Bagaimana Cara Menulis Buku?

Kadang-kadang orang bertanya kepada saya cara untuk menulis buku. Mungkin karena saya pernah menerbitkan dua buku. Mungkin juga karena sering mendorong orang lain untuk menulis melalui blog hingga menulis buku.

Tentu saja saya menjawab semampu saya meskipun sadar sepenuhnya bahwa ada banyak penulis yang jauh lebih pantas untuk menjawab pertanyaan mengenai langkah demi langkah untuk menulis buku. Pun ada banyak buku yang tuntas mengupas tentang menulis di berbagai toko buku.

Jawaban saya standar. Semampu saya. Berikut ini pertanyaan dan jawaban yang umumnya disampaikan, baik melalui lisan, email dan Facebook.

Saya ingin menulis buku. Bagaimana?

Mantab! Salut dengan keinginan tersebut. Menulis buku itu seperti laiknya menulis diari atau jurnal harian. Menulis dengan ringan, sederhana dan semakin sering dilakukan makin baik. Tak sesulit membuat skripsi sebagai syarat gelar sarjana. Bila Anda rajin menulis di blog, menulis buku itu sesuatu yang beda-beda tipis.

Tapi saya tak pernah menulis blog atau diari sebelumnya.

Baiklah. Tak semua orang punya kebiasaan menulis. Mungkin menulis karena terpaksa jika harus membuat laporan di tempat kerja. Banyak orang yang lebih banyak mengobrol ketimbang menulis. Itu kata kuncinya. Bila Anda bisa banyak bercerita berbagai hal dalam hidup ini ke teman-teman sembari minum kopi berarti Anda memiliki banyak sumber ide. Apa yang Anda bicarakan bisa dituangkan ke dalam lembaran kosong atau laman putih di laptop.

Langkah kecil yang harus dilakukan cukup sederhana. Ambil buku kosong untuk menulis ide-ide yang terlintas di benak. Tulis saja tanpa harus repot menyuntingnya. Tetap tuliskan tanpa harus mempedulikan apakah tulisan tersebut bagus atau tidak. Bila Anda ingin tulisan dibaca dan dikomentari oleh orang lain, bikin saja blog dengan menggunakan layanan WordPress.com yang gratis.

Ide Saya Banyak Sekali Tapi Sulit Menuliskannya

Hmm. Coba sebutkan tiga ide yang Anda pikirkan!

Sebagian besar orang tidak bisa menyebutkan ide mereka meskipun sudah bilang bahwa mereka punya banyak ide. Sedangkan mereka yang langsung bisa mengutarakan tiga ide yang mereka sukai umumnya malah benar-benar punya ide.

Ada baiknya bila memikirkan ide dari hal-hal yang memang Anda sukai. Bisa apa saja. Hobi jalan-jalan. Kesukaan tentang kuliner dan cita rasa. Pengalaman hidup. Lika-liku percintaan. Berbagai hal di tempat kerja. Segala sesuatu yang familiar dengan kehidupan Anda bisa menjadi ide.

Baiklah. Sekarang Anda ingin menulis buku apa?

Mari kita asumsikan tak ada lagi kesulitan dengan ide. Ide sudah ada di benak Anda. Bahkan Anda sudah menuliskannya di buku atau laptop. Sekarang buku apa sih yang ingin Anda buat?

Buku jalan-jalan. Buku masakan. Buku fotografi. Cerita romansa. Apapun itu, yang penting Anda benar-benar menyukainya.

Bila Anda benar-benar menguasai topik tersebut, mantab! Bila tidak, bagaimana? Tak apa-apa. Tetap saja Anda bisa membuat buku tersebut. Justru proses pembelajaran bisa menambah wawasan Anda seiring pembuatan buku.

Jenis buku apa yang sedang trend saat ini?

Pertanyaan bagus. Ada saatnya untuk memikirkan buku-buku yang sedang populer di pasaran. Buku catatan perjalanan sedang laris manis seiring makin banyaknya orang yang ingin jalan-jalan.

Ada juga buku berisi cerita mirip-mirip dengan drama Korea dan fan-fiction. Asal latar belakangnya Korea agaknya lumayan laris. Namun yang namanya trend bisa berakhir dengan cepat. Bukankah trend selalu berubah seraya waktu?

Bukan berarti buku yang kurang trendy tidak layak dibuat. Selalu ada jenis-jenis buku yang digemari dan dibeli oleh banyak orang justru karena termasuk buku yang memberi wawasan.

Buktinya selalu ada permintaan akan buku menggunakan komputer. Buku masak-memasak. Buku motivasi. Buku tentang mendekorasi rumah. Bahkan buku yang menyangkut agama dan beribadah tetap ada di rak-rak toko buku.

Saatnya berkunjung ke toko buku.

Katakan saja Anda ingin membuat buku perjalanan karena suka dan sering jalan-jalan. Anda sudah punya ide, beberapa coret-coret di kertas, kumpulan foto dan memori yang indah tentang perjalanan-perjalanan tersebut.

Sekarang waktunya untuk main ke toko buku untuk melihat-lihat buku perjalanan yang bisa bagus-bagus. Pakailah buku tersebut sebagai sarana inspirasi. Pelajari format penulisan bukunya. Bila perlu belilah buku perjalanan yang membuat Anda terkesan. Bukan, bukan menconteknya. Melainkan belajar dari buku tersebut bagaimana sistematika penulisannya melalui bab-bab. Catatlah hal-hal yang membuat Anda terkesan dengan buku-buku tersebut.

Anggap saja kunjungan ke toko buku sebagai studi banding murah meriah. Bila ada perpustakaan, kunjungi juga. Nikmati saja studi bandingnya. Ada terlalu banyak inspirasi yang bisa didapatkan di toko buku dan perpustakaan untuk membuat buku.

Mulai menulis.

Langsung tulis saja. Tak perlu banyak teori. Kumpulkan apa saja yang Anda punyai. Entah itu foto-foto, kumpulan artikel sebagai sumber penulisan atau catatan-catatan kecil yang selama ini tersebar.

Saat tulisan sudah terkumpul banyak. Lihat lagi skema penulisan bab-bab di buku yang menjadi inspirasi Anda.

Coba susunlah tulisan-tulisan tersebut ke dalam bab-bab yang terkait. Tak perlu ambisius. Menulis satu bab dalam satu minggu atau satu bulan sudah bagus. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, kan?

Saat bab-bab sudah tersusun dan bahan tulisan sudah habis, perlihatkan tulisan tersebut ke keluarga atau teman Anda. Umpan balik perlu. Bahkan bisa jadi menambah ide atau bahan yang diperlukan.

Tak perlu terlalu menyunting draft buku Anda tersebut. Yang penting Anda fun dengan draft tersebut.

Istirahatlah sejenak dari draft tersebut. Dengan begitu Anda tak begitu tertekan.

Setelah itu coba tambahkan yang perlu ditambahkan. Ubah yang perlu diubah. Tulis juga hal-hal kecil namun diperlukan seperti daftar isi, kata pengantar dan daftar pustaka; yang memang selalu ada dalam sebuah buku.

Lalu?

Kirimkan naskah ke penerbit.

Setelah draft menjadi sempurna, setidaknya menurut versi Anda, Anda bisa mempersiapkannya menjadi naskah yang siap kirim.

Ada penerbit yang menerima naskah dalam bentuk salinan berkas elektronik melalui email (softcopy). Ada juga yang mensyaratkan Anda untuk mencetaknya di lembaran kertas (hardcopy). Lihat syarat yang dibutuhkan yang umumnya terdapat di situs penerbit tersebut.

Bila tak Anda temukan, kirimkan email atau mengontak secara langsung melalui alat komunikasi yang ada.

Ingatlah bahwa masing-masing penerbit memiliki proses dan jangka waktu yang berbeda-beda. Anda bisa mengirim satu naskah ke beberapa penerbit sekaligus. Bila sudah ada persetujuan dari satu penerbit, hubungi dan tarik naskah tersebut dari penerbit-penerbit yang lain sehingga tidak ada penerbitan buku secara ganda yang jelas tidak etis.

Buku sudah disetujui tapi mengapa belum terbit?

Saat kata sepakat sudah didapat berarti naskah Anda sedang melalui proses yang panjang. Redaksi akan menyunting naskah tersebut. Ilustrator akan membuat kreasi grafis yang mempercantik buku. Hingga waktunya petugas cetak mencetak lembaran-lembaran buku Anda.

Mengapa lama? Banyak naskah antri di meja redaksi dan proses-proses selanjutnya. Oleh karena itu bersabarlah. Sesekali dua kali bolehlah mengontak staf yang menangani buku Anda. Tak perlu menuntut penerbit untuk menerbitkan lebih cepat dari seharusnya karena selalu ada urutan prioritas.

Lalu apa yang harus saya lakukan?

Bagaimana kalau mulai mencari ide-ide segar yang baru untuk disusun menjadi buku Anda yang kedua dan seterusnya?

Menulis bukanlah hobi. Bukan pula profesi. Dalam kebudayaan di negara-negara maju dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, menulis sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Membuat buku bukan pula barang baru. Buku boleh jadi merupakan produk sampingan karena kebiasaan menulis setiap harinya. Nah, lho? Asyik bukan?

Saya ingin bikin blog supaya kemampuan menulis saya meningkat. Bagaimana, ya?

Luangkan waktu untuk membuat blog gratis yang bisa dibuat dengan WordPress, Tumblr atau Blogger. Bila sudah membuat blog, silakan memberikan alamat blog Anda di kolom komentar di bawah. Saya sukablogwalking berbagai blog; terutama bila berkaitan dengan tulis-menulis.

Baiklah menulis buku itu mudah. Tapi mengapa tidak banyak yang melakukannya?

Pertanyaan tersebut membuat saya tertegun sesaat. Mengapa, ya? Ya, mungkin karena banyak orang yang merasa takut menulis atau berpikir tidak mampu melakukannya. Bisa juga karena malas. Malah sepertinya lebih banyak yang memilih menonton acara televisi yang makin tak bermutu ketimbang meluangkan waktu untuk menulis buku.

Bagaimana, masih mau menulis buku dan meninggalkan kegiatan lain yang kurang produktif? Menulis itu menyenangkan asal dibikin enteng dan fun.

Saya ingin tanya-tanya lagi. Bolehkah?

Tentu saja boleh. Bila ada pertanyaan, cukup ketikkan pertanyaan di kolom komentar. Bila ada kesempatan dan kemampuan, saya akan menjawabnya.

Cuma sampai sini saja artikelnya?

Cukup sekian untuk sekarang. Nanti disambung di artikel lainnya. Terima kasih sudah membaca hingga selesai.

Iklan

2 Replies to “Bagaimana Cara Menulis Buku?”

  1. Halo Mas! Wah akhirnya aku sempat komen lagi (masih jadi pembaca setia lho). Aku rasa salah satu faktor mengapa sekarang orang jarang menulis adalah turunnya budaya ‘pause’ untuk berhenti sejenak :( setiap detik terhubung dengan whatsapp atau facebook. Apa yang ada di kepala biasa diungkapkan di twitter atau facebook tanpa direnungkan dulu. Hehehe..

    Suka

    1. Setuju. Jarang ada yang mau ‘pause’ sejenak untuk merenung dan berpikir. Semuanya ingin cepat dan instan dengan terhubung hampir 24 jam dengan pesan instan dan social media.

      Makasih mampir ke sini dan berikan komentar.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s