Gerakan Boikot Produk

Memboikot produk tertentu karena alasan tertentu yang jelas merupakan tindakan yang sah dilakukan siapa saja.

Contohnya?

Semisal ada produk makanan kemasan yang kandungan kimianya ternyata membahayakan tubuh. Fatal bila dikonsumsi. Kemudian badan kesehatan mengungkapkan data dan fakta melalui media massa yang kredibel. Bahkan ada surat resmi penarikan produk tersebut dari pasar. Maka memboikot produk tersebut merupakan hal yang logis dan benar.

Ada verifikasi dari badan yang kredibel dan larangan untuk menggunakannya. Dua poin tersebut merupakan alasan yang tepat untuk boikot produk.

Ada contoh lain?

Pernahkah Anda memakan sup sirip ikan hiu? Konon menyehatkan tubuh. Sayangnya proses mendapatkan sirip ikan predator tersebut sangat keji. Nelayan menangkap ikan hiu, memotong siripnya dan kemudian membuang ikan tanpa sirip tersebut ke laut. Ikan malang tersebut akan tenggelam ke dasar laut dan mati tanpa alat geraknya yaitu sirip.

Dengan tidak memesan sup sirip ikan hiu jelas tidak mungkin menghentikan perburuan sirip ikan hiu. Namun paling tidak dapat mengurangi permintaan pasar untuk penyediaan sirip ikan hiu. Pada akhirnya akan menyelamatkan lebih banyak ikan hiu sehingga mereka tidak punah.

Pun dengan makanan ‘eksotis’ lainnya seperti telur penyu, ‘burung’ harimau dan tuna sirip biru.

Bagaimana dengan boikot produk negara tertentu?

Bisa saja. Produk dari negara tertentu bisa jadi berbahaya karena adanya epidemi. Semisal ketika ‘sapi gila’ melanda salah satu negeri di Eropa. Otomatis banyak negara lain menghentikan impor sapi dan olahan daging sapi dari negara tersebut supaya epidemi tersebut tidak melanda negara yang mengimpornya.

Kalau boikot karena alasan politis?

Bisa juga. Pernah mendengar tentang penduduk Tiongkok yang memboikot produk Jepang karena adanya pertikaian batas negara dan pembahasan tentang perang di masa lalu.

Apakah Indonesia pernah memboikot produk negara tertentu?

Sebagai sebuah negara sepertinya tidak seekstrim itu. Coba bayangkan implikasinya. Bila negara kita memboikot produk negara lain bisa jadi produk ekspor kita juga akan diboikot.

Bila ekonomi negara kita berada dalam posisi tawar yang kuat maka tak akan menjadi masalah. Nyatanya kondisi finansial sering loyo dan tak berdaya. Jangankan memboikot, negara kita malah sering kena embargo. Terutama embargo suku cadang peralatan tempur. Yang vital. Akibatnya bisa fatal bila ikut-ikutan asal boikot produk negara lain.

Tapi di surat kabar banyak berita tentang boikot produk di tanah air…

Sebagian masyarakat di tanah air memang cukup sering memboikot produk dari negara tertentu. Entah itu produk Negeri Paman Sam. Begitu juga dengan produk Israel. Dengan berbagai alasan yang berbeda-beda.

Jadi banyak rakyat Indonesia memboikot produk Negeri Paman Sam?

Sebenarnya lebih banyak yang koar-koar untuk boikot produk daripada yang dengan sungguh-sungguh tidak lagi gunakan produk-produk yang dimaksud.

Mengapa begitu?

Sudah ratusan kali banyak golongan masyarakat tertentu yang ingin memboikot produk Amerika. Sayangnya tingkat ketergantungan pada produk yang dimaksud sangat besar. Tak memakainya jelas sangat sulit.

Misalnya?

Komputer. Coba bayangkan kita hendak boikot produk komputasi Amerika. Lihat dulu komputer yang Anda pakai. Bila pun Anda memakai komputer buatan Taiwan, boleh jadi Anda masih menggunakan Windows sebagai sistem operasinya. Bahkan prosesornya pun dari Intel. Kemudian cobalah untuk tidak memakai mesin pencari Google dan tidak menggunakan layanan email Gmail. Susah, bukan?

Itu baru produk komputasi. Bagaimana dengan ponsel? Anda bisa tak menggunakan Apple atau Windows Phone. Tapi bukankah Android juga diciptakan oleh perusahaan Amerika?

Begitu pula dengan mobil, pesawat terbang, modem, obat-obatan dan berbagai macam makanan.

Bila Anda tak siap menerima konsekuensi meninggalkan produk-produk tersebut, tak perlu berkoar-koar untuk boikot. Kelihatan munafik bila Anda memboikot produk Amerika tetapi menyebarkan seruan boikot menggunakan Facebook dan Twitter. Nah, lho? Ironis dan munafik, bukan?

Jadi Anda tak mendukung gerakan boikot produk dengan alasan politis?

Bukan. Bukan begitu. Tak ada keinginan saya untuk mendukung atau membela. Silakan memboikot barang tertentu bila itu keinginan Anda. Itu hak Anda. Hanya seyogyanya Anda harus tahu apa yang Anda katakan harus sesuai dengan yang Anda lakukan.

Lucu bukan bila Anda menyerukan boikot produk Amerika melalui blog Anda di Blogger dari perangkat tablet Android sembari minum kopi di Starbucks. Dan Anda memakai sepatu Nike dan kaos Disney.

Bisa jadi Anda tidak akan dipandang sebagai pahlawan oleh teman dan rekan Anda. Malah menjadi bahan tertawaan karena perbuatan boikot yang latah.

Anda bilang tentang boikot yang latah?

Ya. Banyak orang yang latah karena ikut-ikutan boikot tanpa mengerti kausa utama dari pemboikotan tersebut.

Ketika ada teman yang memboikot suatu produk, Anda ikut berkomentar dan memboikot produk tersebut. Tak jarang malah menyebarluaskan ajakan boikot.

Yang sayangnya orang-orang yang Anda pengaruhi tidak tahu lagi alasan sebenarnya dari pemboikotan tersebut. Gerakan boikot menjadi pepesan kosong karena banyak orang yang memboikot tak tahu dengan benar apa alasan utama boikot tersebut. Hanya samar-samar saja. Kemudian lupa pada suatu hari. Dan tak lagi memboikot produk tersebut.

Pernahkah Anda melihat ajakan boikot produk tertentu di Internet? Mungkin ajakan tersebut meyakinkan. Tetapi bagaimana Anda bisa menvalidasi suatu ajakan benar-benar akurat.

Contohnya?

Baiklah. Ketika ada ajakan untuk boikot produk Amerika lalu ada yang mencantumkan BlackBerry sebagai produk Amerika. Padahal BlackBerry bermarkas dan asli produk Kanada. Tetangga Amerika yang berada di Utara Benua Amerika. Nah?

Silakan boikot produk tertentu setelah jelas bahwa faktanya benar. Tak hanya asal boikot saja.

Kalau kita boikot produk negara tertentu apakah bisa membuat bankrut negara tersebut?

Sayangnya tidak selalu begitu. Perusahaan multinasional memiliki mesin bisnis yang menggurita secara global. Produknya dijual di banyak negara. Boikot di satu atau beberapa negara saja hanya akan mengurangi pendapatan labanya di satu waktu saja.

Misalnya penduduk Indonesia bersama-sama memboikot Windows nyatanya efeknya kecil. Sebabnya banyak yang menggunakan sistem operasi bajakan ketimbang aslinya.

Bahkan boikot produk bisa jadi merugikan bangsa kita sendiri.

Tunggu. Maksudnya bagaimana? Ada contohnya?

Bila boikot produk mengganggu penjualan dan operasi bisnis suatu perusahaan di suatu negara bisa saja ada pemutusan hubungan kerja. Gunanya untuk mengurangi kerugian.

Coba hitung berapa banyak pegawai di rantai restoran waralaba yang kehilangan pekerjaan saat ada boikot produk ayam goreng Amerika?

Pun dengan buruh pabrik pakaian, sepatu dan tas. Dan ada efek domino karena ada ratusan suplai bahan mentah yang bangkrut. Ribuan petani di ujung lainnya pun kena imbas.

Bila tak menyadari implikasi sebuah gerakan boikot maka ada baiknya memahami kondisinya terlebih dahulu. Tidak asal boikot.

Dari tadi Anda sepertinya menyerang gerakan boikot?

Justru saya menganjurkan orang lain untuk melakukan boikot dengan alasan yang jelas, fakta yang kuat dan melakukannya dengan sungguh-sungguh setelah memutuskannya dengan matang.

Memangnya Anda pernah melakukan boikot?

Dulu saya suka dengan rasa gurih dari kentalnya sup sirip ikan hiu. Makanan pembuka yang lezat, unik dan memang jarang ada.

Namun setelah memahami kekejaman dari prosesnya dan kemungkinan punahnya ikan hiu, saya pun berhenti makan sup tersebut. Tak ada lagi keinginan rindu untuk memakan sup itu. Padahal jelas rasanya lezat dan baik bagi tubuh.

Sudah konsekuensi untuk melakukan apa yang sudah kita putuskan. Konsekuensinya adalah saya tak lagi memakan sup tersebut.

Adakah tindakan yang lebih baik dari sekedar asal memboikot produk?

Ada. Lebih baik bagi kita untuk mempromosikan produk-produk dalam negeri kita sendiri. Dengan begitu kita mencintai produk dalam negeri.

Efeknya akan positif karena usaha-usaha dalam negeri menjadi lebih maju. Bahkan bisa menjadi raja yang mendominasi pasar dalam negeri.

Untuk apa boikot ayam goreng Amerika bila akhirnya Anda makan hamburger di restoran Amerika lainnya?

Tapi jika Anda rajin mengajak teman, rekan dan keluarga untuk makan di restoran ayam goreng milik pengusaha Indonesia yang terkenal karena produk halalnya jelas akan menguntungkan bangsa kita sendiri.

Apalagi bila alih-alih memboikot produk luar negeri, Anda menjadi memulai gerakan membuat produk dalam negeri. Jelas lebih baik.

Melakukan penelitian untuk menciptakan teknologi mobil dalam negeri. Memproduksi produk farmasi untuk penyakit epidemi untuk warga negara Indonesia. Membuat alat transportasi sendiri seperti Habibie.

Kesimpulannya?

Gerakan boikot merupakan hak setiap orang. Tentu harus dilakukan dengan bijaksana dan konsekuensinya ditanggung dengan sungguh-sungguh.

Bahkan lebih baik mempromosikan produk dalam negeri dan membuatnya sendiri secara swadaya. Ketimbang membuang enerji untuk ikut-ikutan boikot produk secara latah dan tanpa alasan yang jelas.

Bagaimana kalau saya boikot blog ini dan tak lagi membacanya?

Anda memiliki pilihan bebas untuk mengunjungi blog ini. Pun untuk tak mendatanginya.

Bila Anda memiliki opini yang berbeda juga tak mengapa. Hak berpendapat itu dilindungi negara. Anda pun boleh mengutarakan opini, kesan atau komentar di kolom komentar di bawah ini.

Saya berpikir untuk tidak memboikot blog ini karena tulisannya lumayan renyah dan agak-agak berguna.

Ah, jadi malu saya. Terima kasih.

Silakan mengulik laman-laman dengan berbagai topik di blog ini. Jangan sungkan-sungkan. Bahkan lebih baik lagi kalau membaca-baca di sini sembari minum teh celup produksi negeri sendiri. Tak perlu pakai gula supaya terhindar dari diabetes.

Terima kasih sekali lagi karena sudah membaca postingan blog kali ini yang kepanjangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s