Trem di Surabaya dan di Yogyakarta

Ada rasa optimis saat membaca tentang Risma dan Johan yang sepakat untuk membangun kembali infrastruktur transportasi publik berbentuk trem di Surabaya. Asalkan tidak ada lawan politik yang suka melakukan sabotase, sepertinya rencana pembangunan trem tersebut akan berhasil diselesaikan sesuai rencana.

Jarang terjadi ada pejabat pemerintah kota dan pejabat BUMN yang bisa bersinergi membangun infrastruktur. Lebih banyak kita mendengar persaingan kepentingan yang berujung pada kegagalan rencana pembangunan. Bahkan sebelum proyek dimulai, dananya sudah habis ‘dinikmati’ para oknum pemerintah dan rekanan proyeknya. Nah, lho?

Rencana trem tersebut patut diacungi jempol karena trem merupakan bentuk transportasi yang sukses menurunkan kemacetan lalu-lintas. Trem mampu mengangkut banyak penumpang. Bahkan trem menjadi lambang keberhasilan pembangunan infrastruktur suatu kota. Coba tengok kota-kota metropolitan, mereka memiliki sistem trem yang bisa dibanggakan.

Tak hanya Surabaya, kota-kota lainnya pun seharusnya juga harus mulai membangun jalur-jalur trem sebagai solusi transportasi publik.

Bila ditilik dari sejarah tempo dulu, trem pernah lalu-lalang melayani masyarakat di jaman pendudukan Belanda. Sayangnya banyak jalur trem yang dirusak oleh Jepang. Bahkan betul-betul dihilangkan oleh pemerintahan di awal-awal jaman kemerdekaan.

Namun jalur-jalur tersebut tak sepenuhnya hilang. Masih ada bekasnya. Asalkan ada kesungguhan tentu trem-trem tersebut dapat dihidupkan kembali.

Syaratnya memang berat. Dana pembangunan yang besar. Kerjasama dengan banyak instansi pemerintahan. Sosialisasi yang masif. Bahkan juga kesadaran masyarakat untuk beralih ke moda trem ketimbang memakai transportasi pribadi saat trem sudah beroperasi.

Lalu bagaimana dengan Yogyakarta? Apakah trem sesuai dengan kontur kota ini?

Pernah ada wacana pembangunan trem di kota Yogyakarta. Sayangnya tidak ada tindak lanjut. Justru lebih banyak kendaraan roda empat dan roda dua yang tambah banyak jumlahnya. Parkir sembarangan di berbagai sudut kota. Trem tinggal menjadi wacana. Sepertinya malah lebih menarik membangun mall dan apartemen.

Padahal trem bisa menjadi solusi kota Yogyakarta terhadap dua permasalahan. Pertama adalah kemacetan yang sudah bikin pusing kepala. Kedua yaitu transportasi yang menjadi objek wisata tambahan.

Trem memang tidak mampu melayani wilayah yang sangat luas seperti halnya busway atau mass rapid transport. Trem memang ditujukan untuk transportasi tengah kota atau downtown. Sementara kemacetan kerap terjadi di tengah kota karena pusat aktivitas berada di tengah kota. Dengan adanya trem, kemacetan mampu digantikan dengan trem yang hilir mudik mengantarkan penumpang.

Trem juga menjadi objek yang menarik. Semisal trem yang ada di kota San Francisco dan Hakodate. Trem yang usianya sudah tua tersebut tetap dirawat dengan baik dan digunakan warga untuk bepergian sehari-hari. Namun banyak juga turis yang ingin menaikinya karena trem berhenti di tempat-tempat atraksi wisata.

Melihat topografi dan peta Kota Yogyakarta, sepertinya tak susah membangun sistem trem. Tanahnya landai dan jalanan teratur berbentuk grid karena dulunya bekas bentangan kotak-kotak lahan sawah. Dengan Keraton dan bentengnya sebagai pusat kota, trem bisa menghubungkan bagian kota sebelah Barat dengan Timur; menyatukan bagian kota sebelah Utara dengan Selatan. Trem bisa ditemukan dengan transportasi pengumpan atau feeder yang melayani empat kabupaten di sekitar Kota Yogyakarta.

Trem hanyalah salah satu bentuk moda transportasi masal. Biaya pembangunannya tak semahal bentuk transportasi yang lain karena bisa memakai jalan biasa untuk meletakkan relnya. Tak harus menggali bawah tanah atau membangun rel layang. Trem tak juga harus tampil kuno. Trem jenis baru bahkan tampak lebih modern ketimbang kereta api biasa.

Trem merupakan transportasi publik yang sesuai untuk di masa lalu. Pun masih cocok untuk menjadi moda transportasi masa sekarang dan masa depan.

Bagaimana dengan Anda, apakah trem sesuai untuk dioperasikan di kota Anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s