat yang berbeda tersebut benar-benar membuat prahara. Ada semacam hasil tandingan. Ada persepsi yang mungkin sengaja dipaksakan bahwa pemenangnya ada dua. Aneh, bukan?

Lebih aneh lagi saat pihak yang ‘kalah’, berdasarkan beberapa hitung cepat yang kredibel, mencoba untuk underestimateperan dan hasil dari hitung-hitungan cepat hasil Pilpres. Padahal pihak tersebutlah yang getol untuk sesegara mungkin mengklaim kemenangannya. Kemudian jurus lain pun diluncurkan. Berusaha sekuatnya untuk mempengaruhi opini pemilih bahwa keputusan pemenang baru sah nanti setelah hasi dari KPU yang resmi sudah keluar beberapa hari ke depan.

Memang keputusan yang sah ada di hasil yang akan disampaikan KPU. Namun hitung cepat yang kredibel sudah terbukti mampu memberikan gambaran yang akurat. Bahkan TVRI dan RRI yang notabene merupakan milik pemerintah dan dianggap cukup netral karena tidak partisan sudah menampilkan hasil hitung cepat.

Semoga saja permasalahan mengenai perbedaan hasil hitung cepat mereda dan pada saat yang sama hasil dari KPU diumumkan ke publik. Dengan adanya legitimasi hasil Pilpres, pasangan calon terpilih bisa segera maju untuk memulai babak baru negara yang sangat mendambakan pemimpin yang bisa membawa perubahan, mau bekerja keras dan tetap berwibawa dalam kesederhaannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s