Lokalisasi, Ditutup atau Tidak?

Rencana penutupan daerah lampu merah bernama Gang Dolly berhasil dieksekusi oleh Ibu Risma, Walikota Surabaya, sebelum Bulan Suci Ramadhan mulai.

Banyak orang memuji usaha Ibu Risma untuk menutup lokalisasi yang terkenal hingga ke mancanegara tersebut. Bahkan selama ini, tak ada walikota-walikota sebelumnya yang mau sekaligus mampu menutup tempat mangkal para pekerja seks yang konon dimulai oleh Dolly, mucikari keturunan Belanda.

Saya termasuk orang yang setuju dan salut dengan keputusan Ibu Risma menutup Gang Dolly dan mengubahnya menjadi wilayah yang bersih dari segala jenis usaha yang terkait dengan pelacuran. Hanya saja ada pertanyaan yang menohok. Bila Gang Dolly tutup, bagaimana kalau prostitusi dan pelakunya menyebar ke segala penjuru kota Surabaya? Bukankah malah lebih sulit bagi pemerintah untuk mengatur dan membatasi kegiatan prostitusi?

Sepertinya dilematis, bukan? Bila daerah lampu merah tetap eksis berarti pemerintah dan masyarakat setempat setuju dengan adanya pelacuran. Sebaliknya, saat pemerintah dan masyarakat menutup suatu tempat lokalisasi bisa berarti membantu penyebaran pramunikmat ke banyak tempat publik.

Namun ada garis terangnya. Ada atau tidak adanya daerah lampu merah, tetap saja akan ada aktivitas prostitusi. Hanya saja, eksistensi daerah lampu merah jelas mempermudah akses banyak lelaki untuk mendapatkan jasa esek-esek ini.

Berbeda bila tidak ada daerah lampu merah. Meskipun pelaku prostitusi menyebar ke banyak tempat, akses terhadap layanan memberi kepuasan syahwat menjadi tidak semudah seperti yang didapati dengan adanya lokalisasi.

Ada beberapa poin yang bisa menjadi argumentasi bahwa lebih baik untuk menutup lokalisasi ketimbang membiarkannya tetap eksis.

Lokalisasi dan Perdagangan Manusia

Tak bisa dipungkiri bahwa perdagangan manusia, terutama perempuan, menjadi salah satu cara untuk menambah jumlah ‘dagangan’ yang bisa dijual ke lelaki hidung belang. Teramat banyak perempuan yang ditipu dan disekap di rumah para mucikari yang kemudian dipaksa melayani para lelaki hidung belang; tanpa ada kesempatan untuk membela diri atau paling tidak melarikan diri dari tempat tersebut.

Memang ada banyak cerita bahwa tetap ada perempuan yang ingin terjun ke dunia hitam atas keinginannya sendiri. Namun alasannya biasanya berasal dari keterpaksaan. Entah itu kebutuhan ekonomi, berasal dari keluarga yang berantakan, balas dendam karena ditipu oleh pasangannya atau karena dibuang oleh keluarga dan masyarakatnya. Kata kuncinya adalah terpaksa. Bukan karena cita-cita.

Dengan adanya lokalisasi, perdagangan manusia makin menjadi-jadi karena para mucikari selalu membutuhkan pramunikmat yang baru dan lebih muda; yang bisa memuaskan pelanggan dan menghasilkan pundi-pundi tak halal yang lebih banyak lagi.

Lokalisasi dan Anak-anak

Tak perlu kaget bila ada anak-anak yang menghuni daerah lokalisasi. Anak-anak tersebut ada karena orangtua mereka hidup dari jasa esek-esek. Bahkan tak jarang, ada banyak anak-anak yang terlahir karena ‘kecelakaan’ yang terjadi antara pramunikmat dan pelanggannya. Masa depan mereka suram karena tumbuh di tempat yang sangat jauh dari ideal.

Anak-anak tersebut mendapat pengaruh yang buruk dari lingkungan sekitarnya. Tak jarang anak-anak tersebut mendapat perlakuan kasar secara verbal dan fisik. Selain itu, anak-anak malang tersebut dijauhi oleh anggota masyarakat karena latar belakang mereka yang kelam. Alhasil banyak anak-anak tersebut yang berakhir seperti orangtua mereka. Menjadi para pekerja seks atau yang terkait dengan prostitusi.

Lokalisasi dan Kesehatan Seksual

Banyak yang berpikiran bahwa adanya lokalisasi mempermudah para pekerja kesehatan dan pekerja sosial untuk memantau dan menfasilitasi kesehatan para pramunikmat. Ada benarnya. Namun prosentasenya tak begitu signifikan.

Coba bayangkan bila salah seorang pramunikmat terkena penyakit menular seksual. Mungkin karena kebutuhan untuk hidup, tetap saja melakukan aktivitas jual beli seks. Toh, para pekerja kesehatan dan pekerja sosial tak mampu berbuat banyak untuk membatasi penularan penyakit menular seksual.

Lokalisasi, sebaik apapun kondisinya, tak pernah mendapatkan perhatian yang semestinya dari pemerintah. Tak perlu mengharapkan adanya pengawasan dan bantuan kesehatan. Itu hanya sebatas teori. Justru yang terjadi, pemerintah daerah membiarkan lokalisasi tetap ada karena tak mampu memberikan solusi mengentaskan kemiskinan. Pemerintah daerah juga tak berani untuk menutup lokalisasi karena adanya backing dari oknum aparat keamanan.

Lokalisasi, Mempermudah Jasa Esek-esek

Yang namanya lelaki hidung belang, bila syahwat sudah tak bisa dibendung pastilah akan mencari pemuasan diri. Cara termudahnya adalah membeli jasa para pramunikmat. Meskipun banyak pelaku prostitusi yang berada di segala lapisan masyarakat, toh, tak banyak yang tahu bagaimana mendapati keberadaan para pramunikmat. Cara yang paling praktis yaitu dengan mendatangi daerah lampu merah.

Tak hanya para pelanggan semata, banyak anak-anak muda atau newbie yang penasaran dengan jasa esek-esek pun sengaja mampir ke lokalisasi. Pada awalnya hanya iseng dan ingin tahu. Bisa jadi berakhir menjadi ketagihan dan menjadi pelanggan tetap yang rajin menyambangi daerah lampu merah. Jelas, lokalisasi menjadi magnet yang menarik banyak lelaki untuk datang dan menikmati kesenangan yang diharamkan tersebut.

Jadi lokalisasi lebih baik ditutup atau tidak?

Dengan empat poin argumentasi di atas, lokalisasi jelas harus ditutup. Lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Tidak ada pembenaran yang cukup baik dan masuk akal untuk membiarkan daerah lampu merah eksis di tengah-tengah masyarakat.

Apakah penutupan lokalisasi akan menghentikan prostitusi? Jelas tidak. Prostitusi tetap akan ada selama ada kebutuhan dan ketersediaan.

Tentu harus ada solusi cerdas yang manjur yang diberikan kepada para pramunikmat sehingga mereka bisa hidup mandiri. Tak sekedar menutup daerah lokalisasi dan tak memikirkan nasib para penghuninya.

Dengan alasan-alasan di atas, penutupan daerah lampu merah menjadi suatu cara yang efektif untuk memberantas atau menurunkan aktivitas jual beli seks. Yang otomatis akan menurunkan penularan penyakit menular seksual, menghambat perdagangan manusia dan menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih sehat dan bermoral.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s