RUU Pilkada

Ricuh benar tanah air karena RUU Pilkada.

Dulu bupati dan gubernur bisa dipilih secara langsung. Bahkan ada juga pemilihan presiden secara langsung. Rakyat bisa memilih mana kepala daerah yang didukungnya. Tanpa harus diwakilkan oleh wakil rakyat yang duduk di DPR. Demokrasi berjalan dengan baik. Tak melulu sempurna karena namanya juga proses. Namun berada di jalur yang tepat.

Sangat disayangkan ternyata mayoritas wakil rakyat yang didominasi oleh salah satu koalisi yang calon presidennya gagal menang kini gagal paham dengan arti demokrasi.

Dengan berbagai alasan yang sulit diterima akal sehat, proses demokrasi dimundurkan. Bila RUU Pilkada sah maka rakyat tak lagi bisa memilih langsung kepala daerah. Bahkan ada wacana bahwa kedepannya pilpres akan dipilih melalui keputusan wakil rakyat.

Aneh tapi nyata. Kepentingan politik ternyata membutakan sekian banyak wakil rakyat yang sangat tergantung nasib dan keputusannya dengan kepentingan partai dan koalisinya. Lupa bahwa setiap kali dilantik, setiap wakil rakyat harus bersumpah dengan kitab suci masing-masing untuk mensejahterakan rakyat. Bukan partai atau dirinya sendiri.

Namun perjuangan belum usai. RUU Pilkada harus dibatalkan. Demi masa depan banga dan negara yang lebih baik.

Iklan Luar Ruang yang Makin Liar

Ya ampun! Hanya itu ekspresi yang muncul di benak saya tatkala melihat iklan luar ruang yang makin banyak menghiasi Kota Yogyakarta. Tak hanya makin banyak. Namun secara ukuran juga makin lebar. Lengkap dengan tiang besi yang kokoh berdiri di pinggir jalan. Bila malam hari, lampu sorot yang terang-benderang pun menyinari isi iklan luar ruang tersebut. Iklan makin jelas terlihat meski dari jarak jauh sekalipun.

Tak peduli saya dengan isi iklan atau siapa yang membeli ruang iklan tersebut. Permintaan pasar memang besar untuk beriklan yang disambut gembira oleh pengusaha iklan luar ruang. Ya, billboard yang betul-betul berukuran raksasa. Yang salah bukan yang sedang iklan. Tapi jelas bahwa pengelola iklan luar ruang dan pemerintah daerah yang harus betul-betul menimbang ulang regulasi dan keindahan tata-kota.

Iklan luar ruang memang memberikan pendapatan daerah yang besar. Setara dengan perkembangan ekonomi kota yang masih semi-tradisional ini. Namun seyogyanya sadar bahwa iklan-iklan itu seperti suara sumbang dan cemplang di tengah-tengah alunan harmoni antara modernitas dengan nilai-nilai budaya.

Coba saja ambil potret perempatan besar atau jalan utama di Yogyakarta. Sulit untuk mendapatkan wajah kota yang bopeng karena baliho iklan yang menyembul dan menjadi latar-belakang di mana-mana. Jijik saya dengan iklan-iklan yang berebut perhatian para pemakai jalan. Sungguh jijik!

Selfie Menantang Bahaya

Manusia itu jenisnya macam-macam. Banyak juga yang menyukai selfie – memotret diri sendiri. Seperti manusia pada umumnya, ada yang menginginkan selfie yang lain dari biasanya. Tujuannya supaya lebih menonjol ketimbang yang lain-lainnya. Sekedar bikin wow.

Selfie tentu saja boleh. Bila dilakukan dengan akal sehat. Mengapa tidak? Hanya saja selalu saja ada sebagian orang yang ingin menantang bahaya tanpa pikir panjang. Salah satunya adalah mereka yang selfie di tempat-tempat yang berbahaya. Seperti apa?

Semisal membuat selfie di atas gedung bertingkat. Bergelantungan di jembatan yang kalau jatuh kemungkinan hidupnya kecil. Memotret diri sendiri dengan latar belakang tebing bebatuan yang teramat tinggi. Mungkin juga selfie di hutan rimba yang jelas-jelas ada binatang buasnya.

Ada yang berhasil membuat selfie menantang bahaya tersebut. Merasa bangga lalu mengunggahnya di sosial media. Tujuannya tentu ingin dikagumi oleh rekan-rekannya dan banyak orang lainnya. Pikirnya selfie menantang bahaya tersebut pastilah keren karena tidak banyak yang punya nyali sebesar dirinya. Padahal beda antara punya nyali dan memiliki akal sehat itu tipis. Jelas ada bedanya.

Hebatnya lagi ada juga yang melihat selfie berbahaya tadi dan merasa tertantang. Lalu ikut-ikutan selfie dengan pose yang sama atau jauh lebih berbahaya lagi. Namanya juga ‘lagi panas’, akal sehat biasanya otomatis raib. Yang ada hanya nyali atau memang nekat.

Makin banyak yang meniru, makin banyak pula yang melakukan selfie menantang bahaya. Akibatnya bisa diperkirakan. Seseorang atau lebih akan meregang nyawa atau minimal mengalami kecelakaan karena aksi selfie yang berlebihan. Alih-alih menantang bahaya dan menghasilkan foto selfie yang wow, eh, justru menjadi selfie maut. Tak terhindarkan. Nyawa taruhannya.

Coba lihat di berbagai berita, kadang-kadang ada pemberitaan tentang remaja tanggung yang tewas saat melakukan aksi selfie menantang maut. Foto selfie tak didapat justru maut menjemput. Apa boleh buat?

Namun tak mengapa. Biarlah mereka yang tak punya akal sehat merenggang nyawa. Benar kata pepatah, orang yang meninggal di usia senja itu orang yang setidaknya lebih bijaksana ketimbang mereka yang mati lebih muda. Mereka bisa hidup lebih lama bukan karena tak punya nyali. Mereka berhak menikmati kehidupan yang lebih panjang karena mereka memiliki akal sehat. Salah satu faktor penting sehingga hidup lebih lama.

Selfie menantang bahaya itu jelas berbahaya. Untuk apa foto yang bikin wow tetapi nyawa taruhannya. Selfie boleh-boleh saja asalkan tetap memelihara yang namanya akal sehat.

Petahana

Apakah Anda tahu padanan kata untuk Petahana?

Bila sudah tahu, salut untuk Anda. Jujur sebelum hari ini saya tidak ngeh istilah tersebut. Setelah mengecek Wikipedia baru mendapat secuil pencerahan.

Bagi yang belum tahu, “incumbent” merupakan padanan untuk istilah Petahana.

Sesederhana itu artinya.

Trem di Surabaya dan di Yogyakarta

Ada rasa optimis saat membaca tentang Risma dan Johan yang sepakat untuk membangun kembali infrastruktur transportasi publik berbentuk trem di Surabaya. Asalkan tidak ada lawan politik yang suka melakukan sabotase, sepertinya rencana pembangunan trem tersebut akan berhasil diselesaikan sesuai rencana.

Jarang terjadi ada pejabat pemerintah kota dan pejabat BUMN yang bisa bersinergi membangun infrastruktur. Lebih banyak kita mendengar persaingan kepentingan yang berujung pada kegagalan rencana pembangunan. Bahkan sebelum proyek dimulai, dananya sudah habis ‘dinikmati’ para oknum pemerintah dan rekanan proyeknya. Nah, lho?

Rencana trem tersebut patut diacungi jempol karena trem merupakan bentuk transportasi yang sukses menurunkan kemacetan lalu-lintas. Trem mampu mengangkut banyak penumpang. Bahkan trem menjadi lambang keberhasilan pembangunan infrastruktur suatu kota. Coba tengok kota-kota metropolitan, mereka memiliki sistem trem yang bisa dibanggakan.

Tak hanya Surabaya, kota-kota lainnya pun seharusnya juga harus mulai membangun jalur-jalur trem sebagai solusi transportasi publik.

Bila ditilik dari sejarah tempo dulu, trem pernah lalu-lalang melayani masyarakat di jaman pendudukan Belanda. Sayangnya banyak jalur trem yang dirusak oleh Jepang. Bahkan betul-betul dihilangkan oleh pemerintahan di awal-awal jaman kemerdekaan.

Namun jalur-jalur tersebut tak sepenuhnya hilang. Masih ada bekasnya. Asalkan ada kesungguhan tentu trem-trem tersebut dapat dihidupkan kembali.

Syaratnya memang berat. Dana pembangunan yang besar. Kerjasama dengan banyak instansi pemerintahan. Sosialisasi yang masif. Bahkan juga kesadaran masyarakat untuk beralih ke moda trem ketimbang memakai transportasi pribadi saat trem sudah beroperasi.

Lalu bagaimana dengan Yogyakarta? Apakah trem sesuai dengan kontur kota ini?

Pernah ada wacana pembangunan trem di kota Yogyakarta. Sayangnya tidak ada tindak lanjut. Justru lebih banyak kendaraan roda empat dan roda dua yang tambah banyak jumlahnya. Parkir sembarangan di berbagai sudut kota. Trem tinggal menjadi wacana. Sepertinya malah lebih menarik membangun mall dan apartemen.

Padahal trem bisa menjadi solusi kota Yogyakarta terhadap dua permasalahan. Pertama adalah kemacetan yang sudah bikin pusing kepala. Kedua yaitu transportasi yang menjadi objek wisata tambahan.

Trem memang tidak mampu melayani wilayah yang sangat luas seperti halnya busway atau mass rapid transport. Trem memang ditujukan untuk transportasi tengah kota atau downtown. Sementara kemacetan kerap terjadi di tengah kota karena pusat aktivitas berada di tengah kota. Dengan adanya trem, kemacetan mampu digantikan dengan trem yang hilir mudik mengantarkan penumpang.

Trem juga menjadi objek yang menarik. Semisal trem yang ada di kota San Francisco dan Hakodate. Trem yang usianya sudah tua tersebut tetap dirawat dengan baik dan digunakan warga untuk bepergian sehari-hari. Namun banyak juga turis yang ingin menaikinya karena trem berhenti di tempat-tempat atraksi wisata.

Melihat topografi dan peta Kota Yogyakarta, sepertinya tak susah membangun sistem trem. Tanahnya landai dan jalanan teratur berbentuk grid karena dulunya bekas bentangan kotak-kotak lahan sawah. Dengan Keraton dan bentengnya sebagai pusat kota, trem bisa menghubungkan bagian kota sebelah Barat dengan Timur; menyatukan bagian kota sebelah Utara dengan Selatan. Trem bisa ditemukan dengan transportasi pengumpan atau feeder yang melayani empat kabupaten di sekitar Kota Yogyakarta.

Trem hanyalah salah satu bentuk moda transportasi masal. Biaya pembangunannya tak semahal bentuk transportasi yang lain karena bisa memakai jalan biasa untuk meletakkan relnya. Tak harus menggali bawah tanah atau membangun rel layang. Trem tak juga harus tampil kuno. Trem jenis baru bahkan tampak lebih modern ketimbang kereta api biasa.

Trem merupakan transportasi publik yang sesuai untuk di masa lalu. Pun masih cocok untuk menjadi moda transportasi masa sekarang dan masa depan.

Bagaimana dengan Anda, apakah trem sesuai untuk dioperasikan di kota Anda?

BBM Langka di Negeri Kaya Minyak

Aneh bin ajaib. Ladang minyak di mana-mana di banyak penjuru Nusantara. Namun BBM bisa menjadi persoalan yang krusial. 
 
Bahkan ada yang menyebutnya Darurat BBM. Tragedi BBM juga bisa. Bencana BBM? Mungkin. 
 
Ada beberapa alasan, yang masuk akal atau tidak sama sekali, mengapa BBM bisa sulit didapat. Yang jelas perihal tidak lancarnya pasokan BBM membuat pembangunan tersendat dan melambat.