Ramping Pengantin

Saya tertawa dalam hati tatkala mendengar istilah ‘ramping pengantin’. Istilah itu memang sering terdengar tatkala sepasang pengantin hendak melangsungkan akad nikah.

Mengapa ramping pengantin?

Rupanya sudah menjadi rahasia umum. Banyak orang ketika hendak menikah lalu melakukan diet untuk menguruskan tubuh. Supaya lebih ramping daripada biasanya. Tentu dengan tujuan baju pengantin pas dipakai dan penampilannya menjadi lebih baik.

Tak hanya pengantin perempuan yang melakukan usaha merampingkan tubuh ketika hendak menikah. Kaum lelaki pun kini banyak yang ‘berolahraga’ supaya badannya terlihat lebih tegap dan enak dilihat. Minimal mengurangi bagian perut yang membuncit.

Hanya usaha menjadi ramping ketika acara pernikahan sepertinya menjadi perhatian khusus Kaum Hawa. Tak sedikit yang berhasil menjadi lebih ramping di hari istimewa ketika menjadi ‘ratu sehari’.

Mengapa harus ramping?

Tak perlu dibahas panjang lebar. Sudah jelas. Sudah menjadi konsensus masyarakat luas di banyak bangsa dan budaya bahwa pengantin yang ramping itu terlihat lebih cantik. Baju yang indah menjadi pas melekat di tubuh. Bahkan kalau kontur baju bisa mengikuti lekuk tubuh yang seksi, itu lebih diharapkan.

Ada memang segelintir budaya yang malah sebaliknya inginkan pengantin perempuannya tak hanya gemuk. Tapi menjadi sangat gemuk. Mungkin ada hubungannya dengan asumsi gemuk itu subur. Aneh bin ajaib.

Setelah hari pernikahan, masih tetap ramping?

Ini dia masalahnya. Bagi lelaki yang sudah menikah, menggemuk itu menjadi mudah karena kehidupannya lebih terurus. Minimal urusan pangan tercukupi oleh istrinya.

Sedangkan perempuan lebih mudah menjadi besar perut dan pingganggnya karena faktor setelah melahirkan. Pun karena banyak istri yang lebih sering habiskan waktunya di dapur.

Toh bisa jadi karena sudah menikah, keduanya lupa untuk menjaga kondisi tubuh mereka. Perut membuncit. Pinggang melebar. Bentuk badan sudah makin tak keruan ketika umur sudah bertambah.

Jadi sudah tak ramping lagi?

Benar. Ada banyak pasangan yang merasa bersalah karena bentuk tubuhnya tak sebagus ketika mereka melangsungkan pernikahan mereka. Terutama Kaum Hawa. Perempuan juga khawatir bila suaminya sudah tak lagi cinta karena tubuh mereka tak seramping dulu.

Ramping ketika awal menikah. Lalu tak lagi ramping ketika umur pernikahan sudah berjalan bertahun-tahun. Bahkan menjadi gemuk tak karuan.

Tapi masih bisa menjadi ramping lagi, bukan?

Tentu saja. Olahraga. Makan dengan menu yang teratur. Memiliki jam bekerja yang seimbang. Melakukan aktivitas berhubungan intim yang mesra untuk selalu menjaga romansa sekaligus membakar lemak bersama pasangan.

Jadi banyak orang yang idamkan ramping penganting?

Tentu saja. Lihat kanan kiri. Banyak juga pasangan yang tubuhnya tetap ramping meski sudah menikah belasan tahun.

Bukan, bukan pasangan yang karena kondisi keuangan terpuruk jadi tak bisa makan dengan cukup setiap harinya. Itu namanya kurus kelaparan. Bukan ramping pengantin.

Justru mereka yang sadar dengan kesehatan, memiliki kondisi ekonomi yang prima dan pandangan hidup positif memiliki tubuh yang ramping pengantin jauh lebih lama daripada pasangan-pasangan lainnya.

Mengapa pembahasan ramping pengantin ini sepertinya panjang dan cukup heboh?

Wajar saja karena orang selalu membicarakan tentang masa lalu. Saat ketika seseorang terlihat dalam masa puncaknya. Yaitu saat masih muda dan masa pernikahan awal. Titik di mana kehidupan manusia seyogyanya menjadi lebih baik. Siapa sih yang tidak ingin terlihat pada saat yang paling fit? Dan ramping menjadi salah satu acuan di masyarakat umum tentang faktor kesehatan yang optimal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s